Fisika Modern Bersua Sufisme

3 Maret 2010

Spiritualism

Judul ini bisa langsung digugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan
Fisika Modern
? Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan
tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan
hati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta
kehidupan spiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern
untuk menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari
partikel-partikel elementer seperti quark, elektron, dan proton
sampai benda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika
berkaitan dengan materi yang tangible (dapat dipegang) atau hal-hal
yang dapat diterangkan secara rasional.

Titik kontras yang lain adalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf
atau menjadi sufi sering disalahartikan sebagai suatu bentuk
kehidupan yang egoistik. Untuk mencapai tujuan, seorang sufi
dipersepsikan musti meninggalkan kehidupan material keduniaan,
meninggalkan keramaian, mengasingkan diri dari pergaulan manusia,
bahkan sampai ekstrimnya berhubungan dengan manusia hanya akan
menganggu dirinya untuk bercengkerama dengan Tuhan. Sementara untuk
belajar Fisika, yang pertama kali dihadapi adalah benda yang ditemui
sehari-hari, dan kemudian dilihat sifat dan perilaku material, serta
kemudian dilakukan percobaan atau pengamatan di laboratorium atau di
lapangan sehingga ditemukan hukum-hukum Fisika yang obyektif, dapat
diulang dan konsisten. Hal-hal yang bersifat spiritual atau yang
tidak rasional harus ditinggalkan di Fisika. Belajar Fisika dapat
dilakukan oleh semua orang pada semua jenjang, namun untuk belajar
menjadi sufi seseorang harus melewati suatu maqam-maqam tertentu
yang tidak
mudah.

Sekilas tampak sekali susah mencari titik temu antara keduanya,
perbedaan-perbedaan tersebut terjadi makin jelas antara Fisika
klasik (Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampak dari luar dari
Sufisme. Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufisme
ternyata terjadi banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang
digunakan Fisika modern dan Sufisme merupakan bahasa metafora. Hal
ini merujuk kepada suatu realitas yang lebih dalam, pada hal-hal
yang tidak dapat diterangkan, paradoks dan yang tidak masuk akal.
Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yang tersembunyi dari
realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahaman manusia.

Sebelum masuk lebih jauh pada kaitan sufisme dan Fisika modern, ada
baiknya gambaran tentang Fisika klasik kita lihat kembali. Konsep
filosofis Fisika klasik adalah analitik, mekanistik dan
deterministik. Bahkan cenderung reduksionis untuk mengambarkan alam
semesta mengikuti filosofi Descartes dan Bacon. Dalam Fisika
Newtonian ini semua fenomena yang ada di semesta dapat diurai secara
analitik berdasarkan hukum-hukum Fisika yang pasti. Pada dasarnya
apabila kondisi awal suatu keadaan diketahui dan semua medan gaya
yang berpengaruh diperhitungankan maka perilaku suatu benda (posisi
dan momentum) untuk waktu berikutnya dapat ditentukan. Hukum Fisika
ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana seperti benda jatuh
bebas sampai perhitungan posisi planet-planet dalam tatasurya. Salah
satu contoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan Fisika Newtonian
ini adalah ramalan tentang waktu gerhana bulan atau matahari sampai
dalam orde detik dan ternyata cocok dengan hasil pengamatan.

Tidak dapat disangkal bahwa cara berpikir Fisika klasik ini telah
memicu kemajuan teknologi yang dimulai dengan revolusi industri di
Eropa
. Mesin-mesin dirancang dengan disain yang berdasarkan
perhitungan analitik-mekanistik yang pasti. Dan dalam tatanan
filosofi, alam semesta merupakan mesin raksasa yang berputar secara
terus-menerus dan dapat diprediksi. Disini hal-hal yang berbau
mistik seperti peran dewa-dewa, roh nenek moyang, kekuatan
supranatural, dan mahluk halus tidak ada lagi dalam hidup manusia.
Bahkan Tuhan pun cenderung untuk dinihilkan. Kalaupun Tuhan dianggap
ada, maka peran Tuhan sudah sangat direduksi sebagai sekedar
pencipta awal, dan kemudian alam “ditinggalkan” untuk berputar
sendiri setelah dilengkapi dengan hukum-hukum Fisika.

Kesuksesan Fisika Newtonian ternyata hanya berlaku pada dunia
makroskopis, dunia kasat mata dan pada benda yang bergerak dengan
kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Di awal abad ke dua puluh,
Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomena mikroskopik
pada skala atom. Seolah-olah ada revisi edisi ulang ilmu Fisika,
muncullah dua cabang ilmu Fisika Modern yaitu Fisika Kuantum yang
dibidani oleh Bohr, Heisenberg, Schrödinger dan lain-lain, dan Teori
Relativitas yang diungkapkan Einstein.

