Justus Karl Hasskarl, Sang Pencuri Kina!

16 September 2015

Figur Inspiratif

Jarang orang yang mengenal namanya Dr. Justus Karl Hasskarl (1811 – 1894). Padahal jasanya setara dengan Junghuhn sang Bapak Kina Indonesia. Ia lahir di Kassel – Jerman). Pada tahun 1836 berangkat ke Indonesia untuk menerima jabatan sebagai botanikus di Buitenzorg (Kebun Raya – Bogor).

Pada awalnya Junghuhn mendapatkan amanat dari Menteri Koloni Belanda Ch. F. Pahud untuk mencari bibit kina secara langsung di Amerika Selatan. Namum karena kesehatannya tidak mengijinkan ia melimpahkan tugas ini ke Dr. Hasskarl.

Kina ditemukan secara kebetulan oleh seorang Indian tua yang menderita sakit deman. Karena kehausan ia meneguk air kolam yang merendam kulit dari pohon Kina. Akhirnya ia sembuh. Sejak itulah orang-orang suku Indian menggunakan rendaman kulit Kina sebagai obat penyembuh. Obat ini dinamakan Cinchoa. Nama dari Raja Muda Peru.

Dr. Justus Karl Hasskarl

Dr. Justus Karl Hasskarl

Pencarian bibit Kina ini menjadi semakin sulit, karena ketertutupan suku Indian yang merahasiakannya. Mereka menjaga rahasia ini dengan ketat agar tidak ada orang yang bisa mencuri bibit Kina.

Pada tanggal 14 Desember 1852 Tim rombongan Dr. Hasskarl yang menyamar sebagai imigran menuju ke Peru (Amerika Selatan). Pada saat itu pemerintah Peru merencanakan untuk pembukaan koloni hunian di wilayan timur Peru. Hal ini memberikan kebebasan bergerak bagi rombongan Dr. Hasskarl. Maklum pada saat itu orang kulit putih termasuk Persona Non Grata alias Not Welcome!

Setahun lamanya mereka menjelajahi hutan rimba yang ganas, hanya untuk mencari bibit Kina yang mereka sangat dambakan. Dari hasil pergaulannya dengan penduduk asli suku Indian. Mereka berhasil mengorek Rahasia tentang pohon Kina. Namum untuk mendapatkan Secret info ini tidaklah mudah. Agar bisa masuk sebagai Under Cover dari keluarga Indian. Salah satu anggota dari tim Dr. Hasskarl harus mengawini putri kepala suku Indian. Hal ini ia lakukan bukan Demi Cinta melainkan Demi Kina!

Dengan cara berliku-liku dan lewat tangan terpercaya akhirnya Dr. Hasskarl berhasil mencuri dan mengirimkan beberapa lusin bibit kina ke Belanda. Bibit tersebut disemai olehnya untuk dijadikan bibit unggulan.

Akhirnya pada bulan Agustus 1854; mereka bisa mengirimkan ratusan bibitan tananaman yang sangat berharga ini ke atas geladak kapal Perang “Prins Frederijk Hendrik” yang khusus dikirim ke Nusantara. Sepanjang perjalanan menyebrangi Lautan Pasifik yang berbulan-bulan lamanya.

Dr. Hasskarl harus menjaga pertumbuhan tanaman Kina ini. Ia menjaga dan merawat dengan penuh kecintaan, seperti layaknya seorang ibu terhadap bayi semata wayangnya. Rombongan pun tiba mendarat di Makasar.

Mengingat betapa pentingnya tanaman kina ini. Maka perjalanan berikutnya dari Makasar ke Batavia dilakukan dengan menggunakan kapal “Merian Gedeh”. Tiba di sana Sisa tanaman yang masih hidup hanya tinggal 70 batang pohon saja.

Dari 70 tanaman tersebut; ternyata hanya SATU Pohon saja yang bisa tumbuh menjadi besar. Setelah berusia 14 tahun. Tinggi pohon mencapai 4,5 m dan telah dapat menghasikan kulit kina sebanyak 10 kg.

Pada saat Dr. F. W. Junghuhn mengambil alih tugas dari Dr. Hasskarl pada bulan Juni 1856 ternyata baru ada 167 pohon kina saja. Atas ketekunan dalam jangka waktu 6,5 tahun Junghugn bisa mengembangkan menjadi 1,3 juta pohon lainnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Junghuhn orang yang paling berhasil membudidayakan tanaman Kina di Indonesia. Namun keberhasilannya ini karena diawali oleh Dr. Hasskarl, sang pencuri kina!

Sang Maling yang berjasa ini patut mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Kemanusiaan. Karena jasa-jasa merekalah sehingga akhirnya berjuta-juta umat manusia yang teserang penyakit Malaria bisa disembuhkan. Dari sinilah kita sangat berhutang budi kepada mereka.

Sayangnya pemerintah tidak bisa menghargai jasa mereka. Apakah karena ia orang Belanda sehingga kita tidak mau mengakui jasa mereka?

Boro-boro mo mengakui jasanya; Kuburan Junghuhn di Jayagiri Lembang saja sudah tidak ada yang merawat! Maklum tidak ada DANA. Berapa besar sih biaya untuk merawat SATU kuburan saja? Menyedihkan tapi nyata !

makam junghuhn

Makan Junghuhn yg terlantar di Lembang

Pada tahun 1856 Dr. Hasskarl terpaksa harus pulang ke Belanda, karena kesehatannya. Ia meninggal pada tanggal 5 Januari 1894 dalam usia 83 tahun di kota Kleve – Jerman. Mengingat jasanya dan untuk menghormati Dr. Hasskarl salah satu tumbuhan berbunga jenis kastubaan diberi nama HASSKARLIA.

Apabila lain kali anda mempunyai kesempatan jalan-jalan ke Bandung; cobalah sekali-sekali berkunjung melihat tugu dan makam dari Franz Junghuhn di Jayagiri Lembang. Untung di dekat pasar Lembang masih ada satu gang kecil yang diberi nama Junghuhn untuk mengingat jasanya..

Petualangan dari pencurian kina Dr. Hasskarl telah dibukukan dalam bahasa Jerman dengan judul Der Raub der Kinabaumes (Pencurian Pohon Kina).

monumen junghuhn

monumen junghuhn

5 artikel terakhir di blog annunaki

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.