Orkestra Semesta Raya

17 April 2010

Spiritualism

Begitu meninggal, Habib Kiai Haji Ahmad Sirazy langsung membayangkan surga di depannya. Surga yang penuh kenikmatan, dengan 72 bidadari yang selalu perawan, dan juga sungai-sungai jernih yang mengalir.

Jumlah kebaikannya di dunia sudah tidak bisa dihitung lagi, sudah berpuluh masjid didirikannya, sudah beratus orang ditolongnya, berjuta-juta rupiah dikeluarkan atas namanya. Namanya harum, ketika dia mati, ribuan orang melayat dan menangis. Koran-koran diisi mengenai kabar kematiannya, dan juga menyatakan jasa apa yang telah dilakukannya selama hidup.

Kebahagiaan tiada tara untuk menyambut kebahagiaan baru di akhirat yang abadi itu. Sudah siaplah dia menyambut dan bertemu dengan pahlawan-pahlawan Islam di surga. Menikmati hasil jerih payah selama di bumi.

Di pintu masuk akhirat, tak terhitung jumlahnya yang mengantri untuk masuk akhirat. Habib mengumpat-umpat, makhluk yang antri jelek-jeleknya minta ampun. Ada yang berlendir, berkaki tiga, terus bermata tujuh. Ada yang baunya minta ampun, rambutnya seperti kelabang kelayapan, pendek seperti cebol. Ada yang berwajah seperti kepiting, berkaki satu, jalannya melompat-lompat. Semua jenis ada di antrian itu, Habib sampai muntah-muntah dibuatnya. Celakanya lagi, semua harus antri untuk masuk akhirat. Tambah celaka lagi, karena banyaknya yang antri, semua harus berdesak-desakan, sehingga tak ayal lagi, saling sentuh sama lain, ada yang saling dorong, dan sebagainya.

Selain panas, suasana juga tidak enak di antrian itu. Karena bentuk yang berbeda-beda, komunikasi pun jadi susah. Habib menjadi semakin sewot.

Demi Allah, kalian akan mendapat laknat tidak melayaniku secepatnya.’

Habib sambil mengacungkan tangan meminta didahulukan daripada makhluk-makhluk jelek yang juga sedang antri.

‘Itu yang teriak-teriak disana, coba dihadapkan kemari dulu.’

Tiba-tiba terdengar keras suara dari resepsionis akhirat. Habib tahu panggilan itu untuknya, karena memang hanya dia yang teriak-teriak. Dia langsung dengan bersemangat dan senyum penuh kemenangan maju ke resepsionis.

Allahu Akbar. Demi Allah…’

Sebelum Habib selesai berbicara, resepsionis akhirat menyela.

‘Maaf, demi siapa..?’

Resepsionis akhirat memasang telinga lebar-lebar.

Demi Allah, Tuhan semesta Alam. Aku adalah Profesor Doktor Habib Kiai Haji Ahmad Sirazy, Sarjana Hukum. Aku masih keturunan Nabi Akhir Zaman, Muhammad. ‘

‘So what..?. Maaf, tidak pernah mendengar semua itu. Allah, siapa lagi itu. Ok, karena namamu panjang aku panggil saja Pak Doktor Habib..’

Sebelum resepsionis itu selesai berbicara, Habib menyela juga …

‘Panggil saja Pak Kiai lebih cepet dan gampang.’

‘OK, Pak Kiai. Di tempat anda dulu pasti tidak ada budaya antri, tapi tak apalah khusus untuk Anda akan kukecualikan. Pak Kiai mau apa..?’

‘Aku sudah berbuat baik selama di dunia, aku ingin dimasukkan surga.’

‘Sebentar dulu, anda berasal dari mana…?’

‘Aku berasal dari Jakarta, Indonesia. Itu letaknya di bumi’

Resepsionis akhirat menggelengkan kepala, semakin bingung dimana pula Jakarta Indonesia itu.

‘Oke, begini Pak Kiai, daripada sama-sama bingung. Pak Kiai tunggu di kursi sebelah sana itu, anak buah saya akan mencari data Pak Kiai.’

Dengan bersungut-sungut Pak Kiai akhirnya menurutinya. Setelah sekian lama akhirnya Pak Kiai dipanggil lagi.

‘Aduh maaf Pak Kiai, yang anda namakan Jakarta Indonesia itu tidak kami temukan, bumi juga tidak kami temukan dalam database kami. Karena saya mengira bahwa bumi adalah planet yang amat sangat kecil sekali.’

Pak Kiai segera mencak-mencak gak karuan.

