If God Had a Name

12 Maret 2010

Spiritualism

If God had a name what would it be?
And would you call it to his face?
If you were faced with Him in all His glory
What would you ask if you had just one question?

What if God was one of us?
Just a slob like one of us
Just a stranger on the bus
Tryin’ to make his way home?

One of Us
Joan Osborne

Bagaimana jika entitas Ilahiah yang sering disebut “Tuhan” itu ternyata adalah salah seorang di antara Kita? Pertanyaan ini mungkin kelihatan nganeh-nganehi. Wong sudah jelas Tuhan itu ada nun jauh di atas sana kok masih tanya gitu. Mungkin kalau pertanyaan ini lantas dibaca psikolog yang doyan interpretasi psikotes, saya bisa langsung divonis “Tidak Normal”. Wah…repot. Tapi saya tidak ambil pusing kalau yang ngomong begitu psikolog, karena saya yakin mereka juga tak bisa menjelaskan kenormalan mereka sendiri di hadapan orang-orang seperti Pablo Picasso, Vincent van Gogh, atau Ludwig Von Beethoven. Tapi pertanyaan saya tadi serius..jangan-jangan malah ‘Tuhan’ itu salah satu dari member milis di mana anda baca tulisan saya ini.

Jangan-jangan Tuhan itu adalah seorang tua di Belanda—bergelar Pendeta mabok dari Alam Maya– yang selalu mengirim posting-posting inspiratifnya ke milis Psikologi Transformatif. Jangan-jangan dia adalah orang yang selalu forward tulisan dari website Islam itu. Jangan-jangan dia adalah anak sableng yang sekarang lagi bikin perkara dengan UI itu. Atau kalau merujuk lirik “One of Us” yang berbunyi: ” Just a slob like one of us… Tryin’ to make his way home?” jangan-jangan Dia adalah salah satu dari yang minta ‘unsubscribe’ karena dia juga adalah slob yang ‘trying to make his way home’. Jangan-jangan dia terjebak di milis Psikologi Transformatif ini dan tak bisa kembali ke surga karena tidak bisa unsubscribe?

Terus terang—sama dengan Agnes Monica—saya juga bertanya-tanya “Di mana letak surga itu?”. Konon Surga ada di atas sana, sehingga sering digambarkan di film-film atau di sinetron-sinetron, kalau ada anak kecil mencuri dan ia merasa Tuhan tahu maka dia akan melihat ke atas, begitu pula jika seseorang memohon pada Tuhan, maka dia akan mengarah atau menengadahkan tangan ke atas. Tapi tak semua juga seperti itu. Ada juga yang menganggap bahwa Tuhan (di surga) itu terletak pada penjuru mata angin tertentu. Apapun penjelasannya, tetap saja membingungkan, karena bumi itu bulat dan semua penjelasan tentang Tuhan, banyak muncul ketika orang masih meyakini bumi itu flat. Jika bumi flat, mudah untuk membuat patokan atas-bawah atau arah mana, tetapi tak demikian halnya jika bumi itu bulat.

Pertanyaan lain lagi muncul. Jika Tuhan itu berada dalam transendensinya nun jauh di surga sana, lalu mengapa Ia diyakini juga sebagai ada di mana-mana? Jika Tuhan ada di mana-mana, tidakkah surga juga ada di mana-mana? Jika surga ada di mana-mana, lalu kenapa banyak orang masih berpaling dan tak mau menghadapi dunia yang saat ini dijalaninya dan berharap pada dunia [surga] yang nun jauh di seberang sana?

Kita akan mencoba bermain-main dengan penjelasan akan hal ini dengan pertama-tama menyimak apa yang dikatakan Gilles Deleuze dan Felix Guattari dalam bukunya “What is Philosophy?’. Deleuze dan Guattari menjelaskan bahwa yang bersifat transenden, vertikal, selestial, mesti selalu mengalah dan tunduk pada suatu jenis rotasi agar dapat tergoreskan pada tataran Alam-pemikiran imanen. Entitas yang vertikal selestial mendarat pada dataran pemikiran melalui cara spiral. Di sini berpikir mengimplikasikan proyeksi sesuatu yang transenden pada tataran imanensi (yang datar[an], horizontal).

Transendensi sebenarnya “kosong” pada dirinya sendiri, kepenuhannya terjadi ketika ia mampu turun jauh dan melintasi berbagai level-level hirarkis yang terproyeksikan secara bersamaan pada wilayah suatu tataran, yaitu suatu dimensi yang berkorespondensi dengan suatu gerakan tak terbatas. Tuhan yang transenden akan tetap kosong, atau setidaknya lenyap ( abskonditus), seandainya tidak diproyeksikan pada tataran imanensi penciptaan di mana ia menelusuri tahapan-tahapan teofaninya. Transendensi yang diproyeksikan pada tataran imanensi, meratakan imanensi tersebut dan menghuninya dengan imaji simbolik.

Imaji simbolik inilah yang selaras dengan penjelasan mengenai arketipe dari Jung. Ada banyak arketipe dan imaji simboliknya: Anima [Sisi Feminin kehidupan], Animus (Sisi Maskulin Kehidupan), Wise Old Man, Trickster [Si Pencuri, si penerjemah-penjaga jembatan antara yang ilahiah dan manusiawi atau kerap disimbolkan juga dengan Dewa Hermes], Divine Child, The Hero dan masih banyak lagi. Bisa jadi keragaman imaji simbolik inilah yang melambangkan suatu entitas atau energi atau sosok yang Ilahiah itu. Sesuatu yang sebenarnya bukan kosong dalam transendensinya di awang-awang sana, namun hadir menemani Kita. Entah dalam kisah, entah dalam penampakan suatu simbol tertentu, atau bahkan menyapa dalam mimpi-mimpi Kita.

