Dari Mana Datangnya Ide?

3 Maret 2011

Inspirational

Ide itu binatang liar. Cari dan jinakkan!”

— Khrisna Pabichara

Artikel Khrisna Pabichara

Pertanyaan sederhana yang kerap diajukan kepada saya di dunia maya adalah, “Dari mana datangnya ide?” Seperti biasa, selalu saya jawab dengan cara sederhana pula, “Ide bisa datang dari mana saja, kapan saja, dan di mana saja.” Ya, ide tak kenal kompromi. Bisa datang bahkan pada saat yang paling tidak kita duga sama sekali. Karena itu, begitu ide datang, harus segera ditangkap dan dijinakkan.

Kita semua menyadari bahwa aset paling berharga bagi pengarang adalah ide. Semua hasil karya sastra bermula dari ide. Ide membuat apa yang Anda tulis tidak sama dengan yang ditulis oleh orang lain. Manakala tema yang Anda sasar sama dengan topik yang dibahas pengarang lain, maka ide bisa menjadi pembeda.

Jika ada harta paling berharga yang harus Anda kumpulkan sebagai seorang pengarang, maka  tak ada pilihan selain ide. Artinya, semakin banyak ide yang Anda miliki, semakin kaya Anda selaku pengarang. Gelar yang paling mengerikan bagi setiap pengarang adalah miskin ide. Dan perilaku paling memalukan bagi seorang pengarang adalah memalsukan ide (baca: plagiasi).

Ide tidaklah seperti hujan yang bisa tercurah begitu saja dari langit. Kita pun tidak mungkin menjadi pengarang kaya ide hanya dengan merapal mantra sim salabim atau abrakadabra. Jangan juga berharap menjadi Aladin yang bisa apa saja karena lampu ajaib yang dipunyainya.

Kata kuncinya: ide itu harus dicari.

Ide, konon, bersifat setali tiga uang dengan maling—kerap datang tak diundang, pergi tanpa pamitan. Ia bisa muncul tiba-tiba, kadang hanya sekelebat ketika sedang buang hajat, lagi asyik ngerumpi dengan teman curhat, sedang mengendarai motor atau mobil, saat bekerja, atau kapan saja. Datangnya pun kerap tanpa kabar.

Begitulah. Ide itu bak binatang liar. Maka, tugas pertama Anda—jika bermimpi jadi pengarang—adalah menangkap, menjinakkan, dan mengandangkannya.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan ide?

Kita mulai sekarang mencari asal-muasal ide. Ada tiga bekal yang harus Anda siapkan dalam petualangan mencari ide. Pertama, banyak berjalan. Dari bekal ini, Anda akan memperoleh hasil banyak melihat. Kedua, banyak buku. Lewat bekal ini, Anda harus mengolahnya dengan banyak membaca. Ketiga, banyak bergaul. Melalui bekal ini, Anda pasti akan banyak mendengar.

Sederhana, bukan? Memang begitulah adanya.

Tak perlu ribet menepuk jidat atau mengerutkan kening hanya untuk menjaring ide. Segera lakukan. Keluar dari kamar, berjalan di seputar kompleks, amati apa dan siapa saja, rekam dalam memori Anda, lalu kembali ke kamar dan catat.

Anda juga bisa meniru gaya Putu Wijaya dalam menjaring ide. Nongkrong di depan televisi, lalu memutar channel berita. Maka lahirlah serentet ide yang—ketika dikemas dengan apik—dapat menjadi cerita yang dahsyat dan penuh pukau. Hal berbeda dilakukan oleh Bambang Trim, seorang penulis ternama, yang mengail ide dari pelbagai katalog buku yang kerap didaras banyak penerbit. Dari judul-judul buku yang terbaca olehnya, mencuat rupa-rupa ide. Ada lagi teman saya yang menjaring ide di tengah keramaian, Bamby Cahyadi. Ia memilih duduk di tengah riuh mal, lalu melamun liar—memainkan imajinasi—dan membayangkan cerita demi cerita.

Bagaimana dengan Anda?

Saya yakin, Anda pun sebenarnya sangat kaya ide. Yang Anda butuhkan adalah menemukan, menjinakkan, dan membiakkan ide itu.

Takalar, Februari 2011

sumber: rumah.kata@groups.facebook.com

Iklan
, , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.