Sebuah Pemahaman [download]

7 Juni 2010

Spiritualism

Tradisi Leluhur sebagai Solusi untuk Mengatasi Bencana


Masyarakat Nusantara jaman dahulu adalah masyarakat yang sangat dekat dengan alam. Dalam kepercayaan tradisi kuno, alam bukan hanya tempat yang diciptakan/disediakan Tuhan untuk makluk yang kelihatan (manusia,hewan dan tumbuhan), tetapi juga merupakan tempat untuk makluk yang tidak kelihatan. Dan dahulu seorang pemimpin bangsa (raja/ratu) mampu memimpin keduanya sehingga tercipta hubungan harmonis antara makluk yang kelihatan dengan makluk yang tidak kelihatan.

Namun di era sekarang kita telah mengabaikan tradisi leluhur kita sendiri yang seharusnya bisa kita jadikan panutan bagaimana cara dahulu nenek moyang bisa menjadikan Nusantara ini besar dan dihormati di bumi (Majapahit, Bagasasi, Kuripan, Galuh Pakuan, Medang Kamulan, Dahana Pura, dll). Dan yang lebih menyedihkan lagi saat ini kata ‘menghormati leluhur’ atau ‘menjalankan tradisi leluhur’ bergeser menjadi ‘memuja setan’. Sehingga orang-orang lebih memilih mengabaikan tradisi daripada dituduh sebagai penyembah berhala dan dianggap sesat.

Makhluk yang tidak kelihatan dalam tatanan Jawa dibagi atas:

  1. Kumara Asor
  2. Kumara Madya
  3. Kumara Luhur

Catatan: Kumara= Roh

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

A. Kumara Asor

Terdiri atas:

  • Jim, setan, pri prayangan, banaspati, dll. (berupa makhluk buas yang tidak terlihat)

B. Kumara Madya

Terdiri atas:

  • Jim yang tidak buas dan suka menolong manusia
  • Roh manusia yang bergentayangan yang belum bisa kembali ke nirwana

C. Kumara Luhur

Terdiri atas:

  • Roh manusia, yang sudah tahu jalan kembali ke nirwana
  • Hapsara-Hapsari (disebut juga Dang Hyang atau Danyang)
  • Widodoro-Widodari
  • Dewa-Dewi
  • Bathara-Bathari

Roh manusia yang sudah mengetahui jalan ke nirwana yang mendapat tugas dari Yang Maha Kuasa untuk turun ke Bumi bisa setingkat dengan Hapsara-Hapsari, Widodoro-Widodari, Dewa-Dewi, dan Batara-Batari. Dalam alam yang tak telihat tersebut, kumara asor serta kumara madya berada di bawah kendali Dang Hyang / Danyang. Dang Hyang biasanya tinggal di suatu tempat yang disebut pedanyangan. Biasanya di setiap kelurahan terdapat 1 pedanyangan. Di setiap 30 s/d 50 pedanyangan dikendalikan 1 pedanyangan induk yang dipimpin 1 Widodoro atau Widodari. Kemudian di setiap 30-50 pedanyangan induk dikendalikan oleh 1 Dewa-Dewi dan seluruh Dewa Dewi dikendalikan oleh Bathara atau Bathari.

Danghyang adalah kumara luhur yang mengemban perintah dari Sang Hyang Wenang untuk :

  • – Mengendalikan makhluk-makhluk ganas dan buas yang tinggal di wilayahnya.
  • – Menjaga keharmonisan manusia dan alam di wilayahnya.
  • – Mempunyai kekuatan yang dapat mendatangkan kemakmuran,serta kesuburan di wilayahnya.
  • – Punya akses langsung untuk berhubungan dengan Widodoro-Widodari bila ada musibah yang di luar kemampuannya.

Tempat turunnya Danghyang biasanya ditandai dengan pohon besar, patung, batu besar, atau ketiganya. Tempat tersebut biasanya dipakai kontak antara manusia dan Danghyang. Sehingga tempat tersebut dikeramatkan agar tidak ada orang yang bertindak tidak sopan atau menghancurkan tempat tersebut. Selain itu sebagai pertanda terimakasih manusia terhadap Danghyang yang menurunkan anugrah di tempat itu maka tempat tersebut juga diberi sesaji oleh manusia.

Widodoro-Widodari adalah kumara luhur yang bertugas :

  • Mengendalikan dan mengawasi tugas para Danghyang.
  • Menjaga keharmonisan alam dan manusia di wilayah kekuasaannya.
  • Mempunyai kemampuan lebih besar dari Danghyangnuntuk mengatasi masalah yang tidak dapat diselesaikan para Danghyang.
  • Mempunyai akses langsung ke Dewa-Dewi bila terjadi musibah yang di luar kemampuannya.

Tempat kontak antara manusia dan Widodoro-Widodari biasanya di daerah yang di bangun candi kecil yang umum dengan nama Cetya.

Dewa-Dewi adalah kumara luhur yang bertugas :

  • Mengendalikan dan mengawasi tugas para Widodoro-Widodari.
  • Menjaga keharmonisan alam dan manusia di wilayah kekuasaannya.
  • Mempunyai kemampuan lebih besar dari Widodoro- Widodari untuk mengatasi masalah yang tidak dapat diselesaikan para Widodoro-Widodari.
  • Mempunyai akses langsung ke Bathara-Bathari bila terjadi musibah yang di luar kemampuannya.

