Laba-Laba dan Jaring Kesayangannya

29 Desember 2011

Books

Laba-Laba dan Jaring Kesayangannya

Elwyn Brooks White

Laba-Laba dan Jaring Kesayangannya | Elwyn Brooks White

Wilbur adalah seekor babi yang terlahir sangat kecil. Ia hendak dibunuh pemiliknya karena tak laku dijual. Tetapi ia berhasil diselamatkan Fern, gadis kecil pendiam yang memahami bahasa binatang. Jalan takdir membawa Wilbur tinggal di sebuah lumbung besar, berteman dengan seekor laba-laba cantik bernama Charlotte.

Sebagai babi periang, Wilbur tiba-tiba galau saat mendengar nasib yang akan menimpanya: disembelih pada perayaan Natal. Charlotte berusaha menyelamatkan Wilbur dari kematian. Dengan benang-benang sutranya, ia memintal tulisan “Babi Hebat” di tengah-tengah jaringnya. Petani dan masyarakat sekitar dibuat geger. Mereka menganggap Wilbur babi yang dianugerahi mukjizat. Wilbur mendadak terkenal, Charlotte sama sekali tak dikenal. Tetapi karena cinta, Charlotte merasa bahagia ketika melihat sahabatnya bahagia.

Dalam kisah yang lucu sekaligus mengharukan ini, Elwyn Brooks White mengingatkan kita untuk menyadari betapa pentingnya persahabatan, kesetiaan, dan cinta tanpa pamrih, demi memberikan makna pada singkatnya masa kehidupan.

TESTIMONI DARI PEMBACA DI INDONESIA:

“Cerita yang inspiratif, menyenangkan, haru dan lucu, juga penuh cinta yang tulus. Saya mendapat banyak pelajaran dari salah satu sudut dunia: kandang binatang. Sejuntai tali pertemanan yang tulus memberikan banyak arti pada hidup ini. Hidup yang singkat, apabila tidak melakukan sesuatu yang bermakna, pasti akan terasa hampa dan membosankan. Temanlah yang memberi hidup ini warna. Hidup yang ‘tiada’ menjadi ‘ada’, lalu kembali ‘tiada’, dan memori tentang kebaikan akan terkenang abadi.”
—Sinta Ridwan, penulis buku bestseller Berteman dengan Kematian

“Kisahnya begitu elok dan banyak memberikan inspirasi. Bukan hanya layak dibaca dan dinikmati, namun juga layak untuk dijadikan bahan permenungan.”
—Damar Shashangka, penulis novel bestseller Sabda Palon

“Persahabatan antara Charlotte dan Wilbur menempati lorong tersendiri dalam memori saya. Tak pernah terlupakan setelah membacanya. Dengan mata batin, saya masih bisa melihat Wilbur berkonsultasi kepada Charlotte. Ada sesuatu yang luar biasa di sini.”
—Leonardo Rimba, penulis buku bestseller Membuka Mata Ketiga

“Selamat datang di dunia fabel yang melibatkan manusia sebagai latar realitas. Cerita tentang persahabatan dan kesetiaan yang sungguh mengharukan. Dengan bahasa yang komunikatif, penulisnya pintar memanfaatkan karakter binatang untuk membangun plot dan ketegangan, juga mengagumkan pengetahuannya tentang hayati. Saya terpukau dari awal hingga akhir oleh kisah yang menorehkan kesan mendalam ini.”
—Kurnia Effendi, penulis buku bestseller The Four Fingered Pianist

“Teman adalah harta yang berharga, ketulusan adalah memberi dan hanya memberi. Semua ada di novel ini. Bacaan keluarga yang membuat saya mengendapkan rasa. Begitu menyentuh!”
—Kirana Kejora, penulis novel bestseller Bintang Anak Tuhan

“Anda akan merenung mengenai arti mukjizat dalam hidup Anda. Anda akan terkenang dengan sahabat-sahabat Anda, mereka yang pernah hadir dalam hidup Anda, membawakan mukjizat-mukjizat kecil yang tak pernah Anda sadari hadirnya. Buku ini akan memberi Anda kehangatan dan membuat Anda ingin mendekap erat para sahabat dan berbisik kepada mereka.”
—Ken Budha, penulis novel Shangri-La

“Buku itu seperti kawan; yang baik memperkaya batin, yang buruk merusak angan-angan. Buku bersahaja yang memikat ini serupa kawan yang mencerahkan hati dan mengingatkan kita akan kekuatan cinta dalam kehidupan yang tak sempurna.”
—Anton Kurnia, penulis buku Ensiklopedia Sastra Dunia

