Kebiasaan Menilai Orang

16 Agustus 2010

Inspirational

Cerita dibawah ini saya kutipkan dari bulletin yg bercerita mengenai pengalaman seorang  Pemandu Acara (MC :Master of Ceremony) yg sering membantu di berbagai acara Ulang Tahun anak-anak, suatu hari ia memperoleh sebuah pengalaman yg berharga dan mengubah cara  dia berpikir karena kejadian itu:

Suatu sore saya memandu acara hiburan pada suatu pesta Ulang Tahun anak-anak, yang dihadiri oleh sekitar 30an anak-anak;  seperti biasanya, dengan berpakaian ala badut saya menyampaikan humor-humor serta mengajak anak-anak tersebut untuk berinteraktif dengan saya maupun sesama mereka.

Saya menanyakan kepada setiap anak tentang apa yang mereka cita-citakan untuk menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa kelak saat mereka dewasa.  Ada yang menjawab, saya ingin jadi dokter,  ada yang ingin jadi insinyur, ada yang ingin jadi akuntan, ada yang ingin jadi pengusaha dll.  Wah, betapa tinggi cita-cita anak-anak ini pikir saya.  Lalu ada seorang anak yang cukup diam dan imut-imut menjawab kalau dia ingin jadi satpam.  Teman-temannya jadi menoleh ke arahnya, terdiam dan mungkin bertanya-tanya dalam hati mereka?,  saya tertegun dan bertanya kembali kepada anak itu, dia mengulangi jawabannya yg sama: saya ingin jadi satpam. Nampaknya dia sangat tegas dan bangga dengan jawabannya tersebut.  Saya menyambutnya dengan sedikit kecewa, kenapa dia memilih untuk menjadi satpam. Sambil melanjutkan acara-acara lainnya saya sudah melupakan jawaban anak itu tadi sampai acara selesai.

Anak-anak mulai meninggalkan ruangan pesta dengan babysitter mereka masing-masing atau dijemput oleh orang tua mereka. Saya sendiri sibuk mengemasi berbagai peralatan pertunjukkan saya dan akhirnya tinggallah saya sendiri beserta anak yg diam dan  imut-imut  itu yang nampaknya sedang menunggu dijemput oleh keluarganya. Tak lama kemudian, seseorang berseragam satpam masuk ke dalam ruangan, serta merta anak itu berteriak: ayah! dan berlari ke arahnya  sambil membawa kotak makanannya. Mereka berdua kemudian berjalan beriringan meninggalkan ruangan dan tinggallah saya sendiri  yang termenung mengingat kembali peristiwa itu dan saya menjadi sadar: betapa piciknya saya selama ini! begitu mudahnya menilai bahwa profesi-profesi seperti dokter, insinyur, akuntan, pengusaha sebagai profesi yang terhormat dan bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Saya mulai mengerti mengapa anak-anak bercita-cita seperti yang mereka katakan itu, rupanya mereka sering mengacu atau bercermin kepada orang tua mereka sendiri, dan bisa saja anak-anak itu menganggap profesi orang tuanyalah yang terbaik dan patut menjadikannya bangga.

Saya merasa malu dan berjanji kepada diri saya sendiri bahwa mulai hari itu juga saya tidak akan pernah meremehkan ataupun merendahkan profesi apapun yang dipilih oleh setiap orang. Saya menjadi sadar bahwa penilaian saya sering kali bias dan itu menunjukkan kesombongan diri saya sendiri.

Credit goes to Vincent Wiryakusuma at Facebook

Iklan
, , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.