Bandung Kota Pelacur

31 Agustus 2015

Bandung

Yogya Kota Pelajar, Bandung Kota Pelacur! Tentu pak Ridwan Kamil (Walikota) tidak akan setuju dengan judul tersebut diatas, karena Kota Bandung bukanlah kota Pelacur melainkan Kota Kembang, tetapi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia – Kembang (latar) = Pelacur! Kata-kata Ungkluk, Gongli (Bagong Lieur), Bondon, Ublag ataupun Perek (PERempuan Eskperimen) asal muasalnya ya dari Bandung.

saritemKata Kembang dalam bahasa Sunda berarti Bunga. Julukan Bandung dikenal sebagai kota Kembang (Pelacur) sudah dikenal sejak jaman VOC, sehingga para pejabat tinggi VOC menasehati para istri Belanda bawahannya agar jangan mengijinkan suaminya pergi ke Bandung sendirian!

pada suatu hari diadakan Kongres Perkebunan Gula di bandung tahun 1896. Agar bisa memberikan pelayanan yang istimewa bagi para peserta yg rata-rata orang kaya pemilik perkebunan, panitia khusus mendatangkan gadis-gadis molek dari perkebunan. Gadis-gadis ini diberi istilah “De Bloem der indische bergstede” atau Kembang Pegunungan. dari sinilah cikal bakalnya nama Bandung sebagai Kota Kembang…

Sejak dibukanya jalur kereta api (Batavia – Bandoeng – Soerabaja) pada tahun 1884, pelacuran mulai marak di daerah sekitar stasiun; Kebon Tangkil, Sukamanah dan Saritem. Pelacur yang mangkal disitu adalah pelacur kelas teri, sedangkan pelacur Elit dimana banyak noni-noni Indonya mangkal di Gg Coorde (Jl. Kejaksaan); disamping jalan Braga pusatnya dimana para Meneer Belanda berduit nongkrong.

Sejarah Saritem
Salah satu markas militer Belanda di Bandung berada di Jl. Gardujati yang berdekatan dengan Saritem. Salah satu tentara Belanda – Pieter, pada saat itu jatuh cinta kepada seorang gadis yang bernama Sari. Walaupun hitam kulitnya, tetapi wajahnya geulis hal inilah yang mendorong dia untuk menikahi Sari yang akhirnya lebih dikenal dengan nama Sari-item. Ia dibelikan rumah dekat markasnya. Hal ini membuat rekan-rekan serdadu lainnya iri dan juga ingin memiliki istri seperti neng Saritem. Di rumahnya Saritem inilah mereka mulai mengumpulkan dan mencarikan gadis-gadis lainnya untuk dijadikan gundik para tentara Belanda.

Jumlah Pelacur di Saritem pada saat ini berkisar di atas 629 orang yang dibagi di 52 rumah. Satu rumah di isi oleh 6 – 9 gadis. Mereka di datangkan dari daerah Indramayu, Kuningan dan sekitarnya. Para gadis di Saritem melayani antara tiga sampai lima tamu per malam dengan tarif Rp 150 ribu sampai Rp 500 ribu tergantung sikon tubuhnya sang gadis, tetapi hanya 50% saja dari income yang diterima oleh para gadis tersebut; sisanya dibagi antara calo dan Mami (Germo).

Uangnya mereka titipkan kepada sang Mami dan hanya diambil sebulan sekali untuk dikirimkan ke sanak keluarga mereka di kampung. Apabila pelacur tersebut tidak bisa mencapai target Rp 500 ribu per malam selama tiga hari berturut-turut, mereka akan di usir dari lokasi, karena dianggap sudah tidak payu lagi!

Lokasi pelacuran lainnya ada di Kebon Kelapa yang dikelola oleh Nyi Dampi yang sebelumnya jadi Mami; ia adalah primadonanya disitu. Lokasi ini sudah ada sejak 1890, sedangkan lokasi bordil lainnya adalah Gg Aleng, tetapi lokasi ini telah di tutup. Untuk menghilangkan konotasi negatif, nama Gg Aleng telah diganti menjadi Jl. Panjunan. Hanya Saritem saja yang hingga kini tetap bertahan, walaupun sudah dibentengi dengan Mesjid sekalipun, tetapi tetap saja tegar tidak bisa merobohkan Saritem.

5 artikel terakhir di blog annunaki

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.