‘ Dasar kurang ajar, begini kalau bumi kurang besar, jangan-jangan matahari kurang besar, tata surya juga kurang besar, kalau tidak salah ingat, galaksi yang kutinggali bernama Bima Sakti, begitu yang dibilang cucuku dulu.’

Pak Kiai, mohon bersabar, galaksi di semesta ini ada lebih dari 100 milyar, tidak dengan gampang mencarinya. Mohon sekali lagi bersabar.’

Resepsionis akhirat segera memerintahkan asistennya untuk mencari galaksi bima sakti. Pak Kiai kembali ke tempat duduknya semula. Tapi lama sekali Pak Kiai menunggu, rasanya tidak pula galaksi Bima Sakti ditemukan. Tapi tiba-tiba asisten resepsionis itu berjingkat, dan langsung berlari ke depan, terus berbisik kepada bosnya.

‘ Bos, aku ada ide, Pak Kiai brengsek itu sudah dikasih duluan, berulah lagi, biar dia saja yang cari sendiri.’

Resepsionis akhirat mengangguk-angguk. Pak Kiai lalu dipanggil lagi.

Pak Kiai, kami mohon maaf, kami tidak pula bisa menemukan BIma Sakti. ‘

‘Lho, piye iki…?, koq bisa-bisanya Anda menyepelekan saya. Saya ini beragama Islam, Rasul saya Muhammad, Tuhan saya Allah.’

‘Maaf Pak Kiai, Islam saya juga tidak pernah mendengar, apalagi Muhammad ataupun Allah.’

Pak Kiai marah-marah, karena bukan hanya saja dia tidak dianggap siapa-siapa di situ, bahkan bumi pun tidak tercatat di database akhirat. Bahkan Islam yang selama hidupnya menjadi warna sehari-haripun tidak dikenal.

‘ Kalau Pak Kiai tidak berkeberatan, saya masih banyak klien yang lain, mohon beri waktu juga bagi mereka. Kalau Pak Kiai mau, silahkan di belakang ruangan ini ada super komputer yang mungkin bisa membantu Pak Kiai menemukan dimana letak bumi itu.

‘Baik, karena ketidaksopanan Anda, saya akan menerima hinaan Anda itu dengan mencari bumi, masak bumi segedhe itu tidak ada dalam catatan kalian. Saya tidak akan balik sebelum saya menemukannya.’

Pak Kiai segera bergegas menuju ruangan belakang, dan langsung duduk di depan super komputer itu.

Hari demi hari, bulan demi bulan, hampir setahun Pak Kiai duduk di depan komputer itu, mau menyerah malu, tapi tidak menyerah kesabaran Pak Kiai rasanya sudah habis. Petanya alam semesta saja bertahun-tahun tidak selesai dijelajahi, apalagi yang aslinya. Pak Kiai bergumam terkagum-kagum.

‘Indah sekali ya alam semesta ini, tapi juga sangat besar sekali, menghitung galaksi saja aku sudah tidak sanggup, apalagi menghitung matahari, apalagi menghitung planet-planet. Baru menghitung, belum pula mempelajari. Orkestra Semesta Raya yang menakjubkan. Mana pula surga yang dijanjikan Allah kepadaku. ‘

Tepat sehari sebelum masa setahun Pak Kiai duduk mencari di depan super komputer itu, akhirnya dia menyerah. Diapun kembali ke resepsionis akhirat.

‘Maaf Mas, saya nyerah deh. Saya tidak menemukan bumi dalam peta semesta di komputer itu. Saya harus bagaimana sekarang…?’

Pak Kiai dengan terbata-bata seakan memohon untuk dimasukkan surga. Resepsionis akhirat pun memang kasihan sama Pak Kiai.

‘Begini Pak Kiai, karena Anda tidak punya identitas, saya tidak bisa memasukkan Anda, baik ke neraka ataupun ke surga. Tapi begini saja, Pak Kiai setahun menjadi tukang pel di ruang resepsi akhirat ini, setelah setahun saya melihat kelakuan baik ataupun buruk Pak Kiai, saya baru bisa memasukkan Pak Kiai ke surga ataupun neraka, tapi harus diingat di surga pun, paling tinggi pangkat Pak Kiai jadi tukang kebun.’

Mata Pak Kiai terbelalak, dan kemudian pingsan. Di dalam pingsannya, dia melihat cucu kesayangannya mendirikan partai politik di bumi untuk menegakkan khilafat Islam

Author: Muhammad Amin, pengarang buku “Ziarah ke Makam Tuhan

Iklan
, , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.