Lee Kuan Yew: Dari Gardu Ke Negara Kelas Satu!

18 Juli 2011

Books, Figur Inspiratif

Lee Kuan Yew: From Third World To First

Negeri pulau seluas 640 km2 itu sangat minim sumber daya alam. Namun dengan visi dan kerja keras akhirnya berkembang menjadi salah satu negeri paling makmur di dunia. Pendapatan per kapita tumbuh dari AS $ 400 pada 1959 menjadi AS $ 12.200 ketika Lee Kuan Yew mundur dari jabatan perdana menteri pada 1990.

Lee Kuan Yew mengawali kepemimpinan sebagai perdana menteri negara bagian Singapura yang merupakan bagian dari Federasi Malaysia pada 1959, dalam usia 36 tahun. Ketika Singapura memisahkan diri dari Malaysia, 9 Agustus 1965, usianya baru 42 tahun (ia kelahiran Singapura, 16 September 1923). Ia menyingkirkan komunisme, menyatukan aneka etnis dalam satu kebanggaan, menegakkan hukum dan pemerintahan yang bersih, membentuk angkatan bersenjata, serta memberi fasilitas kelas dunia bagi turis dan investor.

Memoarnya, From Third World To First, The Singapore Story: 1965 – 2000, merupakan buku kedua setelah The Singapore Story (1998) yang menjadi best seller di banyak negara.

Tiada lain kecuali merdeka!
Saya pulang dengan gelar “ahli hukum”, setamat dari Cambridge University, Inggris, 1950. Bersama dengan beberapa teman, saya mendirikan partai politik. People’s Action Party (PAP) pun terbentuk (1954), dan memenangi pemilihan umum lima tahun kemudian. Sebagai pemimpin partai, secara otomatis saya menduduki jabatan perdana menteri.

Pada 1963 kami bergabung dengan Malaysia sebagai negara bagian. Sayang, setahun kemudian terjadi huru-hara karena bentrokan etnis antara Melayu dan etnis Cina. Ada gerakan ekstrem di dalam partai penguasa, United Malay National Organisation (UMNO), yang menghendaki Federasi Malaysia hanya bagi suku Melayu. Singapura, dengan komposisi etnis 75,4% Cina, 13,6% Melayu, dan 8,6% India, secara tidak langsung diminta berpisah. Tak ada pilihan lain bagi kami untuk “pergi”, dan menyatakan kemerdekaan pada 9 Agustus 1965.

Meski cemas, saya tidak menampakkannya. Tugas saya memberikan harapan kepada rakyat, bukan melunturkan semangatnya. Maka saya mencari cara untuk memulai pemerintahan sendiri, sambil menahan keberadaan Inggris selama mungkin.

Langkah pertama, kemerdekaan kami harus mendapat pengakuan internasional. Saya menugasi Wakil Perdana Menteri Toh Chin Chye dan Menteri Luar Negeri Sinnathamby Rajaratnam untuk melobi para pimpinan dunia. Hasilnya, pada September 1965 kami diterima sebagai anggota PBB.

Perhatian kedua adalah mempertahankan negeri pulau warisan Inggris ini dari mereka yang tak rela kami lepas dari Malaysia. Sementara itu saya harus menegakkan hukum dan peraturan. Namun, ada hal lain yang memusingkan: membangun ekonomi. Bagaimana menciptakan lapangan kerja bagi bangsa “baru” dengan angka pengangguran 14%? Modal utama kami adalah ketulusan dan kepercayaan diri rakyat. Meski terbagi dalam beberapa suku bangsa, saya percaya bahwa perlakuan adil dan kebijakan yang tidak diskriminatif akan menyatukan mereka. Terlebih lagi jika kemakmuran tercapai.

Tapi bagaimana merintis kemakmuran? Saya sendiri tak tahu. Saya sering pusing dan sulit tidur, sehingga Choo, istri saya, meminta resep obat tidur dari dokter. Tapi rasanya minum bir dan anggur setelah makan malam lebih menolong daripada obat tidur.

