Belajar tentang Cinta dari Sesosok Jin

7 Mei 2010

Books

Review dari Novel Master of The Jinn

Oleh: Meithya Rose Prasetya

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ketika membaca beberapa lembar awal novel ini, saya menduga akan menemukan kisah yang nyaris mirip dengan The Da Vinci Code, sebuah novel yang mengupas simbol-simbol dalam agama Kristen. Namun ketika melanjutkan membaca, kisah pun bergulir dengan sangat mengejutkan.

Bagi saya, si penulis seolah meramu antara kisah petualangan spiritual ala Celestine Prophecy dari James Redfield; The Last Barrier, sebuah memoar dari Reshad Feild yang berpetualang ke negeri para darwis; dan sedikit bumbu padang pasir ala The Alchemist dari sang maestro Paulo Coelho. Alhasil, terciptalah sebuah alur cerita yang menegangkan, menyentuh, penuh makna yang berlapis-lapis, namun pada saat yang sama juga sarat akan simbol-simbol religius kuno, yang hanya dapat dikupas maknanya melalui kearifan yang bening (pure wisdom). Dan itu pun belum cukup, sebab cerita terus bergulir hingga menyentuh dunia yang masih begitu misterius bagi manusia biasa: Dunia Jin. Siapa yang mengira kalau kita pun terseret dalam lakon pertarungan antar-makhluk Tuhan yang tak-kasat-mata fisik ini?

Lebih jauh lagi, novel Master of the Jinn, sebagaimana kebanyakan karya sufi pendahulunya, berbicara tentang cinta. Tapi, pernahkah Anda membaca sesosok jin menjadi pengembara ruhani, demi berusaha meraih cinta yang hakiki? Karena barang siapa memiliki cinta tersebut, maka tersentuhlah dia dengan Cahaya Surga. Dan, Ornias, jin jahat yang memang terkenal dalam The Testament of Solomon sebagai pengisap vitalitas seorang pemuda kesayangan Raja Sulaiman, sudah sedemikian dahaganya dengan cahaya itu, maka dia pun memilih untuk menjadi Faqir, seorang pengembara ruhani dengan tujuan akhir Cinta. Dan, dengan Keagungan Allah, maka jadilah Ornias, seorang pencinta.

Terkabulnya impian Ornias menjadikan saya merenung, bukankah itu artinya segala makhluk di semesta ini memiliki peluang yang sama untuk tumbuh secara spiritual dan meraih keagungan cinta Sang Ilahi? Tidakkah itu pun membawa kita kepada suatu pemahaman bahwa hanya cinta satu-satunya jalan bagi segala makhluk untuk mengenal Allah, Tuhan, YHWH, atau apa pun sebutan kita pada Kekuatan Mahatinggi?

Master of The Jinn

Sungguh, novel ini memang pada akhirnya menyadarkan kita kepada cinta yang lebih luhur tetapi selama ini terlupakan akibat keasyikan kita pada rutinitas duniawi. Dalam goresan pena seorang Irving Karchmar, cinta tak lagi dijabarkan dengan kata-kata belaka, namun melalui kekayaan pengalaman ketika mengikuti suatu tarekat.

Rasakanlah bagaimana Karchmar melalui tokoh Ishaq seakan mengajak kita, sebagai pembaca, menempuh perjalanan yang sama seperti dia. Anggaplah diri Anda adalah Ishaq yang duduk di tengah-tengah Tarekat Nimatullahi, kemudian terjebak ke dalam gurun pasir, dan terhenyak dengan pengetahuan baru tentang identitas sejati Ornias. Lalu Ishaq pun menembus dunia jin yang tak kasat mata dan akhirnya belajar tentang kedahsyatan cinta. Juga, nikmatilah pergulatan-pergulatan Ishaq dengan dirinya sendiri, bagaimana dia berusaha menaklukkan pikiran dan menyingkapkan benih-benih yang ingin tumbuh dalam dirinya.

Anda pun dapat menyelami karakter Ornias, si jin jahat. Betapa dia menderita karena tak mengenal cinta yang sejati. Tapi sungguh mencengangkannya ketika dia memilih pengalaman sebagai manusia untuk belajar mengenal cinta itu. Tidakkah kita terperangah? Sementara kita yang selama ini mengambil peran sebagai manusia, justru tak menyadari potensi yang tersembunyi dalam diri kita. Kita biarkan diri kita terlena dalam permainan cinta yang palsu, cinta yang menjadi altar bagi ego kita.

Akhir kata, jadikanlah Ornias sebagai pelajaran dalam memahami cinta dan ambillah bagian dalam petualangan Ishaq ke dalam dirinya. Ini adalah cara yang bisa saya tawarkan untuk membaca novel ini sekaligus memetik hikmahnya, selapis demi selapis. Alangkah indahnya jika pengalaman ini justru menjadikan Anda orang yang berbeda setelah membaca Master of the Jinn. Semoga kedamaian mengiringi perjalanan hidup Anda. Amin.

Meithya Rose Prasetya (Penerjemah, Editor, dan Praktisi Yoga)

“Sebuah mahakarya spiritualitas!”
—Amazon.com

“Fantastis dan menegangkan!”
—Jawa Pos

“Penuh dengan pesan-pesan rahasia.”
—Sufism: An Inquiry Magazine

“Lebih hebat daripada The Da Vinci Code.”
—Inspire Magazine

Iklan
, , , , , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.