Sejarah Kebun Binatang Bandung

30 Agustus 2015

Bandung

Hampir semua anak-anak tempo doeloe pernah berkujung ke derenten (bahasa Sunda = Kebon Binatang), diserap dari bahasa Belanda DIERENTUIN. Maklum pada saat itu belum ada tempat berbelanja seperti mal. Nama derenten ini lebih dikenal oleh kalangan orang tua dulu, sedangkan kalangan generasi muda sekarang mungkin sudah tidak mengenalnya lagi.

kebun-binatang-bandung

image credit: bandung-guide.com

Pada jaman baheula, apabila ada orang menikah, mereka melakukan prosesi arak-arakan naik delman ke derenten untuk berfoto ria di sana. Begitu juga pada saat lebaran atau hari raya Idul Fitri. Biaya karcis masuk ke derenten pada saat itu adalah lima ketip (50 sen) untuk dewasa dan setalen (25 sen) untuk anak-anak. merupakan satu kegembiraan tersendiri bagi anak-anak Bandung ketika itu jika diajak ke derenten!

Ketika itu tempat perlindungan satwa seluas 14 hektar ini masih sangat asri. Pepohonan tidak hanya tumbuh di areal kebun binatang, namun juga di luar lokasi, sehingga udaranya masih segar dan sangat cocok untuk rekreasi dan piknik keluarga.

Aktivitas BOTRAM atau makan bersama di bawah pohon-pohon yang rindang sambil melepas lelah usai berkeliling melihat aneka satwa benar-benar mengasyikkan. Di tengah derenten ada kandang macan, singa dan juga kandang gajah.

Untuk sebagian orang Sunda, pasti tahu apa artinya botram. Istilah botram kemungkinan besar berasal dari kata Bahasa Belanda “boterham” yang berarti “irisan roti isi mentega dan ham”. Orang-orang Sunda melihat para tuan dan noni Belanda sedang piknik di luar makan boterham dan akhirnya kata ‘boterham’ berubah menjadi “botram” yang memiliki arti “makan bersama di luar rumah sambil menggelar tikar”.

Awalnya, derenten ini merupakan sebuah taman botani di Kota Bandung yang disebut Jubileumpark (sekarang Tamansari), terletak di sepanjang bagian barat Huygensweg (sekarang Jalan Tamansari). Taman ini diresmikan pada 1923 untuk memperingati Jubileum Ratu Wilhelmina dari Belanda, sehingga diberi nama Jubileumpark.

Pada tahun 1933, bagian selatan Jubileumpark dijadikan kebun binatang, sehingga fungsinya berubah menjadi taman kebun binatang. Kebun binatang yang dibangun pada 1933 ini merupakan penggabungan dua kebun binatang dari Cimindi dan Dago Atas yang dirancang oleh arsitek asal Belanda, Dr. W. Treffers. Derenten ini dahulu dikelola oleh Bandungse Zoological Park (BZP).

Pada masa pendudukan Jepang dan selama perang revolusi, derenten telantar. Namun pada 1948, derenten kemudian direhabilitasi. Pada tahun 1956, BZP sebagai pengelola derenten kemudian dibubarkan dan sebagai gantinya didirikan Yayasan Margasatwa Tamansari. Pada saat itu derenten masih memiliki lebih dari 6.000 satwa. Sekarang hanya tersisa 1.188 satwa saja.

Meneer Holland dan para aktivis Bandungse Zoological Park (BZP) yang hidup pada tahun 1930-an mungkin tidak pernah mengira jika taman botani di sekitar Huygensweg (Tamansari) yang mereka pilih untuk Kebun Binatang Bandung akan bernasib seperti sekarang, terkepung oleh banyak bangunan.

Salah satu hutan kota yang masih tersisa dan salah satu tempat rekreasi murah bagi warga Kota Kembang ini entah sampai kapan bisa bertahan dari desakan permukiman, perkantoran dan tempat usaha. Belum lagi ancaman polusi udara Kota Bandung yang kian mengkhawatirkan, dan masalah klasik yakni kebutuhan dana yang tidak sedikit.

Bahkan, seperti dilansir harian Kompas (28/9/08), jika pihak pengelola tidak bisa memenuhi standar animal welfare hingga tiga tahun ke depan, maka kebun binatang kebanggaan warga Bandung ini terancam akan ditutup. Beberapa waktu lalu saya juga pernah membaca sejumlah kabar di media massa tentang adanya usulan pemindahan “derenten” ini. Di antaranya ke Jatinangor, Sumedang dan ke Cikole, Lembang.

Namun hingga saat ini belum jelas keputusan akhirnya. Yang pasti, andaikan Kebun Binatang Bandung (KBB) ini jadi dipindah, maka jangan sampai areal terbuka hijau di Tamansari ini berubah fungsi menjadi pusat bisnis, mal, ataupun areal permukiman, seperti yg terjadi di saja kawasan Ciumbuleuit, Cijengkol, Punclut, Dago, Cigadung saat ini. Alih fungsi lahan di sana sungguh memprihatinkan!

5 artikel terakhir di blog annunaki

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Iklan

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.