Latihan militer oleh orang “Meksiko”
Kami punya 1.000 tentara di dalam Resimen Infantri Singapura I dan II sejak pisah dari Malaysia. Tapi saya tak yakin dengan kemampuannya. Saya meminta bantuan P.M. India Lal Bahadur Shastri untuk mengirim penasihat militer, namun tak dikabulkan. Demikian pula permintaan kepada Presiden Nasser dari Mesir.

Pada Oktober 1968 ada ancaman setelah dua anggota pasukan komando Indonesia dijatuhi hukuman mati gara-gara meledakkan bom di Hongkong & Shanghai Bank di Orchard Road dan menewaskan tiga warga Singapura dalam masa konfrontasi dengan Malaysia. Tapi kami ingin menegakkan hukum.

Kami menoleh kembali kepada Mordecai Kidron, duta besar Israel di Bangkok yang sejak 1962 – 1963 membujuk saya membuka konsulat di Singapura. Ia setuju memberi bantuan kemiliteran, meski desakannya untuk membuka konsulat tidak saya kabulkan dengan argumen ketergantungan saya pada Malaysia dan kekhawatiran akan umat Muslim di Malaysia dan Singapura.

November 1965, sekelompok kecil tentara di bawah Kolonel Jak Ellazari datang, dan pada Desember datang lagi enam orang. Agar tak mencolok, kami samarkan aktivitas dan menyebut mereka “orang Meksiko”.

Mereka bekerja cepat dan efektif. Berbalikan dengan cara Inggris yang membentuk resimen I dan II secara bertahap, perlu waktu 15 – 20 tahun bagi seorang prajurit untuk mencapai jabatan komandan batalion berpangkat letnan kolonel. Berbeda pula dengan cara Presiden Kennedy yang mengirimkan 3.000 – 6.000 “penasihat” untuk membantu Presiden Ngo Dinh Diem pada awal pembentukan angkatan bersenjata Vietnam. Israel hanya mengirimkan 18 orang.

Pelatihan pun berhasil. Masalah keamanan teratasi. Tapi untuk apa? Kami harus hidup. Kami harus mendorong para investor untuk menanamkan uangnya di Singapura. Militer bukan bekal yang cukup untuk survive.

Jangan pindahkan patung Stamford Raffles
Saya bertemu Dr. Albert Winsemius, ekonom Belanda yang pernah memimpin tim United Nations Development Programme (UNDP) untuk memberi nasihat mengenai industrialisasi Singapura pada 1960. Saat itu ia mengajukan dua syarat bagi kesuksesan Singapura: menghapuskan komunisme dan jangan mengusik patung Thomas Stamford Raffles.

Syarat pertama saya setujui karena sesuai dengan visi dan ideologi saya. Tapi syarat kedua? Mungkin ada benarnya, patung Raffles, pendiri Singapura modern, tak perlu dipindahkan karena menjadi simbol diterimanya warisan Inggris, dan itu secara psikologis berdampak positif. Kalau Raffles tidak datang pada 1819 dan mendirikan gardu perdagangan, leluhur saya dari Dapu, Propinsi Guangdong, Cina, tidak bermigrasi ke tempat ini.

Winsemius menyarankan agar kami membuat kesepakatan pasar dengan Malaysia, sekaligus menawarkan kerja sama perdagangan dengan Indonesia. Pada saat yang sama kami harus mencari peluang pasar di AS, Inggris, Australia, dan Selandia Baru.

Selagi belum menemukan jenis industri yang akan dipilih, sementara tingkat pengangguran mulai mengkhawatirkan, sebuah perusahaan minuman menawarkan alternatif industri pariwisata. Maka kami bentuklah Singapore Tourist Promotion Board, dipimpin orang yang tepat pada pekerjaannya, yakni tokoh perfilman Runme Shaw dari Shaw Brothers.

Industri mulai bergerak. Kami memberi insentif bagi industriawan lokal untuk membuat kosmetik, minyak goreng, krim rambut, bahkan kapur barus. Produsen Hongkong dan Taiwan juga kami bujuk untuk memindahkan industri mainan, tekstil, dan garmen.

Awalnya sungguh berat. Kawasan industri Jurong seluas 90 ha yang telah menyedot dana sangat besar, tetap sepi. Kami harus menerima kegagalan karena Singapura tidak punya cukup cadangan air, wilayahnya terlalu sempit untuk menanggung polusi industri dan pencemaran pantai.

