Sejarah Berdirinya Kota Bandung

26 September 2015

Bandung

Sejarah Berdirinya Kota Bandung – Jalan Asia-Afrika sekarang ini dahulunya lebih dikenal dengan nama Groote Postweg (Jalan Raya Pos). Jalan ini membentang sepanjang 1.000 km melintasi Pulau Jawa, yang pembangunannya menelan nyawa 30.000 budak (pribumi).

Bayangkan saja, kalau diambil rata-rata, berarti setiap 1 km jalan tersebut telah memakan korban sebanyak 30 nyawa orang pribumi. Walaupun demikian prestasi Jenderal Herman William Daendels sangat luar biasa, karena berkat disiplin dan tangan besinya, ia berhasil membangun jalan sepanjang 1.000 km dalam jangka waktu hanya setahun. Jalan ini dibangun tanpa bantuan mesin, hanya dikerjakan oleh tenaga manusia.

Daendels menentukan Bandung menjadi titik nol kilometer. Kenapa demikian? Pada hari peresmian Jalan Groote Postweg tanggal 25 September 1810, Daendels bersama Wiranatakusumah II, yang menjabat sebagai Bupati Bandung saat itu, sedang berjalan ke arah timur.

Lalu pada suatu titik, Daendels menancapkan tongkatnya dan berkata “Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd”, yang kurang lebih artinya “Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun sebuah kota”. Ia mungkin tidak menyadari kata-katanya itu akan terbukti benar, karena titik di mana ia menghunjamkan tongkatnya ke tanah telah menjadi titik nol kilometer Kota Bandung. Perisitiwa ini dijadikan sebagai hari jadi Kota Bandung.

Sejarah Berdirinya Kota Bandung

Sejak saat itu Daendels sendiri tidak pernah melihat Kota Bandung lagi, karena masa jabatannya di Indonesia berakhir awal tahun 1811. Seperti diketahui, Bandung, pada awal tahun 1800-an, belum menjadi sebuah wilayah dengan peradaban maju seperti Batavia atau Cirebon. Jadi tidaklah salah apabila Kota Bandung ini bisa berdiri menjadi satu kota karena adanya gagasan Daendels.

Pada tahun 1884, penduduknya saja baru tercatat kurang lebih 11.054 jiwa. Namun kini tercatat sudah mencapai 2,8 juta jiwa yang tinggal di Kota Bandung. Tugu titik nol kilometer Kota Bandung lokasinya berada di Jalan Asia – Afrika Kota Bandung, tepatnya di depan Kantor Dinas Bina Marga, dengan ciri khas stoomwalls jadul.

ASAL NAMA KOTA BANDUNG

Berdasarkan filosofi Sunda, kata “Bandung” berasal dari kalimat “Nga-Bandung-an Banda Indung”, yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. Nga-”Bandung”-an artinya menyaksikan atau bersaksi.

Baca juga: Sejarah Masjid Agung Bandung

“Banda” adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. “Indung” adalah Bumi, disebut juga sebagai “Ibu Pertiwi” tempat “Banda” berada. Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup sebagai “Banda”. Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah “Banda Indung”, yaitu bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi

LAMBANG KOTA BANDUNG

lambang kota bandung

 

 

Lambang Kota Bandung diciptakan pada tahun 1953. Pada lambang tersebut terdapat gambar Gunung Tangkuban Perahu. Bentuk gambar gelombang mengingatkan bahwa dulu Bandung adalah sebuah danau yang luas. Pada pita tertera tulisan dalam bahasa Kawi “Gemah Ripah Wibawa Mukti”, yang artinya Tanah Subur Rakyat Makmur.

Kota Bandung pernah menyandang berbagai predikat seperti:

  • Paradise in Exile (1750)
  • Bandoeng Exelcior (1856)
  • The Sleeping Beauty (1884)
  • De Bloem der Indische Bergsteden (1896)
  • Parijs van Java (1920)
  • Ther Garden of Allah (1921)
  • Intellectuele Centrum van Indie (1921)
  • Staatskundig Centrum van Indie (1923)
  • Europe in de Troppen (1930)
  • Kota Pensiunan (1936)
  • Kota Permai (1950)
  • Kota Konferensi Asia-Afrika (1955)

5 artikel terakhir di blog annunaki

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Sejarah Berdirinya Kota Bandung

Iklan

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.