Biarkan Tuhan Beristirahat Dalam Damai!

25 November 2010

Spiritualism

“There is no good and evil,
there is only power,
and those too weak to seek it.”
(Lord Voldemort)

Jika ada sosok yang dianggap perlu untuk diberi kesempatan beristirahat dalam kedamaian, maka sosok itu tak lain adalah Tuhan. Ya! Tuhan, entah sejak berapa ribu tahun lampau telah diseret kesana kemari untuk membenarkan kebencian, peperangan, perpecahan, pembunuhan, penghujatan, pemfitnahan, dosa, berbagai pengadilan dan hal-hal nirhumanitas dalam kehidupan manusia. Bahkan, Tuhan tak hanya banyak diseret-seret dalam peristiwa skala besar seperti pengeboman, peperangan antar bangsa, perang agama, namun juga dalam peristiwa keseharian seperti relasi perkawinan, pertemanan, politik kampus, diskusi di milis, atau lebih sederhana lagi seperti memberi ucapan Selamat Hari Raya antara satu umat dengan umat lain. Betapa melelahkan diseret kesana kemari selama ribuan tahun untuk berbagai persoalan yang semestinya bukan Dia yang bertanggungjawab. Lebih penting lagi, betapa rendahnya mahkluk yang menyeret Tuhan kesana kemari sekedar untuk menutupi ketakberanian bertanggungjawab atas hidup sendiri.

Dunia manusia adalah dunia yang penuh dengan banalita kepentingan yang diatasnamakan Tuhan. Padahal jika semua selimut berlogo Tuhan itu disingkap, maka akan tampak bahwa semuanya bermuara pada pemuasan hasrat manusia. Berbagai macam hasrat: hasrat menguasai, hasrat seksual, hasrat dihormati, hasrat dikenal orang banyak, hasrat membenarkan diri, dan hasrat-hasrat lain. Inilah titik di mana metafisika Cartesian dengan
Cogito ergo sum-nya, meregang nyawa. Manusia sama sekali bukan mahkluk berakal budi seperti digembar-gemborkan dalam berbagai ajaran filsafat, agama atau pelajaran-pelajaran sekolah. Manusia adalah mahkluk berhasrat. Hasrat, meski idiosinkretis namun mampu mengambil bentuk pertama kausalitas perilaku manusia. Karena sifabta yang nomotetis, akal budi membutuhkan suatu kondisi ceteris paribus untuk menentukan kehendak manusia, sedangkan hasrat yang idiosinkretis tidak.

Ironisnya, sebelum Nietzche, hasrat tak pernah disentuh dalam penjelasan-penjelasan baik dalam filsafat maupun agama, yang justru didominasi penjelasan iman, akal budi (rasio) sebagai causa prima perilaku manusia. Beberapa pemikiran bahwa ikut menyeret-nyeret Tuhan sebagai causa prima perilaku manusia. Sejak awal hasrat tak pernah disayang oleh filsafat dan agama. Sejak Plato, hasrat senantiasa dicurigai sebagai fakultas minor yang mengakibatkan kesesatan berpikir yang bermuara distorsi epistemologis serta kesesatan bertindak yang bermuara pada distorsi etis. Agama, menganggap hasrat sebagai sumber dosa yang harus dijauhi. Oleh karenanya, filsafat sejak semula menempatkan akal budi di tempat yang paling mulia sementara agama mengagungkan iman sebagai yang paling berharga dalam hidup manusia. Akal budi dan iman, dalam perkembangannya bergantain menempati fakultas kudus yang bisa menembus kemayaan dan menemukan logos. Hasrat dianggap hanya menghasilkan tipuan. Dalam sebuah tulisannya. Donny Gahral Adian mengatakan bahwa layaknya Buddhisme, filsafat pun bersabda, “tanggalkan hasrat dan temukan kebenaran!”

Hingga kemudian muncullah Friedrich Nietzche yang mengobrak-abrik segala bentuk logosentrisme yang membuat manusia tak menyadari peran besar hasrat dalam hidupnya. Nietzsche datang membawa kabar buruk bagi pecinta akal budi dan iman. Baginya, akal budi dan iman adalah jejadian dari sentimen manusia yang namanya kecemasan. Manusia cemas bersemayam di dunia ketakpastian. Ia memerlukan pegangan. Segala prinsip utama adalah wujud hasrat untuk berkuasa yang mengambil bentuk lebih tajam dalam kehendak. Bagi Nietzche, hasrat adalah daya pendorong dalam diri manusia. Hal-hal yang mengatasnamakan Tuhan hanyalah lapisan atas untuk menutupi hidup manusia yang hasrati. Dalam banyak konteks, keduanya saling bertentangan. Segala hasrat yang ditutupi, akhirnya akan menampilkan diri sebagai bayangan, karena menjadi terlalu lemah untuk memeroleh pemuasannya. Bayangan inilah yang kemudian menyertai hidup manusia.

Berdasarkan pandangan itu, Nietzche mengajarkan adanya dua moral, yaitu: moral tuan dan moral budak. Pengertian kata “baik” mempunyai dua arti yang berlainan sama sekali. Bagi sang Tuan “baik” adalah perasaan jiwa yang tinggi, bangga, megah dan hal lain yang senada; sedangkan bagi sang budak “baik” adalah apa yang damai, yang tidak merugikan, yang menaruh belas kasihan, dan hal sejenisnya. Yang disebut “jahat” oleh Sang Tuan adalah apa yang berlaku umum, biasa, tak bernilai; sedangkan bagi budak “jahat” adalah segala sesuatu yang menonjol, melebihi kawanan seluruhnya, yang menjadi luar biasa, yang tidak dapat diperhitungkan, yang berbahaya dan hal lain sejenisnya.