Kami lantas membentuk Bases Economic Conversion Department yang diketuai menteri Hong Sui Sen untuk mendata dan mengelola semua properti yang ditinggalkan Inggris. Dok perkapalan di Sembawang digarap, dan belakangan disewa AS untuk perbaikan kapal dengan kontrak S$ 4 – 5 juta. Sukses.

Bekas markas tentara Gurkha di Blakang Mati, sebuah pulau kecil di seberang pelabuhan Singapura, atas saran Dr. Winsemius diubah menjadi resor turis Sentosa. Bekas gua dan gorong-gorong pertahanan di Fort Canning diubah menjadi kawasan bar dan hiburan. Bandara militer Seletar diubah menjadi pelabuhan udara kargo dan terminal pesawat kecil. Sedangkan bekas pangkapal AU Inggris di Changi diperluas dengan reklamasi menjadi Bandara Internasional Singapura dengan dua landas pacu. Tangsi militer Pasir Panjang diubah menjadi Universitas Nasional Singapura yang memiliki 26.000 mahasiswa.

Sebuah terobosan besar terjadi pada akhir 1968, saat Texas Instruments memulai industri asembling semikonduktor. Tak lama kemudian disusul pesaingnya, Hewlett-Packard (HP).

Ketika Cina disibukkan oleh Revolusi Kebudayaan Mao, pelaku bisnis di Hongkong dan Taiwan khawatir dan memindahkan usahanya ke Singapura. Rupanya, hal itu menjadi tema laporan media massa AS. Tahun 1970 General Electric (GE) datang dan membangun enam pabrik asembling. Sampai akhir 1970-an GE menjadi perusahaan paling banyak menyerap tenaga kerja. Kami yang belum paham industri elektronika hanya mensyukuri satu hal, bidang itu menyapu bersih pengangguran dan mengubah Singapura menjadi pengekspor utama barang elektronik pada 1980-an.

Dalam bisnis perminyakan, kendati tak punya tambang, kami menawarkan fasilitas pengolahan terbaik. Hasilnya, sampai 1990-an produksi pengolahan kami 1,2 juta barel per hari, nomor tiga terbesar setelah Houston dan Rotterdam. Sebagai pusat perdagangan minyak pun kami berada di nomor tiga setelah New York dan London.

Kemudian kami pun tumbuh menjadi produsen produk petrokimia terkemuka di dunia, tanpa meninggalkan sektor manufaktur dan elektronika yang juga berkembang ke arah telekomunikasi dan informasi.

Membangun pusat keuangan Asia
Kegiatan pasar uang dimulai di Zurich pada pukul 09.00, disusul Frankfurt, kemudian London. Pada sore hari tutup, sementara bursa New York buka. Maka pusat transaksi berpindah dari London ke New York. Ketika New York tutup pada sore hari, kegiatan pasar San Francisco sudah mulai. Ketika San Francisco tutup pada sore hari, pasar uang dunia berhenti, sampai keesokan harinya pukul 09.00 waktu Swiss. “Nah, kalau Singapura bisa mengambil alih pasar sebelum San Francisco tutup kemudian memindahkannya ke Zurich sebelum Singapura tutup, akan tercipta kegiatan pasar uang dan perbankan 24 jam nonstop,” kata Winsemius.

Saya setuju. Sejak 1965 kami sudah punya bekalnya, yakni tekad untuk menjaga nilai mata uang Singapura tetap stabil. Kami punya otoritas moneter yang punya kekuatan dan wibawa sangat besar untuk mengontrol nilai mata uang dan arus devisa, tapi tidak berhak menerbitkan uang. Karena semua itu dilakukan dengan kecermatan dan hukum yang ketat, kami mampu mengontrol inflasi dan tak ada alasan untuk mendevaluasi dolar Singapura sampai kapan pun.

Singapura kini nomor empat dalam volume transaksi harian setelah London, New York, dan sedikit di bawah Tokyo.

Dalam pandangan saya, kemakmuran tidak cukup ditunggu berlangsung secara alamiah. Harus ada strategi. Pilihan kami adalah menciptakan masyarakat yang adil, bukan semata-mata makmur. Untuk itulah kami merancang cara kepemilikan rumah murah bagi warga yang tidak mampu beserta skema kreditnya. Ada pula sistem tabungan hari tua warisan masa kolonial yang tinggal dimodifikasi saja.