Fisika Kuantum mempunyai implikasi yang sangat luas pada perubahan
peradaban manusia. Penjelasan tentang atom, molekul dan zat padat
telah melahirkan material semikonduktor, laser dan chips mikroskopis
yang pada gilirannya menghasilkan akselerasi kemajuan di bidang
teknologi dan informasi. Sementara Teori relativitas Einstein dapat
ditarik untuk menerangkan kosmologi tentang asal usul semesta,
disini diperoleh gambaran bahwa alam semesta berasal dari suatu
titik big bang (dentuman besar) dan berkembang serta berekspansi
secara terus menerus.

Implikasi filosofis Fisika Kuantum lebih dahsyat, diantaranya
tentang prinsip ketidakpastian Heisenberg dan participating observer
(hasil eksperimen selalu tergantung pada pengamat dan suatu realitas
tidak akan terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya). Dalam
dunia sub-atomik, hukum Fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian,
tetapi gerak partikel diatur oleh konsep probabilitas. Pandangan
terakhir ini yang menyangkut indeterminisme menimbulkan kontroversi
yang cukup ramai.

Dalam teori Kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum,
energi dst.) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika
formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi.
Schrödinger menunjukkan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukkan
oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun persamaan ini tidak
memberi informasi apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatu
eksperimen benar-benar dilakukan, dengan perkataan lain persamaan
tersebut meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam
percobaan celah ganda, tampak bahwa hasil pengamatan tergantung
kepada cara eksperimen dilakukan. Partikel tersebut tidak punya
sifat “asli”.

Oleh para Fisikawan konsekuensi indeterminisme ini biasanya
dilukiskan secara dramatis dalam sebuah “eksperimen” yang dikenal
dengan kucing Schrodinger (Dewitt, 1970). Kucing ini bisa dalam dua
keadaan skizofrenik sekaligus yaitu hidup dan mati. Tentu saja semua
ini merupakan bahasa metafora dari ketidakmampuan fisikawan untuk
menerangkan keadaan “yang sesungguhnya” terjadi. Namun hal tersebut
seperti keadaan partikel yang bisa sekaligus gelombang merupakan
konsekuensi pengembangan teori Kuantum.

Albert Einstein sendiri sangat tidak nyaman dengan konsekuensi
terakhir ini. Meskipun pada masa mudanya Einstein turut serta dalam
membangun teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) namun Einstein
tua justru merupakan seorang penentang konsekuensi filosofis teori
Kuantum, sampai-sampai dia berucap “Tuhan tidak bermain dadu”. Dalam
debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang
determinisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori
Kuantum yang meskipun “agak edan” tetapi terbukti merupakan teori
yang dapat menerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam
kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh tentang konsep participating observer, pola hasil yang
akan diperoleh dalam suatu eksperimen sangat ditentukan oleh
pengamat atau dengan perkataan pengamat menentukan hasil. Ini bukan
penelitian sosial tetapi penelitian tentang materi sub-atomik. Lebih
jauh lagi sesuatu benda mikro tidak punya makna apa-apa sebelum
benar-benar diamati. Oleh karena itu diperlukan suatu mahluk yang
memiliki kesadaran (consciousness) untuk menjadikan sesuatu benda
menjadi “real”. Tanpa pengamat, maka semesta ini tidak akan ada.

Disini mulai jelas titik singgung antara Fisika modern dengan
sufisme
atau mistisisme Timur lainnya. Kita dapat lihat dari salah
satu potongan syair Rumi:

Aku adalah kehidupan dari yang kucintai
Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak,
Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai”.

Juga kita dapat lihat pendapat Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam:

“Kosmos berdiri diantara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non
eksisteni. Ia bukan murni wujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka
dari itu kosmos sepenuhnya tipuan, dan kalian membayangkan bahwa ini
al Haqq, namun sebetulnya bukan al Haqq. Dan kalian membayangkan
bahwa ini makhluk, namun ini bukan makhluk”.

Bahasa Rumi “Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak” atau
ungkapan Ibnu Arabi tersebut sangat memiliki kemiripan dengan
Mekanika Kuantum yang juga mengungkapkan tentang “hidup yang juga
mati, mati yang juga hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yang
digunakan disini.

