Riwayat Gedung Sate Bandung

14 Agustus 2016

Bandung

Riwayat Gedung Sate Bandung – Ternyata bukan hanya di Washington DC saja yang memiliki ikon White House melainkan di kota Bandung juga ada ialah Gedung Sate yang berwarna putih, kokoh dan anggun.

Gedung Sate di jalan Diponegoro (Wilhelmina Boulevard) sekarang ini merupakan gedung pemerintahan Jawa Barat sekaligus kantor Gubernur.

Sebutan nama Gedung Sate karena adanya simbol mirip tusuk sate di puncak bangunannya. Bukan tanpa alasan ada simbol tusuk sate di puncak Gedung Sate.

Tusuk sate dan enam ornamen berbentuk mirip bunga melati di puncak Gedung Sate. Tusuk Sate ini merupakan lambang dari biaya pembangunan dimana pemerintahan Hindia-Belanda Biaya yang telah dihabiskan enam juta Gulden. Kalau di kurs dalam nilai Rupiah sekarang ini sekitar 500 milyar Rupiah.

BACA JUGA: Sejarah Masjid Agung Bandung

Gedung Sate berdiri di atas lahan seluas sekitar 27 ribu meter persegi, luas bangunannya lebih dari 10 ribu meter persegi. Desain Gedung Sate merupakan karya arsitek Ir. J. Berger arsitek muda lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland.

Gedung Sate adalah suatu karya arsitektur besar, yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis. Maka tidaklah mustahil bila keanggunan Candi Borobudur ikut mewarnai Gedung Sate.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 27 Juli 1920 oleh Johana Catherine Coops, putri sulung Wali Kota Bandung saat itu.

Tujuan didirikannya gedung itu adalah sebagai pusat pemerintahan. Ketika itu pemerintahan Hindia-Belanda menetapkan Kota Bandung sebagai ibu kota pemerintahan. Tempo doeloe nama gedung ini lebih dikenal dengan nama GB atau GeBe singkatan dari Gouvernments Bedrijven.

Pemilihan Kota Bandung didasarkan pada pertimbangan iklim yang cocok. Maklum Kota Bandung begitu sejuknya ditambah pemandangan alam yang indah. Konon, iklim Kota Bandung saat itu senyaman iklim Prancis Selatan di Musim panas.

Pembangunan Gedung Sate melibatkan sekitar 2.000 pekerja. Dimana 150 orang diantaranya pemahat atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu yang didatangkan khusus dari Kanton – Tiongkok. Selebihnya adalah tukang batu, kuli aduk, dan peladen yang merupakan pekerja bangunan setempat.

Hingga kini Gedung Sate berdiri gagah di Jalan Diponegoro sekaligus jadi simbol yang identik dengan Kota Bandung. Bahkan seorang arsitek Belanda; D. Ruhl dalam bukunya ‘Bandoeng en haar Hoogvlakte 1952’, menilai bahwa Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia.

Sedangkan seorang arsitek kenamaan Belanda Dr. H.P. Berlage (1923) menilai Gedung Sate merupakan sebuah karya besar (een groots werk)

Riwayat Gedung Sate Bandung

Riwayat Gedung Sate Bandung

5 artikel terakhir di blog annunaki

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.