Gerakan Dakwah Lingkungan Hidup

28 Mei 2010

Spiritualism

BEBERAPA dekade terakhir, muncul ketakutan global yang singgah di
seluruh umat manusia. Mereka khawatir mengenal kelangsungan hidup
planet bumi tempat mereka berpijak, secara perlahan dan pasti menuju
puncak kepunahan dan kerusakan yang akut.

Meminjam pernyataan petinggi PBB, yang juga mencemaskan hal ini,
bahwa dunia kita berada di tepi kehancuran lantaran ulah manusia.
Sumber-sumber alam dijarah kelewat batas. Demikian nada kecemasan
sekaligus sebagai early warning, seorang Direktur Eksekutif Program
Lingkungan PBB (UNEP) pada Global Forum on Ecology and Poverly,
Dhaka, 22-24 Juli 1993.

Tepat sebelas tahun kemudian setelah kegundahan itu terlontar,
kondisi dunia ini belum juga pulih dan memberikan rasa kenyamanan
yang berarti bagi manusia. Kondisi bumi malah mengkronis dan
mengancam nyawa umat manusia. Zaman boleh berubah dan abad boleh
berganti, namun permasalahan jagat raya — terlebih lingkungannya —
masih belum menemukan solusi yang tepat untuk merenovasinya.

Pada setiap detik, diperkirakan sekitar 200 ton karbondioksida
dilepas ke atmosfir dan 750 ton topsoil musnah. Sementara itu,
diperkirakan sekira 47.000 hektare hutan dibabat hingga tuntas.

Sayyed Hossein Nasr dalam Man and Nature: Spiritual Crisis of Modern
Man (1976), menyebutkan hutan-hutan dibabat untuk memproduksi kertas
yang nantinya digunakan untuk menulis berbagai aspek krisis
lingkungan. Emha Ainun Nadjib juga pernah mengatakan, ketika hutan-
hutan di Kalimantan dan Sumatera yang seluas Prancis nyaris ludes
dilalap api beberapa tahun lalu dan juga ketika hutan-hutan dibakar
tanpa aturan untuk pertanian, semua itu “dinikmati” oleh mereka yang
berada di luar daerah. Asap yang ditimbulkan membuat sesak negara-
negara tetangga, kita bangsa Indonesia santai-santai saja bahkan
seolah tidak begitu peduli. Ini menjadi agenda “kebakaran rutinan”
jika musim kemarau tiba.

Konon, menurut informasi, sebagai implikasi pembakaran ini, sekira
16.000 hektare tanah menjadi gundul, dan antara 100 sampai 300
spesies mati setiap hari. Pada saat yang bersamaan, secara absolut
jumlah penduduk bumi meningkat 1 miliar orang per dekade.
Diperkirakan jumlah penduduk dunia pada tahun 2004 ini sekira 7
miliar, tahun 2035 akan menjadi 14 miliar, dan untuk tahun 2062
bertambah lagi menjadi 25 miliar.

Apa yang kemudian terjadi dengan sumber daya alamnya yang terbatas
ini? Menurut seorang ahli bidang kependudukan, Colin Clark, sumber-
sumber alam di bumi hanya dapat menampung maksimal 12 sampai 15
miliar manusia.

Itu pun dengan syarat, metode pertanian dan pengawetan tanah harus
berstandar tinggi, dan pembagian hasil-hasil alam harus merata di
seluruh bumi. Ini jelas menambah beban bumi yang sudah kian renta
dan sakit-sakitan.

Daftar tadi, menurut Haidar Bagir, tidak seberapa jika dibandingkan
dengan kemungkinan terjadinya perang nuklir. Jumlah senjata nuklir
yang tersedia pada saat ini, cukup untuk menghancurkan umat manusia
hanya dengan sekejap. Lebih dari 40.000 hulu ledak nuklir, yang ada
di dunia kini, masing-masing berkekuatan ribuan kali bom yang pernah
jatuh di Hiroshima dan Nagasaki. Sementara itu, kita belum bisa
melepas apa yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki, trauma dan pobia
yang berkelanjutan dengan jumlah 170.000 manusia tewas, dan sekira
100.000 manusia luka-luka akibat dari perang.

Inilah yang selama beberapa dekade terakhir menyadarkan orang akan
krisis lingkungan. Karena ini menyangkut kelangsungan hidup manusia
sejagat, walaupun agak terlambat, “dunia” Islam pun dibuat
tersentak. Belakangan, masalah krisis lingkungan ini juga menjadi
keprihatinan Sayyed Hussein Nasr, yang menganjurkan agar prinsip-
prinsip kearifan tradisional ditumbuhkan kembali ke dalam segala
aspek kehidupan modern.

Krisis lingkungan yang kini sedang merangsek ke hampir seluruh
penjuru bumi, tentu bukan melulu soal teknis dan ekonomis. Dalam
pendapat Nasr, krisis lingkungan adalah refleksi paling telanjang
dari krisis spiritual yang diderita umat manusia.

