Nyai Ngatijah

12 Januari 2011

Books

Dinazarkan untuk menjadi novel berjudul Nyai Ngatijah

“Kenapa aku masih merasakan kerinduan ketika aku sudah berada dalam pelukanmu sekarang, Nyai?” kata Brodin kepada Ngatijah.

“Karena kau masih berada di dalam waktu, Sayangku,” jawab Ngatijah.

“Juga kamu, Nyai?”

“Ya, juga aku.”

“Jelaskan kepadaku, Nyai. Aku belum sepenuhnya mengerti apa yang kamu katakan. Aku pikir kerinduan ini akan berakhir ketika sudah bertemu denganmu, tetapi nyatanya masih saja ada yang belum selesai kureguk darimu.” Brodin mengatakan itu kepada Ngatijah sembari mengecup dan mengulum bibir setengah bayanya yang masih menggoda.

“Karena kamu belum menjadi sepenuhnya menjadi aku, Sayangku,” jawab Ngatijah dengan napas yang mendesah.

“Juga kamu, Nyai?” tanya Brodin lagi-lagi.

“Ya, juga aku.”

“Kapan aku bisa sepenuhnya menjadi kamu, Nyai?”

“Ketika kamu sudah kehilangan dirimu, Sayangku. Tetapi itu hanya terjadi sewaktu-waktu, tak bisa selama-lamanya, sebab waktu tak pernah berhenti menggodamu, menggodaku.”

“Ah, Nyai, aku ingin itu terjadi selamanya, sebab aku tak tahan berpisah darimu. Sebentar saja berpisah darimu, rasanya aku tak bisa menanggungnya.”

“Aku tahu cintamu kepadaku, Sayangku, meskipun kamu masih suka tergoda dengan wanita-wanita lain selainku. Nakal kamu, Nak! Tapi aku percaya kepadamu, cintamu hanya untukku. Ah, tidak! Kamu punya banyak cinta kepada wanita-wanita lain, meski tak sebesar cintamu kepadaku. Kenangan-kenanganmu tentangku akhirnya membawamu kepadaku.”

Wanita setengah baya itu kini mulai membuka kancing kemeja kekasih mudanya. Dia juga mulai membuka pakaiannya, seluruhnya, hingga hanya tersisa kutang dan cawatnya. Sama-sama setengah telanjang, mereka berpelukan di atas ranjang, punggung mereka bersandar di atas bantal besar yang ditelekan di ujung ranjang yang merapat di dinding. Mereka saling membelai dengan ujung jari berdua ke tubuh masing-masing. Sekali-kali bibir mereka saling kecup dengan ciuman ringan. Karena sangat bernafsu dan rindu, Brodin ingin segera menaiki tubuh nyainya dan menyatukannya pada perjumpaan pertama mereka ini. Tetapi Ngatijah menundanya dengan terus menahan Brodin dalam posisi duduk sambil tangannya terus membelai dadanya, dan bibirnya sekali-kali menciumi wajahnya.

“Ah, Nyai, aku pengen…”

“Kau kira aku tidak?”

“Hmm…”

“Kamu harus mengenaliku dulu, Sayang, agar aku tidak jatuh seperti wanita-wanitamu yang dulu-dulu. Kamu mau aku seperti mereka?”

“Tentu saja tidak. Tapi tidakkah kamu tahu betapa aku mencintaimu?”

Ngatijah hanya tersenyum dan mencubit puting susu kekasih mudanya, yang membuatnya menjerit kecil dan menghentakkan badannya.

 

TO BE CONTINUED…

 

(Dinazarkan untuk menjadi novel berjudul Nyai Ngatijah. Nama dari tokoh utamanya, yang menjadi judul novel ini, diinspirasikan oleh Lila Zee, yang tuhannya bernama Nyai Ngatijah). Gambar dari : pagimorning.blogspot.com

Iklan
, , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.