Anak Muda Harumkan Indonesia!

25 Februari 2010

Inspirational

Beruntung, di tengah keterpurukan, negeri ini masih memiliki anak-anak muda bernasionalisme dan idealisme tinggi. Melalui buah pikir, inovasi, kerja keras, dan karya terbaik, mereka mencoba berbuat sesuatu untuk kemajuan bangsanya. Mereka juga selalu bangga menyebut diri: aku orang Indonesia!

Ananda Sukarlan. Di telinga sebagian besar dari kita, nama tadi mungkin jarang terdengar. Barangkali juga tak banyak orang yang tahu tentang kiprahnya. Namanya begitu senyap, di antara ingar-bingar gosip seniman-seniman musik yang kerap nampang di televisi, dan dicap sebagai selebriti.

Situasinya sedikit berbeda ribuan kilometer di belahan bumi utara sana, sebut saja di Spanyol, Belanda, Jerman serta beberapa negara Eropa lain. Terutama di kalangan pencinta musik klasik. Andy, begitu panggilan akrabnya, dikenal sebagai komponis dan pianis muda berkelas internasional. Di Spanyol julukannya: A Young Brilliant Indonesian Pianist.

Sir Michael Tippet, komponis kenamaan asal Inggris yang “menemukan” Andy, mencatat: “Secara teknis permainannya tanpa cela dan kontrol suara serta keaneka-ragaman warna suaranya begitu mengagumkan.” Ia juga menjadi satu-satunya orang Indonesia dalam buku The 2000 Outstanding Musicians of the 20th Century, yang berisikan riwayat hidup 2.000 orang yang dianggap berdedikasi pada dunia musik.

Tertarik pada piano semenjak kecil, pria kelahiran Jakarta 10 Juni 1968 itu awalnya belajar dari bimbingan kakaknya sendiri, Martani Widjayanti, serta beberapa guru lain seperti Soetarno Soetikno dan Rudy Laban. Selepas SMA di Kolese Kanisius Jakarta tahun 1986, beasiswa dari Petrof Piano mengantarkannya ke Walter Hautzig di Harford Connecticut, AS, dilanjutkan ke Koninklijk Conservatorium di Den Haag, Belanda. Di negeri para meneer dan mevrouw itulah gelar master diraihnya dengan predikat summa cum laude.

Kalaupun ada sebuah awal,” tulis Andy melalui surat elektronik dari Spanyol, “Adalah kemenangan saya pada kompetisi-kompetisi piano internasional di Belanda, Prancis, dan paling penting di Spanyol.” Selebihnya adalah buah dari perjuangan, kerja keras, dan kedisiplinan. Tak gampang bagi seorang pianis, apalagi dari negara dunia ketiga, menembus Eropa yang masyarakatnya memiliki tingkat apresiasi seni tinggi. “Dulu orang datang ke konser saya, ada yang hanya untuk mengetes saya, bukan menikmati musiknya.”

Kini Andy kerap diundang bermain bersama kelompok simfoni orkestra dari kota-kota besar Eropa. Atau kali lain bermain resital piano tunggal di gedung-gedung bergengsi di seluruh dunia. Pada genre musik yang ditekuninya, yaitu musik sastra – Andy lebih menyukai istilah itu dibanding “musik klasik” – bolehlah dia kita sebut “rock star”.

Secara finansial tentu penghasilannya pun lebih dari cukup untuk mengantarkan Andy masuk menjadi golongan kelas menengah di Spanyol, domisilinya sekarang. Sekadar gambaran saja, dalam setahun ia bisa tampil 60 – 80 kali di berbagai negara dengan honor AS $ 5.000 – 7.000 sekali naik panggung. Belum termasuk penghasilannya dari sejumlah rekaman, atau jika karya-karyanya diperdengarkan kepada umum seperti di radio.

Namun “kemewahan” hidup pria yang selalu tampil necis ini sebenarnya justru pada kebebasannya dalam berkesenian. Ia telah sampai pada tahap berkarya sebagai bentuk curahan hatinya. Andy menggambarkan, itu adalah kebutuhan berekspresi seorang seniman tanpa harus peduli apakah orang mau mendengarnya atau tidak, tanpa peduli musiknya “berat” atau tidak, laku atau tidak. Pokoknya ekspresikan saja.

