Sejarah Bioskop di Bandung

2 September 2015

Bandung

Sejarah Bioskop di Bandung – Siapa yang tidak kenal bioskop? pasti banyak pembaca yang mempunyai pengalaman maupun sweet memory mengenai bioskop. Bahkan, saat pacaran pun lokasi bioskop memiliki peranan penting. Maklum, di bioskop kita bisa duduk berduaan di tempat remang remang dengan nyaman 😀

gambar toong

gambar toong

sejarah bioskop di Bandung mungkin saja diawali dari Gambar To’ong. ini mirip dengan apa disebut bioskop. Gambar Toong yang populer pada era tahun 1930-an, adalah gambar yang di-toong. Kata to’ong berasal dari kata no’ong yang berarti “melihat melalui lubang”.

Setelah ada anak yang no’ong, mulailah gambar pertama ditarik dari ruang atas ke ruang bawah, lalu si emang-emang itu memainkan organ butut untuk beberapa saat. Sebenarnya, bukan memainkan, tapi hanya menarik dan mendorong saja sehingga bunyinya cuma: nguk-ngék … nguk-ngék, … nguk-nguk-ngék.

Gambar Toong juga dikenal dengan nama Tunil atau Bioskop Betot. Gambar-gambar yang diperlihatkan hanyalah sekadar gambar biasa yang tidak hidup.

Indonesia mengenal bioskop sejak tahun 1895, mendahului Italia yang baru mengenalnya di tahun 1905. Dahulu film bioskop lebih dikenal dengan nama Gambar Hidoep. Oranje Electro Bioscope dan De Crown adalah bioskop yang pertama kali ada di Bandung, tepatnya di alun-alun, pada tahun 1902.

Saat itu belum ada gedung permanen buat dua bioskop tersebut, dan masih menggunakan tenda semi permanen dengan alas lantai berupa tikar. Film yang diputar pun masih film bisu dengan iringan orgel yang dimainkan secara live. Kemudian di tahun 1908, dengan dibangunnya gedung bioskop Elita, merupakan gedung bioskop permanen yang pertama ada di Bandung. Di atas gedung bioskop Elita dahulu ada patung burung Garuda, tetapi setelah itu hilang dan namanyadiganti jadi Puspita

Kemudian, di Kebonjati ada bioskop Luxor. Awalnya berdiri sebagai Preanger Theatre, kemudian berturut-turut berubah menjadi Orion, Luxor, dan Nirmala hingga bubar pada tahun 1980-an. Luxor terkenal di Bandung karena merupakan bioskop pertama yang memutar film bicara “Rainbow Man”, pada 15 Februari 1930. Film 3D yang pertama kali saya lihat juga di Luxor pada tahun 1954, di mana setiap penonton diberi kacamata merah dan biru.

Di samping Gedung Merdeka terdapat Gedung New Majestic yang dulunya merupakan bioskop Concordia di tahun 1925 awal. Gedung ini dinamakan Concordia karena berada di sebelah Gedung Societet Concordia (sekarang Gedung Merdeka).

Ketika zaman kolonial, bioskop ini merupakan bioskop elite dengan aturan “Verbodden voor Honder en Inlander” yang artinya “dilarang masuk bagi anjing dan pribumi”. Jadi bioskop ini khusus hanya bagi Toean & Mevrouw Belanda saja. Bioskop ini sering juga disebut dengan Metro House karena banyak memutar film-film keluaran MGM (Metro Goldwyn Meyer). Di situ pula ditayangkan film mengenai penobatan Ratu Elisabeth II yang telah menjadi box office sehingga penontonnya berjibun.

Masing-masing bioskop memiliki ciri khas, misalnya di Capitol (Oranye) yang terletak di Tjikakak Groote Postweg (Jalan Jenderal Sudirman), sering diputar film-film Tiongkok, sedangkan di Siliwangi film-film India, dan di bioskop Regol film-film Indonesia.

Film-film animasi yang saat itu sangat digemari adalah: Bambi, Peter Pan, Cinderella maupun Snow White. Film action yang disukai seperti: Robin Hood, Ivanhoe, Tarzan, Crimson Pirate dan lain-lain; film love story antara lain: April Love, Roman Holiday; film music: Love Me Tender, April in Paris; dan film komedi yang laris-manis: Jerry Lewis, Bob Hope, Danny Kaye, Abott & Costelo.

Selain itu, ada juga film-film kolosal seperti Quo Vadis, Ben Hur, Samson & Delilah; film koboi: Gunfight at the O.K. Corral, The Gunfighter, The Fastest Gun Alive; serta film religi: The Miracle of Our Lady of Fatima yang banyak ditonton saat itu.

ada tiga pengelola utama perbioskopan di Bandung, yaitu F.A. Busse, J.F.W. de Kort, dan Thio Tjoan Tek. Yang paling menonjol dari ketiganya adalah F.A. Busse yang memiliki perusahaan jaringan dengan nama Elita Concern. Di bawah pengelolaannya adalah bioskop-bioskop Elita, Varia, Oriental (Alun-alun), Luxor/Luxorpark & Roxy (Kebonjati), Majestic, Rex, Oranje/ Oranjepark (Cikakak), Kosambi/Rivoli, Liberty (Cicadas), dan Rio (Cimahi).

J.F.W. de Kort mengelola bioskop-bioskop Radio City, Regol, Bison (Sukajadi), Taman Senang (Pagarsih), Warga (Cihaurgeulis), dan Taman Hiburan Rivoli, Liberty (Cicadas), dan Rio (Cimahi). Sedangkan Thio Tjoan Tek mengelola bioskop Siliwangi (Astana Anyar).

Bioskop di luar nama-nama di atas adalah Radio City (Dian) di Alun-alun Selatan, Hawaii (Cibadak), Taman Sahati (Tegalega), Djamika Taman Riang (Belakang Pasar) dan Braga Sky.

Panti Karya Bandung

Gd. Panti Karya di jalan merdeka, yg pernah menjadi bioskop. lantai satunya masih digunakan untuk Dunkin Donat dan KFC. image credit: serbabandung.com

5 artikel terakhir di blog annunaki

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Sejarah Bioskop di Bandung

Iklan

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.