Tuhan pun ber-Facebook (part 2)

28 Maret 2010

Spiritualism

Kemarahan Tuhan sungguh tiada terkira kepada Yesus. Salah satu makhluk kesayangannya itu sudah mbalelo, memang satu dua hal disebabkan oleh Tuhan sendiri, tapi toh keberaniannya mengeluarkan pernyataan frontal itu diluar dugaan Tuhan dan membuatnya sangat marah.

Tuhan lalu mengalihkan perhatiannya supaya kemarahannya berkurang. Dia lalu mengirim message kepada Musa. Musa juga gampang ditemukan karena juga ada di friendlistnya Muhammad.

` Musa, wah lama nian tiada kabar, sedang apa dirimu..?, masih hidupkah..?. Apakah sepuluh perintahku sudah dilaksanakan dengan baik oleh umat..?. Ah ya, yang sepuluh itu kan dasar, aku ingin tahu sekalian dengan 613 keseluruhan perintahku itu, mana saja yang berhasil terlaksana mana yang tidak…?. Wah maaf, aku bertanya terlalu banyak ya. Anyway, aku bahagia bisa bertemu kamu lagi.

Tertanda,
Tuhan.’

Tuhan memperbaiki caranya berkomunikasi dengan berhati-hati berucap dan berbasa-basi meminta maaf dulu kepada Musa. Dia tak mau kejadian dengan Yesus terulang lagi.

` Eh Tuhan, tumben ingat sama kita-kita lagi. Aku baik-baik saja, tak kekurangan suatu apa. Biasalah pekerjaanku sekarang ini, bengong melihat pertarungan antar manusia yang semakin lama semakin gila saja. Makhlukmu yang bernama manusia itu sudah canggih benar teknologinya, tapi jiwa binatangnya masih melekat rapat. Bumimu ini dengan gampangnya bisa hancur lebur kalau pertarungan2 cengeng ini terus berlanjut.

Anyway, begini Tuhan. Terus terang aku bangga engkau utus aku untuk kaum Yahudi, karena saat ini merekalah yang menguasai baik secara langsung maupun tidak langsung politik bumi. Tapi kalau masalah perintahmu yang 613 itu, jangan tanyalah yang kaya gitu. Berbohong, mencuri, menduakanmu, dan banyak kejahatan lain yang engkau larang itu semua tentu mereka lakukan bahkan kini dengan metode yang lebih rapi dan indah. Tapi itu semua bukan kesalahanku, aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi tahu sendirilah Tuhan, manusia itu tidak diawasi sebentar saja, sudah berbuat yang tidak-tidak pasti. Ingat kejadianku dulu kan Tuhan, waktu mereka pada menyembah sapi padahal baru sebentar kutinggal. Sekarang yang disembah uang dan kekuasaan. Ok Tuhan, aku mau melanjutkan kebengonganku.

Kind Regards,
Musa.’

Hhmmm, Tuhan manggut-manggut. Laporan yang tidak begitu bagus tapi disampaikan dengan gaya yang sopan dan runut. Tuhan suka dengan Musa ini, akhirnya ada lagi yang kembali ke pangkuanku lagi, begitu pikir Tuhan. Tuhan teringat sama salah satu utusannya yang menurut gosip hilang begitu saja tanpa ada berita. Diingat-ingat namanya, Tuhan agak pelupa memang. Karena masih tidak ingat juga, akhirnya Tuhan browse saja di friendlistnya Musa. Ah akhirnya ketemu juga, Mani namanya. Seorang nabi di abad 4 Masehi yang gagal meneruskan ajarannya mendunia.

` My dearest Mani, what’s up fella…?, how’s life there..?. Sungguh kebahagiaan tersendiri bisa mendapatkan accountmu lagi di Facebook ini. Bagaimana perkembangan ajaran yang kau bawa..?. Aku berharap engkau sehat wal afiat dan sejahtera disana.

w/ sincere care,
Tuhan. ‘

Walaupun Tuhan tahu Mani gagal dengan ajarannya, tapi Tuhan sengaja tidak langsung menabrak dengan fakta, takut kejadian sama Yesus terulang lagi juga.

` Hai Tuhan, tak kira kau sudah mati, lama sekali gak terdengar kabarmu lagi. Ajaranku terlunta-lunta Tuhan, bahkan boleh dibilang punah saat ini. Yah bagaimana lagi, tidak ada kekuatan politik kuat yang menjadi backing ajaranku, sebagai akibatnya Tuhan tahu sendiri, yang mendengar nama Mani pun sudah jarang sekali saat ini, apalagi mengikuti ajarannya. Eh tapi ada kabar gembira sih sedikit, Muhammad meniru ajaranku hampir semuanya, mulai dari model ketuhanan, model kenabian, sampai cara penyampaian. Dia kembangkan juga sih, dia lebih kreatif lah sehingga akhirnya bisa seperti sekarang ini Islam yang dia bawa. Jadi aku tidak gagal total lah Tuhan, metodeku setidaknya dipakai oleh salah satu agama tersukses di dunia ini.

