Mengenang Bioskop Tempo Doeloe

17 September 2015

Inspirational

Iklan bioskop pertama di Nusantara dimuat di koran Bintang Betawi pada tanggal 30 November 1900, isinya kira-kira demikian:

memberi tahoe bahoewa lagi sedikit hari nanti kasi liat tontonan amat bagoes jaitoe gambar-gambar idoep!

Biokop pertama kali diputar di Paris pada tanggal 28 Desember 1895. Sedang kedatangan bioskop di Indonesia mendahului Italia (1905) maupun Korea (1903)!

BACA JUGA: Sejarah Bioskop di Bandung

Bioskop dahulu namanya ROEMAH KOMEDI. Pada awalnya di tenda. Setelah itu gedung bioskop dibagi dalam tiga kelas. Kelas pertama yang memiliki gedung permanen. Kelas dua adalah gedung tanpa dinding mirip bangsal jadi hanya ada atapnya saja. Bioskop seperti ini lebih dikenal dengan nama Park atau Feesterrein (Pistren) yaitu semacam Taman Hiburan Rakyat. Yang ketiga ialah taman biasa saja tanpa tenda maupun gedung yang lebih dikenal dengan nama MISBAR, karena berada dialam terbuka. Jadi kalau hujan griMIS turun maka buBAR pulalah pertujukannya.

Bioskop dahulu dibagi dalam empat kelas: balkon, loge, stales, dan kelas kambing. Apabila gedung bioskop tersebut memiliki balkon atau ruangan di tingkat atas, maka dipastikan ada kelas balkon. Sedangkan kelas lainnya adalah loge = kelas 1, stales = kelas 2, dan kelas kambing = kelas 3.

Bioskop pada masa kolonial sangat diskriminatif. Sampai awal Abad XX hanya warga Eropa dan Indo Eropa yang boleh menonton di loge dan balkon, untuk stales; kelas dua golongan Tionghoa dan India, sedangkan untuk kelas tiga diperuntukkan bagi kaum pribumi. Harga karcis bioskop untuk Kelas Balkon Rp 5,- untuk kelas 1 Rp 4,25,- Kelas 2 Rp 2,70,- Kelas 3 Rp 1,10,-

Kursi penonton dibagi dalam tiga kelas. Kelas I (Balkon) hanya untuk orang Eropa, Kelas II (Loge) untuk Tionghoa dan India sedangkan Kelas III (Stales) untuk pribumi. Jadi masih benar-benar rasial sekali pada saat itu. Bahkan pernah timbul pula ide gendheng dimana penonton akan dibagi antara Pria dan Wanita. Harga Karcis Kelas 1 = 2 Gulden, Kelas 2 = 1 Gulden dan Kelas 3 = 50 Sen.

Pada awalnya di Alun-alun Bandoeng ada dua tenda bioskop. Pertujukan perdananya pada hari Sabtu tanggal 1 Desember 1907. Setahun berikutnya mulai dibangun gedung bioskop permanen seperti Elita, Varia dan Oriental. Pada tahun 1936 diseluruh Hindia Belanda sudah ada 225 gedung bioskop dimana 9 diantaranya di Bandung.

Film Indonesia pertama yang berjudul Loetoeng Kasaroeng diputar tanggal 31 Desember 1926 (film bisu). Sedangkan film bicara Indonesia pertama adalah Nyai Dasima (1929)

Pada tahun 1950 dibentuklah PERFINI (Perusahaan Film Nasional). Produksi Perfini yang pertama adalah film Darah dan Doa yang disutradarai oleh Usmar Ismail sang Bapak Film Indonesia. Film berikutnya LEWAT DJAM MALAM merupakan film terbaik di tahun 1954.

Sekarang semua bioskop hampir dikuasai oleh Bioskop XXI (21).  Nama XXI diserap dari rasio layar yang digunakan yaitu 21:9 (Panjang:Lebar)

Tapi apa bedanya Cinema 21 dan Cinema XXI? Cinema 21 untuk golongan kelas menengah sedangkan Cinema XXI untuk papan atas dengan bangku yg super empuk dan Sound System yang jauh lebih baik. Disamping itu mendukung film 3D.

Mengenang Bioskop Tempo Doeloe

Mengenang Bioskop Tempo Doeloe

5 artikel terakhir di blog annunaki

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.