Hasanudin Abdurakhman: Islam untuk Indonesia

9 Agustus 2017

Books

Keponakan saya, perempuan, datang ke rumah kami untuk menemani anak-anak saya selama kami pergi haji. Dalam perjalanan dari bandara dia bertanya, apakah anak laki-laki saya sudah akil baligh. Saya jawab iya. 

Di rumah kami, ketika anak laki-laki saya yang sudah baligh itu tidak ada, keponakan saya tadi tidak memakai jilbab. Saya satu-satunya laki-laki dewasa di rumah kami adalah mahram bagi keponakan saya, maka ia tak perlu memakai jilbab di depan saya.

Ketika anak laki-laki saya pulang, keponakan saya memakai jilbab. Dalam syariat Islam, sepupu bukanlah mahram. Antar sepupu boleh menikah. Maka wajib bagi seorang perempuan untuk menutup aurat di depan sepupunya.

Anak perempuan saya juga begitu. Ia segera berganti baju, memakai jilbab kalau sepupu laki-lakinya datang.

Ini adalah produk kompromi antara syariat Islam tafsir baru dengan budaya nusantara. Soal tafsir baru akan saya jelaskan nanti. Saya akan jelaskan soal komprominya terlebih dahulu.

Bercampurnya laki-laki dan perempuan dalam rumah atau tempat-tempat lain adalah kebiasaan orang Indonesia atau nusantara. Orang-orang Melayu di Singapura, Malaysia, Brunai, dan Pattani juga begitu. Kita biasa berbaur bersama, tidak terpisah.

Orang Arab tidak begitu. Waktu saya berkunjung ke rumah teman saya di Madinah, begitu masuk rumah, saya diajak ke ruang tamu khusus untuk laki-laki. Istri saya masuk ke ruang lain, ditemani istri tuan rumah, beserta anak-anak peremouannya. Saya bersama tuan rumah dan anak laki-lakinya.

Istri saya sedikit kagok ketika istri tuan rumah memintanya melepas kerudung. Perempuan Indonesia biasa memakai kerudung yang permanen, tidak dibuka saat pergi ke rumah orang. Kerudung hanya dibuka saat di rumah sendiri.

Bagi orang Arab, kerudung itu adalah baju luar rumah. Tiba di tempat tujuan, mereka akan membukanya, dan memakai baju “biasa” di antara sesama perempuan. Istri teman saya tadi merasa aneh melihat istri saya masih pakai jilbab di rumahnya.

Nah, kita tidak punya budaya separasi atau pemisahan seperti itu. Maka, komprominya seperti cerita keponakan saya tadi.

Separasi ini mulai diperkenalkan oleh kelompok-kelompok penganut paham skriptualis, yaitu orang-orang yang ingin menerapkan ajaran Islam sesuai yang tertulis di teks-teks suci, yaitu Quran dan hadis. Mereka antara lain adalah orang-orang Wahabi, salaf, Tarbiyah (PKS), dan Hizbut Tahrir. Kalau menyelenggarakan acara seperti pernikahan, mereka memisahkan antara hadirin yang laki-laki dan perempuan.

Bagi kita ini hal baru, bukan? Ya. Bahkan jilbab yang banyak dipakai oleh muslimah sekarang adalah sesuatu yang baru di Indonesia. Sebelum tahun 80-an, bahkan istri-istri para ulama tidak berjilbab. Coba lihat foto istri KH Wahid Hasyim, misalnya. Beliau hanya berkebaya, tidak berjilbab. Hanya memakai selendang untuk menutupi sebagian kepalanya. Tidak rapat menutup seluruh bagian kepala seperti jilbab. Istri Buya Hamka pun begitu.

Gelombang pemakaian jilbab seperti sekarang ini terjadi di tahun 80-an. Dugaan saya ini terpengaruh oleh revolusi Islam Iran. Sebelum revolusi itu orang-orang Iran berpakaian seperti orang-orang lain di seluruh dunia. Ketika pemerintah diambil alih oleh kelompok islamis, maka suasana berubah. Perempuan diwajibkan memakai jilbab.

Masa ini adalah masa ketika TV mulai hadir di rumah-rumah kita. Yang terjadi di Iran saat itu dapat disaksikan di layar kaca di rumah-rumah kita. Ini membawa kesadaran baru untuk menerapkan hal yang sama.

Kenapa dulu para ulama kita tidak mewajibkan jilbab? Kenapa kita tidak menganut budaya separasi? Inilah perbedaan antara orang-orang skriptualis dengan ulama terdahulu kita. Orang-orang slriptualis memandang aspek-aspek budaya seperti pakaian dan pola interaksi harian adalah bagian utuh dari syariat yang diajarkan Nabi. Maka ia harus diterapkan secara utuh. Kalau di Arab begini, maka begini pula yang harus diterapkan di tempat lain di seluruh muka bumi.

Adapun ulama kita, mereka tidak demikian. Bagi mereka, pakaian itu produk budaya. Mereka memilah kebiasaan-kebiasaan yang dianjurkan Nabi, antara nilai moral dan nilai bidaya. Mereka mengambil nilai moralnya, meninggalkan aspek budaya Arab, dan mempertahankan aspek budaya setempat. Itulah Islam yang kita kenal selama berabad-abad dilaksanakan oleh kaum muslim Indonesia.

Suasana itu sedang diubah oleh kaum skriptualis saat ini.

Meski jibab diterima sebagai nilai baru oleh kaum muslim Indonesia, tidak serta merta seluruh aspek kehidupan menjadi persis seperti di Arab. Yang terjadi adalah kompromi-kompromi seperti yang saya jelaskan di atas.

Jilbab itu sendiri mengalami kompromi yang besar, beradaptasi dengan kebiasaan yang sudah lama ada. Maka kita bisa lihat, bentuk jilbab orang Indonesia (juga Malaysia dan lain-lain) berbeda dengan yang dipakai perempuan Arab. Perempuan kita bisa memakai celana panjang, bajunya berwarna-warni, ketat, dan sebagainya. Pendek kata, jilbab di Indonesia, meski tadinya mewakili semangat skriptualis, telah “dipreteli”, mengalami modiifikasi agar sesuai dengan kebiasaan orang sini.

Hal-hal semacam ini saya bahas lebih detil dalam buku saya yang akan segera terbit. Judulnya “Islam untuk Indonesia“. Salah satu makna frasa judul itu adalah, Islam yang dianut di Indonesia adalah Islam yang sudah mengalami banyak modifikas, mengikuti budaya nusantara.

Nantikan bukunya, siap PO minggu depan.

catatan Kang Hasan

5 artikel terakhir di blog annunaki

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

</p]

Iklan

Komentar ditutup.