Anyway, kutagih janjimu sekarang akan surga yang indah itu, mana koq sampai sekarang belum kau tepati janjimu. Emangnya enak terus-terusan di bumi yang penuh makhluk suka perang ini, aku sudah bosan bener deh. Segeralah kau kiamatkan alammu ini, jadi aku bisa cepat-cepat masuk surga.

Hambamu dalam penantian,
Mani.’

Pintar juga Mani ini pikir Tuhan. Walaupun gagal dicoba mencari penghiburan atas kegagalan itu, ya memang sih Muhammad meniru pola ajaran Mani, tapi gitu saja koq dibangga-banggakan. Tuhan hanya tersenyum-senyum saja.

` Wah Mani, jangan cepat-cepat minta kiamat lah, aku masih senang melihat makhluk-makhluk tolol itu ribut satu sama lain, toh tanpa aku kiamatkan, mereka sudah bisa membuat kiamat sendiri dengan pemanasan global, perlombaan senjata nuklir, perlombaan senjata kimia, kemiskinan akut, wah banyak cara menuju kiamat lah. Keep in touch saja, ntar kalau akan kiamat, tak kasih kabar ya.

Love you,
Tuhan.’

Tuhan sudah capek, sudah beberapa hari ini kerjaannya cuma ber-Facebook saja. Dia mau plesiran sebenarnya, tapi sebelum itu ada baiknya ngirim message satu lagi, toh jalan di surga masih agak becek karena hujan tadi, sambil nunggu agak terang. Dia lalu nulis message buat Sidharta Gautama.

` Hi Sidharta, aku tahu kau sudah bosan denganku, tapi kuhubungi kau juga sekarang ini. Siapa tahu kau mau lagi berkomunikasi denganku..?.

Yang rindu padamu,
Tuhan.`

Sidharta kasihan dengan Tuhan akhirnya, dia tahu kalau Tuhan memang kesepian. Di saat jutaan bahkan milyaran manusia menyembahnya, tetapi sebenarnya mereka malah mempreteli sedikit demi sedikit ketuhanan Tuhan.

` Hi Tuhan, bukan maksudku untuk mengekskomunikasimu, tetapi aku takut bahwa kehadiranmu salah dimengerti dan lebih banyak jeleknya daripada baiknya. Ketakutanku ternyata terbukti, dan aku meminta maaf atas sikapku yang acuh tak acuh sama kamu. Semoga engkau mau memaafkanku.

Cheerz,
Sidharta Gautama.’

Tuhan berbangga diri, ternyata motif Sidharta mengacuhkannya adalah bukan karena Sidharta tidak percaya Tuhan, tapi karena kehadiran Tuhan lebih banyak berefek negatif. Ah, Tuhan mulai narsis lagi.

`Oh jadi selama ini kau sebenarnya mengakui keberadaanku, tetapi sebaiknya kau berterus terang pada umat manusia. Akuilah memang kalau Tuhan itu ada, dan itu perintah dariku. Aku tidak ingin semakin banyak manusia meninggalkanku atau terkesan melupakan diriku.

Tertanda,
Tuhan.’

Sidharta mulai bete lagi sama Tuhan, mulai minta macam-macam.

` Dengan segala hormat, kau sudah mulai bertingkah lagi Tuhan. Sudah kubilang kehadiranmu lebih membawa kejelekan daripada kebaikan, oleh karena itu aku tidak sudi menaati perintahmu, sekali lagi itu demi kebaikanmu sendiri. Sudahlah, belum ada manusia yang mampu mengerti keberadaanmu secara menyeluruh dan rasional. Daripada namamu disalahgunakan dan di selewengkan, lebih baik kamus Tuhan ditiadakan dari kosakata manusia.’

Yang memperhatikanmu,
Sidharta Gautama.’

Dihilangkan dari kosakata manusia, wah Sidharta ini sudah ngawur pikir Tuhan.

`Ternyata sikapmu belum berubah oh Sidharta tolol. Baiklah, kuterima penghinaanmu ini. Aku akan buktikan bahwa aku bisa menciptakan makhluk yang lebih tahu berterima kasih daripada kalian-kalian semua di bumi yang semaunya sendiri.

Tertanda,
Tuhan.’

Sidharta tak kurang akal, kali ini dibalas message dengan lugas dan ofensif.

`Dear Tuhan,
Silahkan saja, toh selama ini memang kami tak membutuhkanmu. Ada tiadanya kamu tidak berpengaruh, sudahlah terimalah takdirmu Tuhan. Kami akan berusaha sendiri semampu kami untuk kebaikan kami sendiri dan makhluk-makhluk yang lain.

Salam Metal,
Sidharta Gautama.’

Lagi-lagi Tuhan merasa di fait acompli , kali ini marahnya sudah tidak bisa ditahan-tahan lagi. Tuhan ngambek berat, instalasi internet di surga pun diperintahkan untuk dicabut lagi, lebih cepat lebih baik. Tuhan pun plesiran keliling surga untuk mengurangi kekecewaannya.

author: Muhammad Amin (www.facebook.com/ muhammad.amin.writer)

Iklan
, , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.