“Menulis karya buat saya adalah suatu tanggung jawab moral,” jelas Andy tentang idealisme kesenimanannya. Maka ia sering menolak untuk menulis komposisi pesanan jika memang merasa tidak sesuai dengan jiwanya. Walau dijanjikan bayaran besar sekalipun.

Sebaliknya, Andy bisa begitu bergairah menuangkan impresinya terhadap sebuah puisi, lukisan, atau bahkan gerak koreografi ke dalam nada. Seperti dalam Ars Amatoria, sebuah cantata yang ditulisnya berdasarkan puisi penyair Sapardi Djoko Damono. Belakangan, cantata 12 episode sepanjang 40 menitan yang awalnya sekadar curhat-nya di sela-sela kesibukan, mulai disebut-sebut orang sebagai masterpiece seorang Ananda Sukarlan.

Permainannya Barat, filosofi Timur
Lebih 20 tahun meninggalkan kampung halaman, Andy yang menikahi Raquel Gomez, warga negara Spanyol dan memiliki satu putri, justru semakin menoleh kembali kepada kekayaan budaya Indonesia. Dua tahun terakhir, telah lahir 30-an komposisi berdasarkan puisi para penyair seperti Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad, atau Joko Pinurbo. Tekadnya juga membulat, yakni memajukan musik sastra Indonesia yang jauh tertinggal.

Yang menarik, keindonesiaan Andy juga memberi tetesan embun segar bagi perkembangan musik sastra Eropa, paling tidak Spanyol. Permainannya dinilai unik karena tekniknya Barat tapi filosofinya Timur. Putra bungsu dari pasangan Letkol. Sukarlan dan Poppy Kumudastuti ini malah merasa belakangan ini permainannya sangat Jawa.

“Penonton di sini suka hal-hal baru dan akan lebih antusias jika ternyata berkualitas,” tutur Andy yang sering membawakan karya-karya komponis anak bangsa seperti Amir Pasaribu atau Yazeed Djamin di publik Eropa. “Mereka lebih pay attention kalau karya-karya dari Indonesia dimainkan.”

Tapi, yang tak kalah penting adalah dialog Andy dengan komponis setempat yang kemudian melahirkan komposisi-komposisi baru bernuansakan Indonesia. Seperti Jangan Lupa (karya Gareth Farr) atau Anandamania (Santiago Lanchares) yang disukai penonton lantaran eksotika Timurnya begitu kental. Lucunya, karya Andy seperti Dalam Doaku, juga semakin sering dinyanyikan penyanyi setempat, walau baik penonton maupun penyanyinya sama-sama tidak tahu arti dari kata-katanya.

Berkat Andy, sistem musik gamelan Jawa dan Bali juga mulai menginspirasi komponis seperti Gareth Farr, David del Puerto, Peter Sculthorpe. Demikian juga saat Andy menggandeng Chendra Panatan, seorang penari Indonesia, mempertunjukkan tari Kecak pertama kalinya di Spanyol, komponis Jesus Rueda langsung menuliskan karya pianonya Kecak.

Andy memang belum berniat pulang. Tapi baginya bukan masalah Eropa yang mapan dibanding Indonesia yang masih merangkak dalam musik sastra, sehingga akhirnya merasa kerasan. Di tanah perantauannya ini, ia menemukan identitas artistiknya. “Berbagai filosofi, pandangan artistik dan gaya bisa diambil dan diserap, tanpa harus memberi kesan bahwa semua itu sekadar tempelan belaka.” Ia justru merasa menjadi orang Indonesia di negeri orang.

Kontribusinya kepada perkembangan musik sastra di Spanyol juga perlu jadi catatan tersendiri. Andy yakin, “Bukan tidak mungkin, 50 tahun lagi sejarah kesenian Eropa akan mencatat pengaruh gamelan Jawa dan Bali pada perkembangan musik Spanyol tahun 2000-an.” Siapa yang tidak akan bangga?