Komunis menghancurkan diri
Selain banyak tokohnya dijatuhi hukuman, proses kemunduran komunisme di Singapura sebetulnya telah terjadi tahun 1962, ketika gerakan mereka kalah dalam referendum untuk merger dengan Malaysia. Dalam pemilu tahun berikutnya, 1963, partai komunis Barisan Sosialis hanya memenangkan 13 dari 51 kursi DPR.

Pada 1 Januari 1966 pemimpin Barisan di Parlemen, Lim Huan Boon, mundur. Dua minggu kemudian dua pimpinan partai juga mundur. Dua hari berikutnya, tokoh Barisan bekas anggota DPR yang sedang ditahan, S.T. Bani, juga mengumumkan perpisahannya dengan dunia politik.

Fron bersama yang semula menjadi partai terbesar kedua dengan menguasai 33% pemilih, surut perannya. Secara tidak langsung ini memberi kesempatan bagi partai saya untuk dominan, bahkan sampai 30 tahun kemudian.

Tapi kekuatan perlawanan belum bisa dihilangkan sama sekali. Di persembunyian, hutan perbatasan Malaysia – Thailand paling tidak terdapat 2.000 orang. Ada pula beberapa ratus orang di Semenanjung Malaysia, sebagian menjadi teroris kota. Kami bisa memeranginya, tetapi kami tak ingin menodai hukum. Harus ada proses hukum bagi mereka yang menyerah atau tertangkap.

Bagaimanapun kesejahteraan adalah tujuan setiap orang. Bukan slogan dan pidato. Akhirnya, komunisme Singapura mengubur diri, jauh sebelum masa tumbangnya komunisme di Uni Soviet dan Eropa Timur.

Indonesia, dari musuh menjadi sahabat
Pada 1960 saya memimpin delegasi Singapura ke Indonesia, dan diterima Presiden Sukarno di Istana Merdeka. Saya mengagumi tokoh dengan kemampuan tinggi memobilisasi massa sekaligus orator yang hebat itu. Kepada kami Presiden Sukarno berbicara mengenai “demokrasi terpimpin” dan revolusi di segala bidang. Saya agak kecewa karena kami kehilangan inti perbincangan.

Dengan Perdana Menteri Djuanda saya justru menerima banyak informasi. Ia adalah orang yang cerdas, tulus, namun menyadari terlalu banyak hal yang mesti diatasi. Ketika saya nyatakan kekaguman akan Indonesia, Djuanda berkata, “Negeri kami memang diberkati Tuhan, tapi bangsa kami saling bermusuhan satu sama lain.”

Peristiwa G-30-S yang diikuti peralihan kekuasaan rupanya mengubah banyak hal. Maka terjadilah pertemuan pertama saya dengan Presiden Suharto pada konferensi nonblok di Lusaka, September 1970. Dia bertanya tentang situasi di Kamboja dan Vietnam serta potensi bahaya bagi kawasan Asean. Dia seorang pendengar yang baik.

Mei 1973 saya mengadakan kunjungan resmi ke Jakarta. Dalam perbincangan berdua dengan Suharto saya tegaskan bahwa kami, sekalipun kecil, tak ingin menjadi parasit. Agustus tahun berikutnya Suharto membalas kunjungan saya. Sekali lagi kami terlibat dalam perbincangan khusus, tanpa penerjemah, dalam Bahasa Melayu campur Indonesia.

Ia menjelaskan konsep wawasan nusantara, sesuatu yang saya kagumi karena menempatkan negara tetangga seperti Singapura sebagai mitra kerja sama dan bukan ancaman. Ia juga menguraikan rencana pembangunan 20 tahun.

September 1975 saya ganti menemui dia di Bali. Saat itu Pnom Penh dan Saigon baru saja jatuh ke tangan komunis. Maka perbincangan kami mengarah kepada strategi bersama melawan komunisme di kawasan Asean.

Hubungan kami yang sudah dekat terpaksa merenggang akibat invasi Indonesia ke Timor Timur. Ketika kami absen dalam pemungutan suara PBB yang menghasilkan kecaman kepada Indonesia, Suharto marah.