Selanjutnya dalam kerangka teori relativitas juga dimungkinkan
dibuat suatu kerucut ruang-waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa
mendatang. Dalam hal ini –secara matematik– ada bagian yang berada
di luar kerucut ruang waktu ini, sehingga dapat dikatakan di luar
dunia fisik ini yang kita tempati ini masih ada kemungkinan “dunia
lain”. Hal ini juga didukung oleh teori Kuantum yang menawarkan many
worlds interpretation atau interpretasi banyak dunia yang
diungkapkan oleh Everett pada tahun 1957. Artinya alam semesta yang
kita tempati ini bukan satu-satunya. Hal ini serupa dengan yang
dikatakan oleh Rumi tentang hati yang bisa menuju ke “Pintu-pintu ke
dunia lain.”

Rumi menulis dalam puisi yang lain “Sang Sufi bermi’raj ke ‘Arsy
dalam sekejap, sang zahid membutuhkan waktu sebulan untuk sehari
perjalanan.” Meskipun puisi ini sedikit menunjukkan nada yang agak
sombong dari Sang Sufi, namun jelas menunjukkan adanya keserupaan
dengan konsep relativitas pada Fisika modern.

Para ahli astrofisika modern telah menghitung bahwa setidaknya ada
15 trilyun galaksi sejak permulaan penciptaan —big bang— dan galaksi-
galaksi tersebut dalam kosmos mengikuti suatu siklus seperti yang
dijelaskan oleh sufi yaitu kelahiran, pertumbuhan, kematian dan
pembangkitan kembali. Bintang-bintang, seperti manusia, tidak pernah
sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasar seperti besi, karbon,
oksigen dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulang dalam ruang
sebagai debu kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. Semua
dalam alam semesta yang berekspansi terdiri dari energi, dan energi
secara sederhana berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain untuk
selanjutnya naik menuju (cosmic ascent) kepada Allah.

Pencarian padanan antara sufisme dan Fisika modern dapat terus
dilakukan terutama dalam masalah yang berkaitan dengan semesta lain,
dunia ghoib, pengkerutan waktu, ketidakpastian, “hidup tetapi mati”,
kesadaran dapat mempengaruhi materi, “ada tetapi tidak ada”, siklus
kehidupan dan asal usul semesta.

Beberapa hal dapat dengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak
lagi yang merupakan bahasa metafora karena susahnya menuliskan
realitas yang sesungguhnya. Mungkinkah kesulitan ini karena
keterbatasan bahasa manusia atau keterbatasan kemampuan logis
manusia? Atau semua ini merupakan harta tersembunyi sebagaimana yang
diungkapkan oleh sebuah hadist qudsi: Allah telah berkata “Aku
adalah harta tersembunyi yang perlu disingkap, Aku ciptakan semesta
sehingga Aku dapat diketahui”

Kita biarkan pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab,
namun mengikuti “semangat teori Kuantum” yang maju terus memberikan
kontribusi penting pada peradaban manusia meskipun telah
meninggalkan Einstein dalam kegelisahan interpretasi. Adakah
sekarang manfaat praktis yang dapat ditarik dari mengkaitkan sufisme
dan Fisika modern
?

Sudah saatnya para fisikawan mempelajari istilah yang sudah biasa di
Fisika namun merujuk pada entitas yang berbeda dalam sufisme, yaitu
energi. Di Fisika, istilah energi menunjukkan suatu besaran yang
sangat real, sementara di sufisme istilah ini lebih abstrak. Para
ahli sufi sebenarnya meminjam istilah ini karena ada keserupaan,
meskipun pada dasarnya berbeda. Sudah beratus-ratus tahun terbukti
secara empiris bahwa para ahli sufi mampu menggunakan suatu jenis
energi metafisik yang berasal dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai
keperluan seperti penyembuhan sakit fisik dan non fisik. Para ahli
sufi sendiri sebenarnya tidak mengerti bagaimana proses penyembuhan
ini terjadi kecuali dengan sepenuhnya melakukan kepasrahan kepada
Allah SWT. Disini fisikawan dapat melakukan penjelasan hal ini
karena memang dimungkinkan dalam teori Kuantum bahwa kesadaran dapat
mempengaruhi materi (mind over matter).

Hal ini hanya merupakan salah satu contoh manfaat real untuk
kemanusiaan. Akan muncul sekali banyak manfaat bila dilakukan
eksplorasi secara seksama hubungan antara sufisme dan Fisika modern.

Wallahu a’lam bishawab.

Author: Muhammad Hikam
Staf Pengajar Fisika FMIPA Universitas Indonesia dan Penelaah
Naqshbandi-Haqqani

Iklan
, , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.