Sehat dengan Spiritualitas

29 April 2010

Spiritualism

Sharon Wyatt bukan tradisionalis tulen. Namun gelombang materialisme memunculkan sejumput pertanyaan di kepalanya: apa gunanya doa, sembahyang, atau ritual? Apa gunanya agama —spiritualitas— di tengah modernitas yang begitu perkasa?

Pertanyaan-pertanyaan ini lantas memelantingkan Wyatt, peneliti Pusat Kesehatan Universitas Mississippi, Amerika Serikat (AS), ke pusat-pusat peribadatan di seantero kota itu. Ia bergaul, berbicara, berbantahan, dengan lebih dari 5.000 warga Afro-Amerika, komunitas yang telah lama menarik perhatiannya.

Maka, usai riset berbulan-bulan, gumpalan pertanyaan itu pun pecah bagai bongkahan es yang digodam palu. Para Afro-Amerika itu mengajarkannya satu hal: agama dan spiritualitas tak harus padam oleh silau modernitas.

Agama dan spiritualitas, dalam banyak hal, terbukti berguna untuk kesehatan. Ia memiliki efek positif terhadap tekanan darah,” terang Wyatt, seperti dikutip HealthDay News. Kesimpulan ini didasarkan riset terhadap 5.300 keturunan Afro-Amerika, Temuan mencerahkan ini dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Hypertension’s di New York City, Jumat (19/5). Studi ini menyingkap fakta terpendam, sekaligus melahirkan optimisme baru. Orang-orang yang meluangkan waktu untuk aktivitas keagamaan, kata Wyatt, secara signifikan memiliki tekanan darah yang lebih rendah ketimbang yang tidak melakukan aktivitas keagaaman.

Padahal, terang dia, orang-orang ini (yang giat beragama) mempunyai Indeks Massa Tubuh yang lebih besar ketimbang responden yang malas sembahyang atau berdoa, sehingga berpotensi cukup besar terserang takanan darah tinggi. Namun aktivitas keagamaan mereduksinya.

”Temuan kami menunjukkan integrasi antara agama dan spiritualitas (seperti menyambangi tempat peribadatan dan berdoa) mampu menjaga seseorang dari terpaan stres dan menunda efek merusak dari hipertensi,” terang Wyatt.
Kendati seluruh responden Wyatt kaum Afro-Amerika, studi ini berlaku secara universal. Keturunan Afro-Amerika dipilih Wyatt lantaran penyakit kardiovaskular dikenal sebagai biang utama kematian mereka. Penyakit ini dipicu hipertensi atau tekanan darah tinggi. Dan spiritualitas adalah obat peredanya. Kini, tahulah Wyatt mengapa sembahyang, doa, atau ritual dititah Tuhan.

Arus balik

Satu dekade terakhir, di AS –kiblat materialisme– muncul sebuah arus balik dalam dunia kedokteran. Ketika teknologi kesehatan makin mutakhir, metode pengobatan alternatif yang melibatkan spiritualitas dan agama, kian menjamur.

National Center for Health Statistics (2004) membongkar fakta itu. Survei lembaga ini terhadap 31 ribu mantan pasien dewasa di AS menunjukkan 62 persen pasien mengombinasikan perawatannya dengan pengobatan alternatif yang memasukkan unsur spiritualitas (doa dan kepasrahan).

Doa sebagai terapi diyakini banyak warga AS kini,” tutur direktur National Center for Complementary and Alternative Medicine (NCCAM), Stephen E Straus MD. Mereka juga melakukan pendekatan lain yang memiliki komponen spiritual, seperti meditasi, yoga, taichi, qi gong, atau reiki.

Pendekatan seperti ini, kata Straus, pada dasarnya, memberdayakan aspek pikiran dan tubuh (mind-body medicine) dalam waktu bersamaan –satu hal yang sejak lama diabaikan di Barat.

”Pendekatan mind-body dan bukti-bukti kesembuhan yang dialami para pasien, membantu memperbaiki kekeliruan persepsi di Barat bahwa pikiran dan tubuh adalah sesuatu yang terpisah,” terang Straus.

Hasil penelitian malah menunjukkan, koneksi antara pikiran (jiwa atau hati), otak, dan seluruh sistem tubuh, terbukti mampu meningkatkan kekebalan tubuh, fungsi kardiovaskular. dan perubahan-perubahan psikis pada diri pasien.

Tentang makna hidup

Terapi berbasis spiritualitas, dalam banyak hal melibatkan doa. Doa diartikan sebagai sebagai proses komunikasi aktif dengan kekuatan Agung. Tapi doa cuma salah satu gerbang menuju spiritualitas.

Menurut Catherine Stoney, dari Divisi Training NCCAM, tujuan akhir spiritualitas adalah mengasah ketajaman rasa pasien akan makna kehidupan. Secara menakjubkan, cara ini efektif dalam mengurangi sakit akibat penyakit-penyakit berat, bahkan tak tersembuhkan, seperti HIV/AIDS.

Sebuah studi mendalam sempat dilakukan Joel Tsevat, direktur Riset Departemen Penyakit Dalam Universitas Cincinnati, yang melibatkan 350 pasien HIV/AIDS. Tsevat cukup terkejut mendengar pengakuan para pasien ini.

”Mereka mengatakan telah memperoleh makna kehidupan dan tujuan hidup baru usai didiagnosis HIV,” kata Tsevat.

Kekuatan spiritual tampak nyata ketika mereka diminta memilih antara status kesehatannya saat ini atau sehat sempurna. Tak sedikit memilih yang pertama.

Kekuatan spiritualitas menggelitik tiga peneliti di New York: Barry Rosenfeld dan Colleen McClain (Universitas Fordham), dan William Breitbart (Pusat Kanker Sloan-Kettering). Breitbart secara khusus meneliti efek spiritualitas pada penderita kanker stadium lanjut. Mereka menyimpulkan bahwa spiritualitas memberikan efek penjagaan (buffer effect) bagi para pasien agar tidak terjerumus ke dalam rasa putus asa.

”Ketika orang putus asa, mereka merasa bahwa apa yang dilakukannya tak bermakna. Nilai-nilai spiritualitas membantu mengatasi hal itu,” papar Rosenfeld.

Riset ketiganya juga telah menemukan bukti-bukti fisiologis, yakni hubungan efek spiritualitas dengan organ tubuh. Semuanya bermula dari interleukin-6 (IL-6). IL-6 adalah protein yang seringkali berkaitan dengan mood seseorang sekaligus berperan besar dalam fungsi kekebalan tubuh. IL-6 terlibat dalam peradangan, proses yang terkait dengan serangan jantung, diabetes, dan stroke.

Perasaan spiritualitas –ketenangan dan kedamaian akibat pemahaman makna hidup– berperan dalam mengontrol naik turun IL-6 dalam darah. ”Kita telah melihat bahwa spritualitas berperan banyak dalam kesehatan dan mortalitas. Dengan kata lain, ia terkait langsung dengan umur panjang,”kata dia.

Sumber: Republika

Iklan
, , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.