Setahun berlalu tanpa kepastian, sampai 29 November 1976 Suharto melakukan kunjungan tak resmi ke Singapura. Saya katakan bahwa meskipun kami menerima argumen Timtim adalah bagian dari Indonesia, kami tak bisa mendukung secara terbuka sebuah invasi. Dunia akan menyimpulkan bahwa keamanan kami lemah. Rupanya, Suharto memahami posisi saya.

Suharto adalah laki-laki berkarakter kuat meski tak pandai bicara. Ia tak mengobral janji, tetapi selalu menepati janji.

Kami mengucapkan belasungkawa mendalam ketika Ny. Tien Suharto meninggal, April 1996. Ketika saya ke Jakarta tahun berikutnya, Suharto tampak mulai bisa mengatasi kesedihan. Tapi ada sesuatu yang menurut saya berubah; anak-anaknya menjadi lebih dekat. Perubahan lain terlihat ketika saya bertemu putri-putrinya di pesta pernikahan pangeran di Brunei, 18 Agustus 1996. Mereka mengenakan perhiasan gemerlap. Istri saya menyatakan hal itu kepada istri dubes kami di Jakarta, dan dibenarkan. Semasa hidupnya Ny. Tien melarang anak-anaknya tampil terlalu mencolok, termasuk mengenakan banyak perhiasan.

Tak seorang pun menyadari krisis keuangan Indonesia akan berlangsung begitu cepat. Presiden Suharto melalui utusannya meminta bantuan kepada Perdana Menteri Goh Chok Tong untuk memperkuat posisi tawar sebelum bertemu IMF, akhir Oktober 1997. Kami sepakat menyiapkan cadangan sampai AS $ 5 miliar, tapi baru bisa diberikan ketika Indonesia sudah menggunakan sekitar AS $ 20 miliar pinjaman dari IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan cadangan devisanya sendiri.

Menyadari begitu cepatnya devaluasi rupiah, pada Natal 1997 saya mengundang Tutut ke Singapura agar menyampaikan visi saya kepada ayahnya. Saya katakan, perekonomian Indonesia akan hancur kalau situasi tak dikendalikan. Pertama adalah soal kesehatan ayahnya, dan kedua adalah keharusan mengimplementasikan program IMF. Saya juga menyarankan agar Tutut dan adik-adiknya menarik diri dari pasar dan tidak lagi terlibat dalam proyek-proyek baru. Tapi Tutut menolak, bahkan membantah bahwa keterlibatan mereka dalam dunia usaha tidak berpengaruh pada perekonomian.

Tiga hari setelah Suharto berpidato tentang APBN yang tidak sesuai dengan kesepakatan dengan IMF, Siti Hediati Hariyadi Prabowo (Titiek) menemui saya. Ia diutus ayahnya untuk minta bantuan kepada kami agar bisa mendapatkan obligasi dalam dolar AS. Saya bilang, obligasi tak akan banyak membantu jika kepercayaan merosot. Lantas Titiek meminta bantuan kami agar mencegah spekulasi perdagangan rupiah, dan kalau bisa mengatur agar dana orang Indonesia yang diparkir di Singapura dibawa ke Indonesia. Saya katakan, tak seorang pun bisa mengatur orang lain menaruh uang di mana karena transaksi masa kini hanya dengan memencet tombol komputer.

Suharto masih bertahan. Tapi kerusuhan belanjut. Penembakan mahasiswa, penjarahan, pembakaran, dan pemerkosaan. Pemahaman umum menyimpulkan itu perbuatan orang-orang Letjen. Prabowo, menantu Suharto yang menjabat Pangkostrad, untuk menunjukkan bahwa Panglima ABRI Wiranto tidak mampu mengatasi keadaan. Harapannya, Suharto akan memberikan kedudukan Wiranto kepada Prabowo. Tapi apa lacur, sekembali dari Kairo, 15 Mei, Suharto sendiri yang kehilangan kedudukan.

