Lukisan Cinta dari Denmark

25 Maret 2010

Spiritualism

Cuaca cerah sekali, matahari dengan gayengnya memanasi bumi. Yesus
mengebut motor Astrea Supra nya, buru2 ingin menemui Muhammad. Ada hal
penting yang ingin disampaikannya pada Muhammad. Sesampai di rumah
Muhammad, Yesus segera memarkir sepeda motornya di depan rumah
Muhammad alias ruas jalan, karena Muhammad memang rumahnya kecil
sekali, tipe RSSSSS (Rumah Sangat Sederhana Sampai Susah Selonjor), dan
tentunya tidak punya halaman depan apalagi taman. Helmnya segera
disampirkan di kaca spion.Ting tong…….Ting tong…..Ting tong………!!!!!!

Yesus memencet bel berkali2…

“Assalamu alaykum….Assalamualaykum…..”

Yesus celingak celinguk di depan rumah Muhammad, kemana nih Muhammad
pikirnya. Dipencetnya lagi bel berkali2, tiba2 terdengar suara dari dalam.

“Wa’alaykum salaaammm..”

Pintu terbuka, Muhammad mengucek2 mata, rupanya dia tadi tidur. Maklum
panas2 begini memang enaknya tidur siang.

” Oh Mas Yesus, monggo monggo silahkan masuk. Shalom…”

“Shalom. Dik Muhammad, aku gak punya waktu banyak, sebentar lagi aku ada
presentasi bisnis. Tapi aku ingin menyampaikan sesuatu yang amat penting, Dik
Muhammad sudah tahu belum, ini ada gambar karikaturmu di koran, wah ini
namanya tindakan subversif. Pencemaran nama baik, insult, benar2 tidak bisa
diterima…”

“Wah Mas Yesus, terima kasih sudah repot2 mengabari saya, tapi saya sudah
tahu sejak lama. Wong sebelum diterbitkan, mereka minta ijin saya untuk
menerbitkannya. Saya sih meluluskan saja permintaan mereka, saya
menamakannya malah “Lukisan Cinta”, ini namanya demokrasi yang sehat,
saling mengkritik dan dibumbui dengan sarkasme, demi adu wacana
menambah kedewasaan berpikir dan bertindak, bukankah itu indah Mas Yesus”

“Dik Muhammad ini gimana, koq malah nyantai2 saja, lha itu diluar sana
umatmu pada protes besar2an sampai bakar2 bendera segala, siap bunuh2an
malah. Dan lagian kan sudah ada di aturan Islam tidak boleh membuat
gambarmu.”

“Dulu memang peraturannya begitu, tidak boleh ada gambarku supaya tidak
ada kultus individu, supaya tidak mengulangi kejadian pengkultusan Mas Yesus
dan Mbah Sidharta. Tetapi sekarang sudah bebas koq, aku rasa manusia jaman
sekarang seharusnya sudah pinter tidak menyembah simbol. Eh sebentar ya
Mas”

Muhammad beranjak sebentar ke belakang, tak lama kemudian datang lagi
membawa nampan berisi kue dan dua gelas kopi Tugu Luwak kesukaan Yesus.

“Monggo disambi Mas Yesus, ini kue buatan istri saya Aisyah. Enak lho, dijamin
deh. ”

Yesus naik turun jakunnya membaui kopi kesukaannya membentang di
hadapan mata. Tanpa ba bi bu, segera disruputnya kopi itu.

“Mmhhhh, puji Tuhan. Enak tenan Dik Muhammad, pinter sampeyan milih istri
memang.”

Muka Muhammad memerah dipuji oleh Yesus.

” Hehehe, ini yang bikin kopi saya sendiri koq Mas. Kuenya dibuat istri saya”

“Kembali ke tadi Dik Muhammad, jadi kamu tidak marah atau menuntut
mereka meminta maaf nih…?”

” Tentu saja tidak Mas Yesus, saya sudah sering mengalami yang lebih parah
dari ini, dilempari kotoran onta, masjid di depan rumah saya dikencingi orang
Badui, menghadapi orang seperti ini harus sabar, bikin karikatur itu masih
beradab menurut saya. Toh kalau mau jujur, banyak juga umat saya yang bikin
karikatur tokoh2 agama lain, dan buktinya umat agama lain tidak protes. Jadi
dalam hal ini saya jujur saja, umat saya memang kurang dewasa.”

“MMhhhh, betul juga ya . Tahu nggak Dik Muhammad, di Belanda baru saja
terbit sebuah buku yang isinya menceritakan bahwa aku ini seorang
homoseksual, berkali2 main esek2 di taman Getsemani dengan murid2ku
termasuk Yudas. Dan tadi malam aku lihat di National Geographic, di situ
dibilang aku menikah dengan Maria Magdalena dan mempunyai anak satu.
Waduh, memang kelihatannya keterlaluan sih. Tapi kayaknya memang lebih
baik bersabar menghadapi hal2 seperti ini. ”

” Nah kan, umat Mas Yesus aja gak ribut2 tentang itu, padahal kalau dipikir
lebih parah daripada karikaturku. Menghadapi seseorang yang belum mengerti
itu harus pakai strategi, dengan kepala dingin, tunjukkan cinta kita yang tulus,
suatu saat mereka akan mengerti esensi ajaran2 yang kita bawa.”