“Tak banyak dongeng anak dengan tokoh binatang yang mampu memikat seseorang bahkan sampai ia tumbuh dewasa. White seolah-olah menyusun sebentuk ‘fiksi hibrida’ dengan seting dunia anak dan orang dewasa sekaligus. White menjadi penulis yang istimewa karena ia bisa mengatasi ‘kutukan’ yang sering dialami penulis dongeng anak dan remaja: menulis kisah yang dijejali khotbah tentang moral. White membebaskan diri dari ‘kutukan’ itu melalui kisah dengan muatan imajinasi dan metafora yang dahsyat, sehingga pesan moralnya menyusup diam-diam dan tertanam kuat dalam kesadaran kita.”
—Tri Wibowo B.S., penulis novel Gunung Makrifat

“Awalnya aku menganggap buku ini tak lebih dari sebuah fabel. Aku pun membacakannya kepada anakku menjelang tidur. Ternyata yang kudapatkan lebih dari itu. Ini bukan fabel biasa, tetapi sebuah kisah menarik yang memancarkan kesadaran spiritual kepada pembacanya. Dari beragam buku yang bermuatan moralitas dan spiritualitas, buku ini lebih mudah diserap dan diingat daripada yang lainnya.”
—Mataharitimoer, penulis novel Jihad Terlarang

“Selepas membaca buku ini, saya melupakan Descartes dan mengangguk kepada pendapat Sartre: Saya ada, lalu saya berpikir. Dan dalam pikiran-pikiran yang lahir itu, saya malah terperangkap seperti seekor serangga di jaring laba-laba dan meronta. Dalam perontaan itu, saya merenung tentang etre en soi (ada dalam dirinya sendiri) atau etre pour soi (ada untuk dirinya sendiri).”
—Pringadi Abdi Surya, penulis fiksi Dongeng Afrizal

“Alur ceritanya ringan, namun tanpa terasa Anda akan tertarik begitu jauh, dan tahu-tahu Anda akan mendesah atau bahkan menangis. Inilah sebuah buku yang mengajak Anda untuk merenungkan kembali makna hidup, cinta, dan persahabatan.”
—Ayu Arman, penulis buku Kala Perempuan Diuji

“Luar biasa! Sebuah kisah yang dikemas dengan sangat mengagumkan tentang petualangan seekor babi, seorang anak manusia, dan hewan lainnya yang menegangkan sekaligus menghibur. Unsur persahabatan sangat kental dan meninggalkan bekas yang mendalam bagi pembacanya. Kita akan merasa bahagia ketika menatap mata seekor babi yang menjadi begitu lucu dalam pandangan kita sekarang.”
—Bamby Cahyadi, penulis fiksi Tangan untuk Utik

“Novel ini memukau saya tak habis-habisnya dalam setiap babnya. Saat membacanya, saya bahkan tidak menyadari apakah saya ini manusia, laba-laba, babi, atau bahkan tikus. Sang penulis mampu menyuguhkan pesan-pesan universal melalui para binatang.”
—Khrisna Pabichara, penulis fiksi Mengawini Ibu

“Kisah persahabatan antara gadis kecil, babi, dan laba-laba yang menggugah. Kekuatan cerita ini justru karena kebersahajaannya. Di samping seting desa peternakan yang eksotis, juga pada kemampuan penulis memberikan ruh pada tokoh binatangnya, terutama babi, tikus, dan laba-laba, dengan dialog yang menggelitik dan cerdas.”
—Zabidi Zay Lawanglangit, penulis buku Tirakat

“Inilah cerita sepanjang masa yang memberikan gambaran tentang arti persahabatan dan solidaritas. Bila hewan dapat melakukan hal-hal mulia, manusia pun dapat melakukan hal-hal yang sepatutnya dilakukan pada sesamanya. Sebuah cerita yang patut dibaca siapa saja.”
—Shinta Miranda, penulis buku Constance

“Novel ini membuat saya sangat terharu dan hampir meledak dalam tangisan. Sisi kanak-kanak saya yang sederhana dan menyenangkan serasa tersentuh kembali. Mukjizat itu ada, meski tak seperti yang kita sangka.”
—Dina Begum, penerjemah profesional

“Membaca kisah ini seperti membaca perjalanan panjang. Mulai dari ia ada, tumbuh, dan besar. Banyak makna yang saya jumpai. Bukan saja soal kesetiaan, melainkan juga tenggang rasa dan bagaimana menyelesaikan masalah. Dituturkan dengan cara sederhana tapi begitu detail. Banyak kejadian kecil yang menarik dan menggetarkan, sehingga tak terasa saya selesai membacanya.”
—Reni Erina, Managing Editor Story Teenlit Magazine

“Saya begitu terserap oleh cerita ini sejak membaca halaman pertamanya. Saya tahu bahwa saya tidak akan melepas buku ini sebelum tamat.”
—Endah Sulwesi, editor cerita di Mizan Production

“Novel yang sarat dengan nilai namun disajikan dengan bahasa yang sangat ringan dan menghibur. Penyajian yang sempurna dari potret keseharian. Walaupun berlatar budaya Amerika, novel ini berhasil mengusung nilai moral universal.”
—Utami Utar, dosen Universitas Pakuan Bogor