Saya bertemu Prabowo dua kali, tahun 1996 dan 1997. Ia cekatan, cerdas, namun omongannya sering keterlaluan. Pada 7 Februari 1998 ia mengunjungi saya dan Goh secara terpisah di Singapura. Tanpa sebab yang jelas ia bicara tentang etnis Cina di Indonesia yang, sebagai minoritas, adalah sasaran empuk kalau ada kerusuhan. Saya dan Goh tak paham apa maksud Prabowo berbicara tentang hal itu tanpa sebab.

Pada 9 Mei 1998 saya bertemu Laksamana William Owens yang baru pensiun dari kantor Kepala Staf Gabungan AS. Ia bercerita, sehari sebelumnya bertemu Prabowo di Jakarta. Dengan ceplas-ceplos Pangkostrad itu bicara tentang “Orang tua yang tak akan bertahan sampai sembilan bulan, mungkin meninggal.” Dalam suasana riang menyambut kenaikan pangkatnya, secara berkelakar Prabowo bilang, bisa saja dia melakukan percobaan kudeta. Owens heran, meski keduanya telah dua tahun berteman, ia tetap orang asing. Komentar saya, Prabowo tak cuma ceplas-ceplos, tetapi juga gegabah.

Saya sedih menyaksikan di televisi akhir tragedi pada pukul 09.00 tanggal 21 Mei 1998, saat Suharto menyatakan pengunduran diri dan menyerahkan kepemimpinan kepada B.J. Habibie. Ia kehilangan segala pembelaan. Setidaknya sampai 48 jam sebelum mundur ia masih yakin, karena dunia tak menghendaki Habibie jadi presiden, maka tak ada satu pun kekuatan yang menginginkan ia berhenti di tengah jalan.

Sungguh sebuah kenyataan pahit. Tokoh yang mengangkat Indonesia menjadi macan ekonomi yang baru bangun, yang mendidik bangsa dan membangun prasarana bagi masa depan, terjungkal oleh ketidakmampuannya mengendalikan diri. Ia membiarkan ketidakadilan berkembang, dan pada saat kritis salah memilih orang dalam posisi penting. Padahal selama 30 tahun ia menunjukkan kualitas tinggi dalam menilai situasi dan memilih orang-orangnya.

Sekarang tentang Habibie. Meski jadi presiden karena faktor kebetulan, Habibie merasa takdir dirinyalah ia harus memimpin Indonesia. Kami cukup lama mengenal dia, bekerja sama ketika ia mengelola Batam. Dia tak menyukai etnis Cina di Indonesia, dan pada skala besar juga tak menyukai Singapura karena mayoritas warganya keturunan Cina.

Berbeda dengan Suharto yang menganggap kami sama tinggi, Habibie menganggap Indonesia adalah saudara besar Singapura. “Dalam peta, satu titik kecil berwarna merah tak sebanding dengan bentangan warna hijau yang sangat luas,” katanya dalam wawancara dengan Asian Wall Street Journal 4 Agustus 1998.

Keputusannya menawarkan opsi otonomi atau kemerdekaan kepada Timtim saya dengar karena dipicu oleh surat P.M. Australia John Howard mengenai perlunya referendum bagi masa depan rakyat Timtim. Melihat begitu gegabahnya langkah itu diambil, saya meminta pendapat Stanley Roth, asisten Menlu AS urusan Asia Timur dan Pasifik. Dengan ekspresi datar Roth bilang, “Seorang perdana menteri mestinya tidak begitu saja mengirimkan surat, terutama kepada presiden seperti Habibie.”

Para penasihat Habibie yakin, kebijakan itu akan mendatangkan dukungan keuangan dari IMF dan Bank Dunia. Di Eropa dan Amerika Habibie akan dicitrakan sebagai seorang demokrat sekaligus reformis. Dengan demikian ia punya peluang untuk dipilih lagi.

Saat pertemuan APEC di Auckland Agustus 1999, Ginandjar bercerita kepada P.M. Goh tentang kesalahan pemerintahnya mempersenjatai milisia di Timtim. Maksudnya semula untuk mengintimidasi agar rakyat Timtim tak memilih kemerdekaan. Tapi kenyataannya, prokemerdekaan meraih kemenangan telak, 80%. Timtim pun porak poranda. Yang didapat Habibie bukannya nama baik, melainkan citra rusak sebagai seorang nasionalis. Citra pemerintah dan militer Indonesia pun tercoreng.