Mematahkan stigma
Lain tanah, lain ceritanya. Jika Ananda Sukarlan hidup mulia di Eropa, Mohammad Trihariyanto Kadir yang tengah merintis karirnya di Asia, sering menghadapi ujian kesabaran lantaran keindonesiaannya. Hariyanto, 25 tahun, bekerja sebagai desainer produk, sering harus merasakan getah dari stigma miring yang sering ditujukan masyarakat luar kepada orang Indonesia.

Bukan rahasia lagi, masyarakat di beberapa negara di Timur Tengah, Malaysia, Singapura, atau Hongkong, sering memandang rendah orang asal Indonesia. Haryanto menduga, sikap itu muncul karena banyaknya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja kasar.

Misalnya, lantaran berasal dari Indonesia, orang Timur Tengah akan langsung meragukan kualitas karya Hariyanto. Atau jika kemudian hasil pekerjaannya baik, orang akan mengiranya dari Malaysia. “Saya sampai menunjukkan paspor dan kartu identitas untuk meyakinkan mereka,” tutur lajang yang kini tinggal di Singapura itu.

Pernah juga, karena karya-karyanya dinilai bagus dan menang di berbagai kontes desain produk internasional, orang mengira Hariyanto lulusan Eropa. Padahal, sejak SD sampai lulus Teknik Arstiktur dari Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (lulusan terbaik 2005) semua asli di dalam negeri. Justru orang bule Eropa, kata Hariyanto, tidak peduli ijazah dan asal-usul pendidikannya.

Suatu kali di Dubai, lantaran kesal, pria berdarah Madura itu menendang mobil orang yang merendahkannya. Karena mobil jadi penyok, akibatnya ia harus berurusan dengan polisi. Beruntung Ar Rajh, perusahaan terkemuka di Arab Saudi yang menjadi sponsornya, mau membantu, sehingga ia selamat.

Tak ada pilihan, Hariyanto harus berusaha membuktikan karya-karya terbaiknya untuk mendapat kepercayaan. Ia yang kini bekerja di Singapura mulai merasakan perlakuan berbeda setelah klien-klien perusahaan tempatnya bekerja merasa puas dan memperpanjang kontrak. Kini beberapa karyanya yang bisa kita lihat antara lain kursi di Bandara Changi, Singapura, atau halte bus di Beijing.

Hariyanto juga tak lupa memperluas jaringan, apalagi setelah kemenangannya dalam berbagai kontes desain produk internasional. Antara lain D3O Competition-Research on Epydermolysis Bullosa di Inggris (2007), Incheon International Design Fair 2006 di Korea Selatan, atau Japan Design Business Match and Forum di Jepang (2007). Dalam riset penyakit epidermolysis bullosa di Inggris, ia bahkan merupakan satu-satunya wakil dari Asia.

Bisnis tidak seksi
Tidak harus seperti Ananda Sukarlan atau Hariyanto yang merantau jauh ke negeri seberang, berkat kemajuan teknologi informasi, kaum muda Indonesia sebenarnya punya kesempatan luas untuk maju. Ini persis seperti pemaparan Thomas L. Friedman tentang Globalisasi 3.0, dalam bukunya The World Is Flat, yang menghebohkan itu.

“Individu-individu di seluruh dunia bekerja bersama-sama di dalam workflow software, untuk mengerjakan suatu materi digital dari mana pun, tanpa menghiraukan jarak antar mereka. Motor penggerak Globalisasi 3.0 adalah kekuatan baru yang ditemukan untuk bekerjasama dan bersaing secara individual dalam kancah global,” tulis Friedman tentang peluang pada globalisasi jilid ketiga yang dimulai tahun 2000 itu.

Di negeri kita, respons atas tantangan itu juga mulai tampak. Antara lain Rio Andita Setiabakti, 27 tahun, yang sejak empat tahun lalu merintis Rakreasi, sebuah perusahaan pembuat game di Bandung. Bersama 20 orang timnya, semua anak muda, Rio optimis bisa berbuat sesuatu demi kemajuan dunia information and communication technology atau ICT (populer juga dengan sebutan IT) di Indonesia. “Karena SDM kita sebenarnya punya banyak kelebihan,” begitu alasan Rio.

