Mengenal Suara Hati Yang Sesungguhnya

16 Juli 2010

Inspirational

Artikel Adi W. Gunawan

Di salah satu seminar saya mendapat pertanyaan yang membuat saya merenung cukup lama, “Pak, apa sih sebenarnya suara hati itu? Apakah suara hati selalu baik untuk kita? Apa suara hati harus selalu kita ikuti? Apa parameter yang digunakan sehingga kita tahu bahwa yang kita “dengar” adalah benar-benar suara hati nurani kita dan bukan “suara” yang lain?”

Karena keterbatasan waktu saya hanya bisa memberikan jawaban singkat. Namun pertanyaan ini terus bermain di benak saya seolah-olah berkata, “Hei, jawaban yang tadi kamu berikan ke peserta itu belum tuntas. Ayo dong… mikir yang lebih keras. Masa jawabannya hanya seperti itu.”

Nah, malam hari sebelum tidur saya mulai berpikir dan berpikir. Hasil pemikiran saya cross-check dengan beberapa literatur yang pernah saya baca sebelumnya. Setelah itu saya bandingkan dengan berbagai pengalaman hidup yang telah saya alami. Nah, dalam kesempatan ini ijinkan saya untuk bebagi pengalaman dan pemahaman saya yang mengkristal dalam bentuk jawaban atas pertanyaan di atas.

Di buku Hypnotherapy : The Art of Subconscious Restructuring, saya menjelaskan mengenai salah satu teknik terapi yang dikenal dengan nama Ego State Therapy atau ada juga yang menyebutnya sebagai Parts Therapy.

Inti dari teknik ini adalah kita berkomunikasi dengan “Bagian” (Ego State atau Parts) dari diri kita yang selama ini menghambat kemajuan kita. Teknik ini sangat efektif untuk menyelesaikan konflik diri (inner conflict).

Bagi terapis yang telah menjalani pelatihan intensif dan mengerti betul teorinya maka akan sangat mudah melakukan teknik ini. Namun bagaimana dengan orang yang tidak mendapat pelatihan ini?

Parts / Ego State

Sebelum saya meneruskan uraian ijinkan saya untuk sedikit membahas mengenai Parts atau Ego State. Ada juga yang menyebutnya sebagai Sub Personality. Untuk mudahnya saya akan menggunakan istilah “Bagian”.

Di dalam diri kita ada banyak “Bagian”. Setiap bagian ini menyerupai “seseorang” dengan kepribadian, karakter, memori, rule, belief, value, dan tujuan masing-masing. Saat mereka bekerja secara harmonis, saat hubungan sesama “Bagian” ini baik maka hidup kita akan sangat lancar. Namun saat ada di antara mereka yang konflik, dan biasanya ini bisa melibatkan lebih dari 2 “Bagian”, maka kita mengalami konflik diri.

Cara “Bagian” ini berkomunikasi dengan kita biasanya dengan menggunakan perasaan dan self talk atau inner dialogue/voice. Apakah hanya dengan dua cara ini saja? Oh tidak. Masih ada cara lain yang jarang atau tidak kita sadari, walaupun sebenarnya kita telah mengalaminya. Nanti di bagian akhir artikel ini akan saya membahas secara lebih mendalam. Untuk saat ini kita fokus pada self talk dan perasaan.

Saat paling mudah untuk mengamati “Bagian” ini saling berkomunikasi adalah saat kita baru bangun tidur. Biasanya ada 2 “Bagian” yang saling berbicara. Satu “Bagian” mau kita segera bangun. Dan satu “Bagian” lagi ingin kita tetap berbaring dan tidur lebih lama lagi. Masing-masing “Bagian” memberikan argumentasi masing-masing. Yang umumnya terjadi seperti ini:

Bagian 1 : Hei.. bangun. Sudah siang nih. Sudah waktunya masuk kerja.
Bagian 2 : Nggak usah bangun dulu. Santai aja kenapa sih. Kan tadi malam dia tidurnya malam sekali. Jadi dia butuh waktu sedikit lagi untuk istirahat.
Bagian 1: Lho, kalau nggak bangun sekarang nanti terlambat masuk kantor. Bos bisa marah besar. Kan dia ada janji sama pelanggannya.
Bagian 2 : Ala… lima menit saja kenapa sih. Nggak bisa lihat orang senang ya?

Nah pembaca anda pernah kan mengalami self talk seperti ini? Saat 2 “Bagian” ini saling beradu argumentasi kita hanya menjadi pengamat. Sampai satu saat kita memutuskan untuk mengikuti salah satu “saran” yang diberikan. Kita bangun… atau terus tidur. Masing-masing “Bagian” punya “kepentingan” sendiri yang mereka pikir baik untuk kita. Mana yang benar-benar baik? Ini membutuhkan kejelian kita untuk menganalisa.

Berguru Pada Hingar Bingar Keheningan

Pembaca, mengapa saat mau bangun tidur kita mudah sekali mengamati self talk kita? Mengapa saat baru bangun tidur kita dapat dengan sangat mudah, bahkan tanpa perlu upaya, bisa mengikuti dialog internal yang terjadi di dalam diri kita? Mengapa kalau sudah bangun dan mulai aktif menjalani hari kita malah sulit sekali mendengar suara itu?

Jawabannya sebenarnya sangat mudah. Saat kita baru bangun tidur pikiran kita masih tenang. Saat itu kita masih “hening”. Belum banyak hal, buah pikir, masalah, atau thought yang kita pikirkan. Dengan demikian pikiran kita masih tenang dan hening. Setenang air di danau saat pagi hari. Kalau sudah siang, saat air (baca: pikiran) sudah bergejolak dan banyak riak maka kita akan sangat sulit untuk bisa melihat ke dalam atau dasar danau.

Nah, justru saat pikiran berada dalam kondisi tenang atau hening kita justru akan “mendengar” hingar bingar yang selama ini tidak kita dengar. Justu saat pikiran hening kita bisa belajar dengan melakukan pengamatan terhadap dialog internal yang terjadi, tanpa perlu melibatkan diri di dalam dialog itu. Kita hanya akan melibatkan diri bila dirasa perlu dan untuk tujuan tertentu.

Ke page 2 >>

Iklan
, , , , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.