Seks: Mengapa Tabu?

26 Mei 2010

Inspirational

Artikel dari Soe Tjen Marching

Pandanglah sejenak: bunga yang putiknya diserpihi sari, anak itik tertatih, bayi yang mungil. Semua itu tak akan ada bila satu hal dilarang: seks!

Kita berhutang pada seks. Manusia tidak akan lahir dan ada, tanpa seks. Lalu mengapa seks begitu dihujat? Bukankah ini seperti sikap yang tak tahu diri? Hidup kita berhutang padanya dan ada karenanya, tapi kita sendiri tak mau mengakuinya dan malah membelenggu anak-anak kita dari pengetahuan tentang seks.

Keterbukaan akan seks seringkali disamakan dengan tiadanya moralitas. Namun, apakah membuat anak cucu kita buta akan hal yang begitu penting dalam hidup mereka bisa dinamakan bermoral? Dan dengan demikian membuat mereka buta sehingga bila pelecehan seks terjadi, mereka akan bungkam, karena merasa begitu malu dan tabu untuk mengutarakannya. Mereka akan kehilangan bahasa. Karena itu pula, korban pemerkosaan di Indonesia jarang menuntut di pengadilan. Sedangkan hasrat seks telah ada pada manusia sejak dini, bahkan sejak umur 5-7 tahun, anak-anak telah mempunyainya. Apakah bermoral membiarkan mereka tertekan dan kebingungan akan seksualitas mereka?

Dan inilah yang terjadi saat kita memperlakukan seks dengan semena-mena. Ia juga menjadi asing, di tempat-tempat dimana seks ditabukan, kehamilan di luar nikah juga tinggi, aborsi gelap merebak, pelecehan seksual menjadi-jadi.

Kita mungkin lupa. Hal yang kita anggap sebagai benda mati, suatu kala bisa bereaksi – ia bisa mempunya kehidupan sendiri. Selalu ada kehidupan sendiri pada benda-benda di sekitar kita. Air adalah benda mati bagi banyak orang. Namun, siapa yang bisa menyangkal pentingnya air dalam kehidupan manusia? Dan perlunya menghormati sumber ini. Begitu juga dengan seksualitas. Bila kita menghormatinya, kita tidak akan memandangnya sebagai sesuatu yang menjijikkan, tapi sesuatu yang indah.

Seks seharusnya dihormati. Ia bisa dibicarakan secara terbuka, dengan rasa hormat. Ia harus dilakukan tanpa paksaan, dan dengan persetujuan penuh dari pihak-pihak yang bersangkutan. Sehingga sebagai bentuk kenikmatan dan keindahan, ia tidak menjadi dominasi sebagian pihak saja.

Seks adalah salah satu bentuk kenikmatan. Manusia mempunyai banyak kenikmatan dari hidup, seperti makan, minum, tidur. Tapi mengapa kenikmatan akan seks seringkali menjadi tabu?

Anehnya, dimana kenikmatan seks dianggap topik yang tabu, ia malah menjadi dominasi pihak yang dianggap kuat. Lelaki-lah yang masih dianggap lebih berhak akan hal ini. Mereka yang tidak diusik akan masalah keperawanan. Lelaki gaek dengan “daun muda” dianggap pemandangan biasa (karena lelaki kan membutuhkan), sedangkan nenek-nenek dengan jejaka belia akan menimbulkan berjuta kecaman. Bahkan, oleh beberapa kelompok, poligami diijinkan untuk lelaki dan diharamkan untuk perempuan.

Lalu, apakah seks masih tabu? Atau ini hanyalah ketabuan yang rancu? Karena ia justru merebak, meraja-lela dan menjadi alat penindasan. Ia dihujat, namun seringkali justru sang penghujatlah yang diam-diam menikmatinya. Bukankah Roma Irama yang begitu menggebu mengutuk Inul, ternyata diam-diam berhubungan dengan Angel Lelga? Yang mengingatkan pada jaman Puritanisme di Eropa, dimana para petinggi Gereja dengan getol mengutuk kenikmatan seks, tapi mereka sendiri ternyata mempunyai gundik rahasia dan beberapa bahkan melakukan pelecehan kepada bocah-bocah.

Memang mengecam kelompok tertentu atas nama moralitas bisa menjadi senjata ampuh bagi yang berkuasa. Karena itulah, para pemimpin agama (ahli Taurat dan beberapa orang Farisi) mengutuk Yesus yang begitu dekat dengan pelacur Maria Magdalena. Dan karena ini juga, ia harus berakhir di kayu Salib.

Iklan
, , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.