Jung melihat religi sebagai suatu mitologi. Dalam pandangan Jung, semua religi, termasuk Kristiani [dan agama-agama “resmi” lain] adalah suatu Collective Mythologies. Tidak ada esensi yang riil di sini, tetapi bisa mempengaruhi personalitas manusia dan memberikan solusi bagi persoalan yang dihadapi, seperti apa yang dia tulis: “Religi adalah sistem untuk menyembuhkan penyakit psikis. Ini menunjukkan bahwa dalam realitas ini ada dua esensi, yaitu esensi real dan unreal. Tidak semua hal bisa kita nalar dengan esensi-esensi yang real.

Esensi yang bersifat unreal mengambil posisi sebagai suatu determinan yang sulit untuk dinalar menggunakan logika. Kendati demikian, kita dapat merasakan kehadiran unreal essence tersebut. Secara holistik, kita dapat menempatkan unreal essence sebagai bagian dari energi besar di alam semesta, namun energi itu hanya bisa kita kenali ketika kita masuk ke dalam alam bawah sadar personal. Energi yang memiliki keterkaitan dengan penjelasan mengenai religi yang mempengaruhi personalitas dan perjalanan [pencarian] hidup yang sifatnya idiosinkretis.

James Redfield dalam Novel Celestine Prophecy menjelaskan mengenai energi ini. Pada Wawasan pertama Celestine Prophecy ada penjelasan bahwa manusia hendaknya menyadari bahwa kehidupan merupakan perjalanan spiritual yang dibimbing oleh kebetulan-kebetulan misterius. Bahwa ada sesuatu yang mesti disadari dan dimaknakan di balik kejadian-kejadian kebetulan dalam hidup kita. Suatu ketika, kita mungkin punya firasat atau intuisi mengenai sesuatu yang ingin kita lakukan, arah yang ingin kita tempuh, dan meragukan bahwa hal itu mungkin terjadi. Namun, ketika kita telah agak lupa tentang hal itu, tiba-tiba kita bertemu seseorang atau membaca sesuatu atau pergi ke suatu tempat yang ternyata menuntun kita ke arah kesempatan yang kita impikan [v].

Kebetulan-kebetulan ini sangat idiosinkretis yang berbeda antara satu orang dengan orang lain, namun juga sekaligus sinkronik, karena pada saat yang sama kebetulan-kebetulan itu menghubungkan jalan hidup orang yang satu dengan orang yang lain. Kebetulan-kebetulan misterius yang terjadi pada orang yang satu, membuatnya bertemu dengan orang lain yang juga melalui sejumlah kebetulan untuk pertemuan itu. Di sinilah salah satu misteri alam yang tak bisa dijelaskan oleh logika pemikiran empiris.

Jika kita hanya menganggap kebetulan-kebetulan itu adalah kebetulan biasa, karena tak bisa melihat ‘kemisteriusannya’ maka hidup kita akan mengalir begitu saja. Sebaliknya, kita akan tahu bahwa Tuhan ada di alam semesta (bukan dalam sejarah agama-agama) dan hadir melalui kebetulan-kebetulan itu untuk menjawab keinginan kita, hanya jika kita mampu merefleksikan kebetulan-kebetulan misterius itu dan mengambil determinasi atasnya. Di sinilah sosok Ilahi itu hadir dan menjawab apa yang diiinginkan manusia dalam perjalan pencarian kepenuhan dirinya [vi].

Lebih jauh, dalam perspektif pandang seperti ini, maka tak ada yang namanya “kebetulan” di dunia ini. Semua kejadian membawa pesan. Mimpi-mimpi kita pun merupakan sesuatu yang membawa pesan bagi perjalanan hidup masing-masing dari Kita. Bahkan setiap perjumpaan, selalu membawa pesan. Saya menyampaikan pesan pada anda, anda menyampaikan pesan pada saya. Setiap perjumpaan bukan kebetulan, entah kita berjumpa dalam suasana damai atau bertengkar. Bahkan saat anda membaca tulisan saya inipun, bukanlah suatu kebetulan. Masalahnya kemudian, sudahkah Kita memaknakan atau menyelami hal-hal yang nampaknya biasa ini? Saya jadi teringat Heidegger yang mengajak untuk melihat kedalaman dari hal-hal yang dangkal.

Nah, sebagai penutup tulisan ini, ketimbang membuat kesimpulan yang rumit atau ‘sophisticated’, saya lebih suka kembali pada perenungan mengenai: “Jangan-jangan Tuhan adalah salah satu di antara Kita?” atau mencoba menjawab pertanyaan Agnes Monica: “Di mana letak surga itu?’. Mungkin perenungannya makin menarik jika menyimak lanjutan lirik lagu “One of Us”-nya Joan Osborne berikut ini:

If God had a face what would it look like?
And would you want to see if, seeing meant
That you would have to believe in things like heaven
And in Jesus and the saints, and all the prophets?

Author: Audifax, Peneliti di IISA-Surabaya, Penulis buku “Mite Harry Potter”(2005, Jalasutra), sumber: milis Psikologi Transformatif

Iklan
, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.