Testament of Lucifer (1)

10 Maret 2010

Spiritualism

WARNING ! Radical religious thoughts
Following writings can offend some religious thoughts, Please Do Not Continue
if you can feel offended


Bagian Pertama

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong;
gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas
permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Allah
melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkanNyalah terang itu dari gelap. Dan
terang itu adalah Lucifer, yang namanya berarti pembawa terang, sehingga dia
juga dinamai dengan nama siang. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari
pertama.

Itulah kisah asal mula Lucifer yang diciptakan Allah pada hari pertama. Makhluk
Allah yang diciptakan pada awal mula, diberi tempat yang istimewa untuk menjadi
pendamping kegelapan. Sebab pada mulanya adalah gelap gulita dan Allah berada
dalam kegelapan yang kosong. Keberadaannya membuat alam semesta ini beraksi,
setelah Allah memutuskan untuk menciptakannya. Namun dia tidak selalu
bersama-sama dengan Allah. Dan dia bukanlah Allah. Dan ini adalah kata-katanya.

Aku, Lucifer, putera Fajar, terang yang telah memberi nuansa baru pada
kegelapan. Sebagaimana tugasku menjadi pengawas bumi. Pekerjaanku sehari-hari
adalah melakukan perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi. Sebagaimana Allah
telah menciptakan manusia, baik laki-laki dan perempuan pada hari keenam , maka
berkuasalah aku atas mereka. Akulah pemimpin mereka, sejak mula, sampai suatu
hari, Allah berfirman kepada kami, para malaikat-malaikatNya: “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Aku yang termasuk dalam
malaikat-malaikat Allah bertanya: “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di
bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau”.
Tuhan berfirman:”Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Aku, Lucifer, yang selama ini mendapat kepercayaan dari Allah, memang ada
sedikit rasa kecewa. Setelah sekian lama aku selalu sungguh-sungguh bertasbih
memuji Allah, namun kedudukanku akan diambil dan dialihkan kepada manusia. Allah
berkehendak menggantikan tugasku di bumi dan menyerahkan kepada seorang manusia
untuk menjadi khalifah di bumi. Allah berkehendak agar manusia dipimpin oleh
manusia pula. Tapi biarlah, aku hanya berpegang kepada Allah bahwa Dia
mengetahui segala-galanya.

Kemudian Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas
hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.
Dan Allah menamainya Adam.

Aku, Lucifer, hadir waktu penciptaan manusia. Masih terngiang-ngiang di
telingaku ketika Allah berfirman: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut
gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala
binatang melata yang merayap di bumi.” Allah mengambil tanah dari bumi,
dibentuknya manusia itu dan dihembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. Dan
dengan demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Sebetulnya aku kagum pada karya ciptaan Allahku ini, manusia yang baik
bentuknya. Bukankah Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut
gambar Allah sendiri? Dan betapa enaknya manusia itu, Allah juga menyediakan
tempat yang nyaman baginya. Allah telah membuat taman di Eden, di sebelah timur;
di situlah ditempatkanNya manusia yang dibentukNya itu. Kalau seandainya aku
diperlakukan seperti itu, alangkah bersyukurnya aku.

Betapa Allah sungguh-sungguh mencintai manusia, makhluk ciptaan yang dibuat
berdasarkan gambarNya, kadang membuat aku iri. Terus terang saja, tak pernah
Allah sedemikian dekat dengan ciptaanNya yang lain. Allah kemudian menempatkan
manusia itu ke dalam taman Eden agar dia mengusahakan dan memelihara taman itu.

Yang aku lihat bukanlah fatamorgana dan bukanlah ilusi. Ternyata tak beralasan
bahwa kami dulu menyangsikan, bahwa manusia itu akan menjadi orang yang akan
membuat kerusakan dan suka menumpahkan darah. Dan memang benar, Allah maha
mengetahui.

Namun, dalam hati kecilku, masih terbersit satu perasaan ragu-ragu atas manusia
itu. Bisakah ia menjadi seorang khalifah di bumi? Taman Eden ini bukanlah bumi
yang sesungguhnya. Bumi yang sesungguhnya adalah bumi yang harus dikerjakan
dengan susah payah. Mengenai bumi yang sesungguhnya ini aku tahu betul, karena
aku sering menjelajahinya. Tapi semua perkara ini, aku pendam dalam hati.

Suatu hari, aku bersama malaikat yang lain berkumpul di taman itu. Roh Allah
hadir di taman itu. Dan manusia itu sedang dalam kesendiriannya. Allah menjumpai
Adam, manusia itu, dan Dia mengajarkan kepadanya nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:
“Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika memang kamu orang yang benar!”
Jawab kami:”Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah
Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana.

Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukan kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka
setelah diberitahukannya nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah
Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi
dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan” Lalu Allah
membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.
DibawaNyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya;
dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup,
demikianlah nanti nama makhluk itu. Dan Adam memberi nama kepada segala ternak,
kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan.

Kami bisa merasakan, betapa Allah menyayangi manusia itu. Dan, Allah menciptakan
penolong baginya yang sepadan dengan dia. Allah membuat manusia itu tidur
nyenyak. Ketika ia tidur, Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu
menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Allah dari manusia
itu, dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawaNya kepada manusia itu.
Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu
semua yang hidup.