Dalam dunia ICT Indonesia, tak banyak anak muda seperti Rio. Berani (kalau tidak bisa dibilang, nekat) memulai bisnis yang sama sekali tidak seksi di mata investor. Berbeda di negara-negara maju yang industri game-nya begitu maju dengan perputaran uang miliaran dolar. Tak perlu jauh-jauh sebenarnya. Beberapa negara sederajat dengan kita, seperti India, Thailand, atau Vietnam, sudah menggeliat karena masuknya modal dari luar negeri.

Namun Rio tak peduli. Bisa jadi lantaran Rakreasi sendiri dulu dimulai dari nol. Ceritanya, saat masih aktif berkuliah, ia yang kebetulan hobi main game, mencoba mencari uang sebagai pengembang game freelance. Pekerjaan pemograman lepas ini memang sabetannya anak-anak muda yang jago mengutak-atik program komputer. Biasanya mereka melamar di situs-situs internet untuk mendapat proyek programming dari luar negeri. Hasilnya biasanya buat tambahan uang jajan.

Rio yang berkuliah di Departemen Fisika ITB itu tekun mengerjakan proyek-proyek kecil, mulai 30-an dolar terus meningkat sampai ribuan dolar. Sejak tahun 2003, seiring meningkatnya kepercayaan klien dan reputasinya yang bagus, proyek mulai membanjir. Hasilnya cukup lumayan, antara lain dua rumah (salah satunya kini dijadikan kantor) dan mobil Honda Jazz tahun 2007.

Tapi Rio tidak mau mentok begitu saja. Walau banyak pengembang program game tergiur mengadu nasib dan bekerja di luar negeri, ia malah mengajak teman-temannya membantu dan mencoba mewujudkan impian mengembangkan game sendiri. Game pertamanya, Bandung Lautan Api, sudah jadi program awalnya, tapi tak ada respon dari pemodal.

Pria yang tahun ini bertekad akan menyelesaikan kuliahnya yang terbengkalai itu memetik pelajaran berharga. “Untuk menarik modal, kita harus memikirkan juga model bisnisnya. Jadi bukan cuma bisa bikin program, tapi tidak jelas keuntungan buat investor,” jelas Rio yang mengaku jiwa wirausahanya sudah ditempa semasa berjualan stiker, roti, dan donat di kampus.

Di tengah pengerjaan proyek rutin, Rakreasi mempersiapkan Antara Quest, sebuah game online di internet yang bernuansa Indonesia. Tokoh-tokohnya mengenakan kostum ala pemain wayang dengan setting budaya lokal pula. Agar menarik bagi investor, Rio sudah menyiapkan model bisnis dan sejumlah inovasi. Misalnya, meski game dimainkan di internet, tapi tokohnya bisa ditransfer ke ponsel untuk terus dihidupkan.

Awalnya Rio dan timnya sempat terengah-engah untuk mengembangkan game yang dirintis sejak tahun 2005 itu. Maklum, untuk mendanai, berarti Rakreasi tetap harus mengerjakan proyek-proyek rutinnya. “Uangnya terus diputar untuk modal,” ungkap Rio yang sebagai wiraswastawan juga ikut pusing memikirkan cashflow kantor.

Beruntung, Rio kemudian berhasil menggandeng ITB, hingga nama besar kampus itu menarik beberapa investor. Bahkan Electronic Arts (EA), perusahaan pembuat game ternama, akhirnya bersedia memberi dana untuk riset. Bahkan Rakreasi yang sebenarnya masih seumur jagung akhirnya ditawar pengusaha Korea Selatan, tapi Rio menolaknya.

Jika Rio dan masyarakat ICT Indonesia terdengar ngotot mengembangkan game, tentu ini bukan sekadar permainan buang-buang uang. Game, dalam bentuk apa pun, diyakini mampu memperpendek jurang kesenjangan digital di dunia. Artinya, jika seseorang belum mampu mengoperasikan komputer, paling tidak dia sudah tertarik main game.

Siapa lagi yang mau mempelopori semua itu selain kaum muda?

Jayalah Indonesiaku!

Iklan
, , , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.