Tempat kontak antara manusia dan Dewa-Dewi biasanya di daerah yang di bangun candi tanggung.

Bathara-Bathari adalah kumara luhur yang bertugas :

  • Mengendalikan dan mengawasi tugas para Dewa-Dewi dalam satu negara.
  • Menjaga keharmonisan alam dan manusia di wilayah kekuasaannya.
  • Mempunyai kemampuan lebih besar dari Dewa-Dewi untuk mengatasi masalah yang tidak dapat diselesaikan para Dewa-Dewi.
  • Mempunyai akses langsung ke Penguasa alam\ semesta bila terjadi musibah yang di luar kemampuannya.

Tempat kontak antara manusia dan Bathara-Bathari biasanya di daerah yang di bangun candi besar, atau candi yang diletakkan di daerah tinggi atau disebelah kanan depan kraton Jaman dulu.

Turunnya Dang Hyang, Widodoro-Widodari, Dewa-Dewi serta Bathara-Bathari biasanya ditandai dengan sinar seperti meteor yang berwarna kuning cerah. Cahaya ini di sebut dengan pulung untuk Danghyang dan Widodoro-Widodari dan ndaru atau wahyu untuk Dewa-Dewi dan Bathara-Bathari. Sehingga sungguh sangat beruntung kita yang hidup di Nusantara dimana nenek moyang kita telah berhasil mencapai tataran dari Hapsara-Hapsari sampai setingkat Bathara-Bathari.Beliau turun membawa anugerah ke Nusantara karena mengemban perintah dari yang maha kuasa untuk momong manusia di setiap daerah tertentu di Nusantara sesuai perintah Yang Maha Kuasa. Beliau rela turun kembali ke Bumi Nusantara demi kemakmuran dan kebahagiaan manusia di Nusantara ini meskipun harus meninggalkan kemuliaan mereka di kahyangan yang jauh lebih indah dan menyenangkan dari Bumi. Tentu sudah menjadi kewajiban manusia yang masih hidup untuk menjaga dan menghormati mereka agar mereka betah momong manusia yang ada di Nusantara ini.

Penyebab Datangnya Musibah yang Susul Menyusul di Nusantara

Bila kita perhatikan saat ini banyak bangunan mulai dari pedanyangan, cetya, dan candi-candi yang tidak terawat dan cenderung dirusak. Bahkan bagian terpenting dalam suatu candi yaitu patung sebagai perwujudan sang awatara rata rata hilang atau putus kepalanya. Padahal patung adalah perwujudan dari kumara luhur yang turun di tempat tersebut. Sengaja dipatungkan untuk membantu masyarakat yang tidak bisa melihat agar bisa membayangkan wujud leluhurnya. Namun sayang setelah masuknya agama Islam, Kristen dan Katholik patung-patung tersebut justru dianggap berhala dan cenderung dimusnahkan. Bahkan di daerah tertentu cenderung ada pelarangan untuk menghaturkan sesaji untuk para kumara luhur tersebut. Jadi manusia sekarang cenderung ingin mengusir para kumara luhur tersebut. Tanpa melihat bahwa sebenarnya para kumara luhur tanpa turun ke Bumi sudah lebih mulia dan enak tinggal di kahyangan dan beliau turun ke Bumi bukan karena seenak maunya mereka sendiri tapi mendapat tugas berat dari Sang Maha Pencipta untuk menolong manusia.

 

Sehingga ada empat kemungkinan yang akan dilakukan para danghyang :

  • Kumara luhur akan pulang ke kahyangan dengan membawa anugrah yang dia bawa.
  • Kumara luhur marah dan menghukum manusia yang mengusirnya.
  • Kumara luhur tetap tinggal tapi tidak perduli dengan makhluk yang tinggal di wilayahnya tapi akan membantu manusia yang menghormatinya.
  • Kumara luhur tetap setia melaksanakan tugasnya karena menganggap manusia adalah anak-anaknya yang harus dia jaga, walaupun tidak dihormati dan diusir-usir oleh manusia.

Bagi para roh luhur melawan manusia sama seperti: orang tua melawan anak balita. Karena secara perbandingan usia mereka sudah ribuan tahun bahkan ada yang sudah diciptakan sebelum Bumi tercipta. Sehingga para roh luhur cenderung untuk pergi pulang ke kahyangan karena merasa diusir manusia. Padahal dengan perginya para kumara luhur akan berdampak para makhluk buas menjadi lepas kendali sehingga wilayah tersebut akan muncul musibah dari penyakit, kesurupan masal, orang mati tanpa sebab, orang kalap dan hilang kesadarannya, orang gila, kecelakaan, dan banyak pembunuhan. Disamping itu kesuburan tanah akan menghilang dan sumber air akan mati. Sehingga manusia akan kekurangan air bila musim kemarau dan kebanjiran bila musim hujan. Sehingga tidak ada lagi musim yang bersahabat. Hal tersebut karena alam kehilangan kendali dari para roh luhur.

Artikel yang lebih lengkap bisa diunduh

dilink ini

 

dipaparkan untuk kepentingan sebuah pemahaman, seperti yang diujarkan oleh Eyang Sepuh, di-sari-kan oleh Ki Mayangga Seta, dan disadur ulang oleh Ki Atma Sasratama Jati.

Iklan
, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.