” Jujur Dik Muhammad, yang masih jadi pikiranku sekarang ini adalah statusku
sebagai tuhan dalam trinitas, ini sepertinya yang umatku belum dewasa dalam
mengartikannya. Padahal di Injil, sudah kubilang 82 kali bahwa aku ini anak
manusia, sepertimu juga Dik Muhammad. Aku sedang mikir2 untuk menuntut
Paulus, Konstantin II, dan ibunya Konstantin II, Helena yang aku pikir menjadi
cikal bakal disalah arahkannya ajaranku.”

“Begini Mas Yesus, walaupun mereka percaya Trinitas, asal mereka
mengamalkan ajaran cinta kasihmu, kalau menurut saya, menurut saya lho ya,
dibiarkan saja. Toh paham ketuhanan itu kan sifatnya pribadi, apalagi sudah
ada keputusan Konsili Vatikan II yang menurutku sudah inklusif dan toleran,
ada keselamatan di luar gereja. Ini bisa dibilang “great leap forward”.”

” Yo wis lah, sementara aku tidak akan mengungkit2nya, tapi suatu saat pasti
akan kutuntut. Trus gimana Dik Muhammad, bagaimana strategi untuk
memajukan umat ini menurutmu?”.

“Ada 3 pilar utama yang harus dibangun dalam civil society , yang pertama dan
yang terpenting adalah pilar iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), kemudian
pilar kesejahteraan, dan yang ketiga pilar keamanan. Perang dengan alasan
apapun adalah haram saat ini. Pertarungan dunia bukan antara Barat dan
Timur, atau Utara dan Selatan, ataupun Kristen dan Islam. Tetapi adalah
pertarungan antara yang lambat dan yang cepat, siapapun yang lebih cepat
menguasai tiga pilar itu, dialah yang lebih banyak mengukir sejarah.”

“Berarti musuh kita siapa dong Dik Muhammad..?”.

“Musuh kita adalah kebodohan dan kemiskinan, yang berderivasi kepada siklus
kekerasan
. ”

“Jadi umat apapun baik yang beragama atau tidak, harus dibangun supaya
pintar, sejahtera, dan cinta damai. Bukan begitu..?

“Tepat sekali Mas Yesus, relevansi ajaranmu tentang kasih menemukan
legitimasinya dalam konstelasi politik yang carut marut saat ini.”

“Eh tapi ngomong2, saya pamitan dulu ya Dik Muhammad, ada presentasi
sebentar lagi.”

Tiba2 dari belakang datang Aisyah, membawa nampan lagi berisi kue.

“Lho Mas Yesus, koq buru2, ini baru diminta mau nyobain kue yang baru saya
buat.”

“Maaf Dik Aisyah, ada keperluan nih, lain kali deh pasti saya habisin kuenya.”

“Oh silahkan kalau begitu, semoga sukses dengan presentasinya”

Aisyah tersenyum, senyum yang manis sekali, gak salah kalau Muhammad
memanggilnya “Humaira” yang artinya kemerah2an. Pipinya memang
kemerah2an begitu tanpa digincu.

Yesus segera menenteng tas berisi laptop yang dia bawa, sesampai di luar,
Yesus kaget bukan alang kepalang, sepeda motornya raib. Lihat kanan kiri tidak
ada juga, akhirnya sadar kalau sepeda motor itu dicuri orang.

“Puji Tuhan, semoga sepeda motor itu lebih berguna buat pencuri itu daripada
jadi milikku”

“Mas Yesus, mau dianterin pake sepeda onthel saya…?

Muhammad dengan perasaan bersalah mencoba menawarkan sedikit bantuan.

“Tidak usah Dik Muhammad, saya naik angkot saja, terima kasih ya..Shalom.”

“Shalom..”

Muhammad dan Aisyah saling memandang, ada perasaan kasihan di hati
masing2 terhadap kejadian yang menimpa Yesus. Sejenak kemudian,
Muhammad mencium kening Aisyah.

“Mas Yesus adalah manusia berjiwa besar Humaira, kau sudah dengar sendiri
kan apa yang dia bilang ketika dirundung kesusahan.”

” Ya suamiku, semoga bumi semakin dipenuhi manusia2 berhati lapang dan
jernih sepertinya.”

Amsterdam, 5 Februari 2006
Peace Up…!!!

Author: Muhammad Amin [Ziarah ke Makam Tuhan]

Iklan
, , , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.