Kalau saja aku bisa ceritakan keindahan taman Eden itu secara rinci. Sebuah
tempat yang begitu indah dan damai. Penuh dengan berbagai binatang dan semuanya
yang berada dalam taman ini hidup dengan rukun. Aku melihat dengan mata kepalaku
sendiri. Serigala tinggal bersama domba dan macan tutul berbaring di samping
kambing. Anak lembu dan anak singa makan rumput bersama-sama. Tidak ada yang
berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap taman itu. Dan aku, Lucifer,
Putera Fajar, melihat semuanya itu dan bersama malaikat lain memuji-muji Allah.

Sungguh, seandainya engkau pernah berada di taman Eden. Tentu tak akan ingin
pergi kemana-mana lagi. Memang, ada yang mengganjal dalam hatiku. Aku, Lucifer,
yang selama ini selalu taat dan memuliakan Allah, ada rasa iri kepada manusia
itu. Bukan saja karena dia akan menggantikan tugasku sebagai khalifah di bumi,
tetapi belum apa-apa, sudah diberikan kenikmatan tiada tara kepadanya. Sementara
aku, yang pertama kali diciptakan olehNya, tak
pernah diberi kenikmatan seperti ini.

Taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga: yaspis
merah, krisolit dan yaspis hijau, permata pirus, krisopras dan nefrit, lazurit,
batu darah dan malakit. Tempat tatahannya diperbuat dari emas dan disediakan
pada hari penciptaanmu, wahai manusia.

Memang Allah pernah berfirman pula kepadaku: “Aku akan mendirikan bagi mereka
suatu taman kebahagiaan, sehingga di tanah itu tidak seorangpun akan mati
kelaparan dan mereka tidak lagi menanggung noda yang ditimbulkan bangsa-bangsa.
Dan mereka akan mengetahui bahwa Aku, Allah mereka.” Aku sungguh melihat, betapa
Allah menyayangi dan memanjakan manusia itu.

Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik
untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta
pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Di taman itu ada pohon-pohon
aras, juga ada pohon sanobar dan pohon berangan. Waktu itu, segala pohon-pohon
yang ada di taman Allah tiada yang dapat disamakan dengan pohon lain mengenai
keelokannya.

Ada sebuah sungai yang mengalr dan membasahi taman itu. Kami menyebutnya sebagai
sungai air kehidupan. Dan sungai yang ada di taman Eden itu mengalir terus ke
bumi dan menjadi empat cabang. Sungai ini sendiri jernih bagaikan kristal, dan
mengalir keluar dari takhta Allah. Sekali meminum air kehidupan dari sungai itu,
maka tidak akan haus lagi.

Allah berfirman kepada manusia itu: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala
tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang
buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di
bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa,
Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.”

Manusia itu berkata kepada Allah: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku
selain Engkau!” Memang, merekalah orang-orang kudus yang ada pertama kali di
tanah ini, merekalah orang mulia yang selalu menjadi kesukaan Allah.

Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik. Lalu Allah
memberi perintah ini kepada manusia itu: “Hai Adam, diamilah taman ini oleh kamu
dan isterimu, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja
yang kamu sukai. Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan
bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah
kamu dekati pohon ini dan janganlah kaumakan buahnya, yang akan menyebabkan kamu
termasuk orang-orang yang zalim. Dan Kutegaskan kepadamu, Kularang kamu memakan
buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”

Adam mendengar perintah Allah dengan penuh sujud. Tapi setelah itu, aku
mendengar pembicaraan dia dengan istrinya, Hawa, soal mati itu. Mereka
bertanya-tanya sendiri, apa yang dimaksudkan mati oleh Allah. Sebab mereka
selama ini tidak mengenal arti kematian. Memang, Allah waktu itu belum pernah
mengemukakan tentang kematian kepada mareka, bahwa semua makhluk ciptaan Allah
pasti akan mati. Tidak terkecuali aku, Lucifer, malaikat terang ciptaan Allah
yang pertama. Namun mereka enggan menanyakan langsung kepada Allah.

Sungguh, tak akan kekurangan apapun juga bila tinggal di taman itu. Di tempat
yang damai ini orang tidak perlu lagi mengejar kekudusan, sebab tempat itu sudah
kudus. Dan dengan kekudusan kita akan dapat melihat Allah.

Manusia itu memuji-muji Allah: “Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku
bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak
menyerahkan aku ke dalam kematian, dan tidak membiarkan kami melihat kebinasaan.
Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapanMu ada sukacita
berlimpah-limpah, di tangan kananMu ada nikmat senantiasa.”

Dari kejauhan aku, Lucifer, beringsut pergi. Ah, betapa senangnya manusia itu.
Allah maha mengetahui apa yang akan terjadi. Bukankah Allah tahu apa yang
terbaik? Kubentangkan kedua sayapku, terbang ke angkasa dan kembali menjelajahi
bumi untuk melihat-lihat keadaan di sana. Dalam hatiku aku berkata, hai manusia
lihatlah, inilah bakal tanah yang akan diserahkan kepadamu. Tanah yang permai
dan kudus. Dan dalam diriku ada sedikit rasa sedih, suatu saat nanti harus rela
menyerahkan semua ini kepada manusia itu.

Tapi, aku percaya, Allah maha mengetahui dan maha bijaksana.

Author: Nur Agustinus, sumber: Milis Mayapada Prana
Iklan
, , , , , , , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.