Karenanya, humanisme yang memutlakan bumi, alam dan lingkungan
diperkosa atas nama hak asasi manusia. Dalam tradisi Cartesian, yang
merupakan roh dari humanisme Barat, dikatakan bahwa akal manusia
sanggup menyelesaikan seluruh persoalan.

Karena itu, ia adalah superordinat dari seluruh spektrum kehidupan.
Alam dan lingkungan tidak lebih dari objek yang harus dikuasai dan
ditaklukan karena alam tidak lebih dari subordinat manusia.

Pandangan seperti inilah yang kemudian melahirkan paham
antroposentris di dunia Barat. Bahkan kredo dari peradaban Barat
menyatakan, “the man is the measure of all things”. Berkaitan dengan
itu, sekiranya pandangan tradisional Islam tentang alam dan
lingkungan mesti ditegaskan kembali. Maka krisis yang semakin
mengerikan itu tidak mungkin teratasi. Nasr tampaknya percaya bahwa
penemuan kembali spirit untuk melihat alam, manusia, dan yang
Mahasuci sebagai satu kesatuan bakal menyelamatkan alam beserta
isinya.

Pesan Dakwah

Salah satu doktrin Islam yang sangat terkenal menyebutkan bahwa
Islam yang dibawa Muhammad saw. adalah agama rahmat bagi semesta
(rahmatan lil alamin). Kata rahmat mencakup makna yang amat luas.
Dari kata itu dipahami bahwa keselamatan adalah rahmat,
kesejahteraan adalah rahmat, kecerdasan adalah rahmat, kesehatan
adalah rahmat, dan lingkungan pun merupakan rahmat.

Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kesehatan adalah
rahmat yang sangat istimewa. Karena semua jenis rahmat yang
disebutkan tadi hanya dinikmati sepenuhnya oleh orang yang sehat.
Pada saat yang bersamaan, Islam dipandang sebagai sumber motivasi
dalam berbagai aspek kehidupan, agar manusia selalu meningkatkan
kualitas hidupnya, termasuk dalam masalah kesehatan lingkungan.

Dalam hal ini, Allah berfirman: “Dengan kitab itulah Allah menunjuki
orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan
(dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari
gelap gulita, kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya
dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al Maidah: 16).

Gelap gulita yang dimaksud pada ayat di atas, mengandung berbagai
pengertian yang berkenaan dengan penderitaan. Seperti kebodohan,
kemiskinan, keterbelakangan, dan sakit. Sedangkan cahaya yang
terang, mengandung arti yang berkaitan dengan kebahagiaan dan
kesejahteraan, seperti kecerdasan, hidup yang layak, dan lingkungan
yang sehat.

Pada dasarnya orang beranggapan bahwa kesehatan — tidak terkecuali
kesehatan lingkungan — sangat penting bagi kehidupan manusia.
Sebagian yang lain beranggapan, seseorang dianggap sehat bila berada
dalam keadaan tidak sakit dan tidak cacat. Kesehatan dipandang
sebagai sesuatu yang alami dan dimiliki oleh setiap orang.
Kadangkala orang baru sadar akan pentingnya pemeliharaan kesehatan
bila suatu saat dirinya berada dalam keadaan sakit.

Di samping itu, kesehatan acap kali pula dipandang secara statis,
hanya terbatas pada keadaan sehat atau sakit, yaitu sehat dalam arti
tidak sakit, dan sakit dalam arti tidak sehat. Gradasi atau
tingkatan sehat dan sakit kurang dipahami, sehingga upaya-upaya
untuk meningkatkan kualitas kesehatan (lingkungan) yang mestinya
dilakukan pada saat sehat, kurang diperhatikan oleh masyarakat luas.
Padahal pemeliharaan kesehatan untuk mencegah penyakit nilainya
lebih baik daripada pengobatan terhadap penyakit. Para hukama
menyatakan al wiqayah khairun min al ‘ilaj.

Menjaga kesehatan lingkungan melibatkan persoalan yang complicated.
Maka dibutuhkan usaha-usaha intensif dan serempak. Usaha yang
intensif dilakukan bukan secara sesaat melainkan secara terus-
menerus. Usaha yang serempak dilakukan bukan hanya oleh segelintir
orang, melainkan melibatkan segenap lapisan masyarakat. Dalam
kepentingan bersama di hari lingkungan ini, kita mesti bekerja
bersama-sama. Pekerjaan penting ini menuntut keterlibatan
pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga dakwah, ormas, LSM, dan
tokoh-tokoh keagamaan dan kemasyarakatan lainnya. Semoga kita
terhindar dari marabahaya.***

Author: ENJANG, A.S, M.Si. Penulis adalah dosen IAIN Bandung dan Direktur Eksekutif Komunitas Jampe Sunda. Diambil dari Pikiran Rakyat, gambar dari trekearth

Iklan
, , , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.