Ketika Pemilu Juni 1999 partai yang menjagokannya, Golkar, kalah, ia perlu uang untuk menjamin kelangsungan jabatannya. Beberapa orang yang tahu banyak soal permainan politik Indonesia bercerita kepada saya, di masa-masa sebelumnya belum pernah terjadi begitu banyak uang dibagikan kepada begitu banyak anggota MPR dalam waktu begitu singkat. Apa mau dikata, pada 20 Oktober 1999 pertanggungjawaban Habibie ditolak. Ia pun menyerah.

Saya bertemu Gus Dur di Jakarta pada 1997 dalam sebuah pertemuan pribadi. Dia seorang pembicara yang bagus, lancar berbahasa Inggris, fasih dalam bahasa dan tulisan Arab, juga punya kecerdasan sangat tinggi.

Ketika Gus Dur ke Singapura saya menemuinya, dan ia meminta saya duduk dalam lembaga penasihat untuk pemulihan ekonomi Indonesia. Sebuah kehormatan yang tak bisa saya tolak. Gus Dur berbicara tentang standar moral dan pemerintahan yang bersih. Saya jelaskan, jika ia menghendaki menterinya jujur, mereka harus digaji tinggi supaya bisa hidup sesuai kedudukan tanpa harus korupsi. Gus Dur meminta P.M. Goh dan saya untuk menerima Wapres Megawati, dan membantunya menggali pengalaman sebanyak-banyaknya. Gus Dur yakin bisa membawa Indonesia menuju keadaan yang lebih baik, dalam suasana perubahan dan keterbukaan.

Mempersiapkan para pengganti
Menjelang pengunduran diri saya, November 1990, para menteri memilih Goh Chok Tong sebagai perdana menteri. Saya diberi jabatan menteri senior tanpa kewenangan mengambil kebijakan.

Saya kembali kepada keluarga. Kepada empat adik saya, Dennis, Freddy, Suan Yew, dan Monica, juga kepada Choo, istri saya yang tetap membuka kantor pengacara, serta ketiga anak kami: Hsien Loong (lahir 1952), Wei Ling (1955), dan Hsien Yang (1957).

Si bungsu Hsien Yang suka teknik, melanjutkan kuliah di Trinity College, Cambridge. Kemudian belajar persenjataan di Fort Knox dan Sekolah Staf dan Komando di Camberley, Inggris, serta belajar administrasi bisnis di Stanford University, California.

Wei Ling menjadi dokter umum dan mengambil spesialisasi anak-anak yang membawanya tiga tahun bertugas di Massachussetts General Hospital dan setahun di Toronto’s Children’s Hospital.

Si sulung Loong memang mengundang kritik ketika saya menariknya jadi menteri yunior pada kementerian perdagangan dan industri, 1985. Nyatanya, timnya berhasil mengatasi masalah saat kami dilanda resesi pada 1985. Lebih dari itu, Loong memang memenangkan kursi pemilihan pada Pemilu 1984.

Terlepas dari sangkaan nepotisme, ia memang punya minat besar terjun ke politik. Bahkan ketika lulus dengan nilai terbaik dalam matematika dari Cambridge. Selain mendalami ilmu kemiliteran di Fort Sill, Oklahoma, dan Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, ia juga belajar administrasi publik di Kennedy School of Government, Harvard. Pada usia 32 ia meninggalkan militer dan terjun ke politik.

Sayang, hidupnya penuh tragedi. Menikah dengan dr. Wong Ming Yang dari Malaysia (1978), pada 1982 anak keduanya lahir dengan kelainan albino dan hambatan dalam penglihatan, semacam autisme ringan. Tiga minggu setelah melahirkan, Ming Yang meninggal karena serangan jantung. Pada 1992 Loong terserang kanker usus besar dan harus menjalani kemoterapi intensif selama tiga bulan.

Kritik semula menganggap penunjukan Goh sekadar pemanasan bagi Loo. Tapi setelah melihat keberhasilan Goh memenangkan pemilu 1997, para pengritik sadar bahwa Goh memang orang yang tepat pada jabatannya. Ia berhasil membawa Singapura menuju kondisi yang lebih baik.

Sumber: Intisari Online dan Intisari Desember 2000

Iklan

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.