“Selama beberapa hari saya selalu menangis jika mengingat kisah ini. Terharu oleh kesetiaan Charlotte pada sahabatnya.”
—Andrea Wisye Christina, Sales Consultant Harcourts Property

“Ibarat simfoni sebagai santapan rohani untuk menghaluskan jiwa, novel ini sungguh merupakan fiksi yang menyajikan harmoni dalam kehidupan. Karya besar ini amat penting dibaca oleh musisi seperti saya. Terlebih lagi para seniman muda. Kisah kejujuran dan keikhlasan dengan segenap kesederhanaannya, yang tersaji dalam fiksi ini, merupakan bekal utama bagi seorang seniman.”
—Shadu Shah Chaidar, musisi jazz muda di Trio Bob James dan Jazz Syndicate

“Saya sungguh terkesan dengan cara cerdik Charlotte tatkala menyelamatkan nyawa Wilbur. Lucu sekaligus mengharukan. Novel ini memberikan pelajaran pada kita tentang tulusnya persahabatan. Tata penyampaian ceritanya pun bagus dan memantik imajinasi.”
—Webri Veliana, Management Trainee PT Merpati Nusantara Airlines

“Saya seperti terjebak dalam sebuah wadah. Ini bukan hewan, ini kita sendiri dan lingkungannya. Sangat baik untuk mengawal perkembangan mental anak-anak untuk terhindar dari lingkungan mereka yang banal.”
—Aang Arif Amrullah, kiai NU jalanan

“Novel yang luar biasa! Enak dibaca dan penuh nilai moral. Gagasan penting Elwyn Brooks White terutama terletak pada kritiknya atas kehidupan dunia saat ini yang telah kehilangan cinta dan kasih sayang sejati. Kisah sederhana tentang babi kecil dan laba-laba ini patut dibaca siapa pun, karena amat menggugah sisi kesadaran dari kehidupan yang dalam, yang sering kali dilirik sebelah mata, kalau bukan dianggap sebagai nilai usang.”
—Erha Limanov, Direktur Rumah Kata Bogor

“Betapa terkesima saya setelah membaca novel ini. Betapa tidak? Saya ini polisi yang sehari-hari terlibat aktif di tengah masyarakat dan novel ini amat membuka mata saya; White mampu memotret situasi sosial dengan amat jernih seperti berbagai penyakit sosial yang sehari-hari saya hadapi, terutama disebabkan oleh makin melunturnya kesadaran dan ikatan sosial seperti kejujuran, keluhuran budi, empati, dan kesantunan. Sebuah fiksi yang mulia. Wajib dibaca oleh teman-teman saya yang polisi.”
—Ifan Musyarif, AIPDA, seorang polisi di Bogor Utara

“Cerita yang indah sekaligus membuat haru. Ketulusan Charlotte kepada Wilbur memberikan pesan bahwa kasih adalah sikap ikhlas yang lepas dan kerendahan hati adalah kunci utamanya.”
—Diasty Viandari, pekerja seni di Yogyakarta

“Sangat menarik, lucu, dan menghibur. Saya turut merasakan sedang berada dalam cerita tersebut. Kadang mengejutkan, kadang tertawa geli, karena tingkah lucu para binatang di sana. Seru sekali! Pesan yang disampaikan juga sangat mendalam, tentang bagaimana seharusnya mencintai dan berkorban.”
—Meity Fadila, asisten notaris

“Ringan tapi dalam, novel ini mengajarkan banyak hal. Ada pertemuan, persahabatan, kesetiaan, dan balas budi. Yang paling dominan adalah kasih sayang tanpa pamrih, membuat saya merasa hangat saat membacanya.”
—Sherika, perupa di Bandung

 

——————————————————————————
Judul Asli: Charlotte’s Web
Penerjemah: Dina Begum
Penyunting: Salahuddien Gz
Pemindai Aksara: Muhammmad Bagus SM
Penggambar Sampul: Yudi Rawan
ISBN: 978-979-17998-0-5
Harga: Rp 40.000,- (240 hlm. Bookpaper)
Penerbit: Dolphin
Email: bunda_laksmi@yahoo.com
——————————————————————————

Buku ini bisa dipesan sekarang juga dengan diskon 25% (jadinya Rp 30 ribu, belum termasuk ongkos kirim) melalui akun :  “Salahuddien Gz”. Kirim alamat pengiriman ke INBOK FB Salahuddien Gz atau melalui email: bunda_laksmi@yahoo.com. Buku akan dikirim melalui Pos/Tiki dengan garansi. Pembayaran melalui transfer ke rekening:

BCA KCP Lamongan
No. Rekening: 3300473023
a.n. Shalahuddin Gz

Atau:

MANDIRI Cabang Fatmawati
No. Rekening: 127-00-0443912-9
a.n. Shalahuddin Salahuddien Gz

Iklan

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.