Pemberontakan moral budak dimulai dari bangsa Yahudi. Para Nabi Yahudi telah meluluhkan pengertian: kekayaan, kekuasaan, nafsu, hasrat dan sejenisnya. Semua pengertian itu telah dijadikan satu pengertian yaitu dosa. Pada titik ini para Nabi itu juga telah melekatkan nilai negatif pada dunia. Sejak tampilnya Nabi-nabi Yahudi itu, tampillah ke permukaan dunia manusia-manusia menderita, miskin, tak berkuasa, sakit, jelek dan sejenisnya, sebagai orang-orang “baik”. Segala yang bersifat bangsawan, yang indah, yang berkuasa, yang bahagia dan sejenisnya, harus menyisih, tak mendapat tempat lagi. Spirit ini pula yang menjiwai legitimasi Tuhan dalam agama-agama.

Implikasinya, jiwa yang kuat, sehat, karena tak dapat berkembang lagi, harus mencari kepuasan secara tersembunyi, harus direpresi ke dalam diri [dan muncul hanya dalam kemunafikan]. Inilah asal mula “suara hati yang mempersalahkan serta menginsafi kesalahan”. Agama, dimulai dari Kristen dan berkembang pada agama Abrahamaik lain, kemudian menjadi lambang pemutarbalikan nilai-nilai, menolak segala yang alami, memusuhi hasrat. Pengertian “Tuhan” menjadi rusak karena dipandang sebagai dewa bagi orang-orang sakit, menderita, miskin, dan sejenisnya. Tuhan dipandang sebagai spirit yang justru bertentangan sekali dengan esensi hidup. Tuhan menjadi `Ayah” yang melarang manusia ini dan itu. Segalanya lalu atas nama Tuhan. Segalanya dikerjakan `in-the-name-of-the-Father’. Jiwa-jiwa lalu jatuh dalam mental budak yang tak memberi tempat bagi penguasaan dan pemuliaan diri. Karena manusia-manusia agama ini bermental budak, maka tak heran mereka tak berani mengambil tanggungjawab pribadi atas perilakunya. Tak heran jika mereka menyeret-nyeret Tuhan untuk menutupi tindakannya. Tak heran jika mereka berlindung dari keharusan bertanggung jawab di bawah term-term seperti: pelayanan, hamba Allah, Jihad, Domba; yang semuanya menempatkan Tuhan sebagai pemegang tanggung jawab.

Nietzche membongkar itu semua agar ada moral tuan. Manusia harus dibebaskan dan dihadapkan pada keberanian untuk memilih. Mereka harus disadarkan bahwa tak ada nilai yang mutlak berasal dari Tuhan. Mereka sendirilah yang mesti bertanggungjawab atas nilai dan kebernilaian hidupnya. Hasratlah yang harus disadari sebagai pencipta nilai-nilai yang diperlukan. Nilai mana yang dipilih, tergantung arah hasrat hidup seseorang. Jikalau naik, maka terciptalah nilai-nilai mulia yang menandai penguasaan; sebaliknya jika arahnya turun maka terciptalah nilai rendah, moral budak. Kekuatan (power) manusia untuk memilih adalah penentu semuanya.

Oleh karena itu, manusia yang ideal adalah manusia-atas, atau manusia yang hasratnya mengarah ke atas. Inilah yang dikenal sebagai Übermensch. Pada
manusia atas, kekuatannya mampu membawa diri menguasai dunianya, dan bukan [sebaliknya] membiarkan diri dikuasai dunianya. Penguasaan hanya bisa dicapai pada kemampuannya menghadapi penderitaan atau deraan. Hanya dalam deraanlah manusia dapat berpikir dan hanya pemikirlah yang sungguh-sungguh dapat menguasai dunianya.

Jadi, manusia-atas yang berdiri di gerbang waktu akan menyudahi sejarah karena ia tak akan lagi mengambil teks-teks sejarah untuk dikenakan begitu saja pada dirinya. Namun, setiap kesudahan akan menuntut adanya permulaan baru. Kehidupan manusia atas dengan demikian akan terus menerus dalam kebaruan. Kehidupan memang berputar seperti roda dan kembali ke titik yang sama, namun di titik di mana manusia-atas berdiri, sejarah akan berakhir dan masa depan selalu merupakan sesuatu yang baru.

Inilah titik di mana Tuhan dapat beristirahat dalam kedamaian (Rest in Peace/R.I.P) karena hanya manusia-manusia ataslah yang hidup. Dunia ini masih berarti karena manusia-atas, maka manusia harus setia pada dunia ini dan tak usah menggantang harapan pada ilusi-ilusi yang diatasnamakan Tuhan seperti saat ini banyak digembar-gemborkan oleh agama. Manusia hanyalah semacam tali, yang di satu ujungnya diikatkan pada binatang, dan ujung lainnya pada manusia-atas.

Maka dari itu, sebagai penutup esei ini, saya akan hadirkan sebagai bahan renungan kutipan dari Harry Potter and the Sorcerer’s Stone yang telah saya tulis di awal esei. Terlepas ucapan ini diucapkan oleh tokoh antagonis Lord Voldemort, tapi kalimat ini sungguh merupakan sindiran bagi manusia-manusia bermental budak yang menyeret-nyeret Tuhan dalam berbagai peristiwa nirhumanitas: “There is no good and evil, there is only power, and those too weak to seek it.”

OLEH:
AUDIFAX
Penulis buku “Mite Harry Potter” (2005, Jalasutra)

Iklan
, , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.