G-Spot Tuhan

21 Januari 2010

Spiritualism

RRrrrrhhtttttttttt,
rrrhhtttttttttttttttttt,rrrhhttttttttttttt

HP-ku bergetar2, tanda aku dapat SMS. Segera kubuka…..

——————————————–
Hey, aku gak sengaja baca tulisanmu, aku gak nyangka
aja ada yg nulis seberani itu. Tapi aku suka
tulisanmu. Kamu mau gak ngedate ntar malem, kutunggu
di café De Hemel at 7 pm sharp.

xxx

Tuhan
———————————————

Lho, serius nih. Tuhan selama ini kupanggil Bapa koq,
minta ngedate sama aku. Sial banget, dia kagak tahu
apa kalau aku straight. Jangan2 Tuhan gay, bajigur,
cilaka nian nasib awak kalau begini. Sudah awak
mati2an meniduri banyak gadis demi membuktikan
keperkasaan, Tuhan datang tiba2 minta ngedate, atau
dia berubah pikiran membolehkan cinta sesama jenis
sekarang. Aku jadi bingung, semakin bingung, darimana
pula dia mendapatkan nomer HP-ku. Ah,aku lupa, dia kan
Khalik, jadi dia pasti punya data base lengkap seluruh
makhluk.

Karena aku libur kuliah, aku belanja dulu dan kemudian
mengerjakan tugas2 kuliah. Setelah semua itu aku
kecapekan dan tertidur.

Sebelum matahari terbenam, aku sudah bersiap2. Jam
setengah tujuh aku keluar, lebih baik awal daripada
terlambat pikirku.

Aku duduk dulu di pojokan café itu, menunggu jam 7.
Aku sudah bersungut2 sebenarnya, sialan banget
nasibku. Diajak date sama Tuhan.

Jam 7 tepat, belum kulihat tanda2 kedatangan Tuhan.
Tiba2 ada sosok cantik masuk dan melihat kanan kiri,
setelah melihatku dia dengan percaya diri berjalan ke
arahku. Dan kemudian duduk di depanku.

‘ Halo, aku Tuhan. Apa kabarmu..?’

Ajigile, cakep banget Tuhan. Bodinya aduhai, asoy
geboy. Matanya coklat indah, rambutnya panjang hitam
sedikit berombak. Senyum dari bibirnya bikin jantung
melayang, menggemaskan. Lehernya jenjang, putih
bersih. Ah sial, ngeres aja udah pikiranku. Rasa2nya
ukuran 34B. Nah kan sudah langsung itu yang kepikiran

‘ Halo, you know me already. Aku baik2. Kamu gimana
nona cantik..?’

‘ Baik, tapi capek. Banyak sekali yang harus kerjakan
akhir2 ini. Keluhan, permintaan, protes, somasi,
ucapan terima kasih, persembahan, semua bertumpuk di
kantorku. Kamu tidak apa2 kan menemaniku malam ini.’

‘Pleasure is mine, no problem at all’

‘ Tahu gak, aku suka kamu karena keberanianmu.
Keberanian argumen disertai kejernihan yang sangat
jarang dimiliki oleh pemuda2 jaman sekarang.’

Sialan, hatiku dibuat berdetak2 keras mendengar pujian
Tuhan. Biasanya sih yang ada pada protes atau
menghujat tulisanku, eh malah Tuhan yang sering aku
sindir malah suka dengan tulisanku.

‘Ehhmm, kalau mau jujur aku bukan apa2 Tuhan.
Tulisanku hanyalah kesadaran seorang monyet yang
sangat bodoh yang mencoba berjujur diri. Semakin aku
banyak menulis, membaca, merasakan, melihat,
mendengar, semakin terasa kebodohanku. Jadi please
jangan memujiku seperti itu. Look at you, Engkau yang
cantik tiada tara, pandai tiada bandingan. What am I
compare to you…?’

‘Ah kamu lucu kalau ngomong serius gitu’

Tuhan tersenyum manja sambil mencubit pinggangku,
akunya yang jadi salah tingkah. Sebenarnya aku selalu
memberanikan menatap mukanya, terutama matanya yang
indah itu. Tapi kadang aku tak sanggup, malah yang ada
aku melihat agak kebawah dan gak sengaja melihat
sedikit2 belahan dadanya yang memang agak kelihatan.

Pikiranku mengembara kemana2.

‘Hey, koq bengong. Kamu mau minum apa…?’

‘Eh, hmm, aku yg traktir deh. Kamu mau minum apa..?’

‘Cappuccino boleh gak, makasih ya.’

Aku segera beranjak pergi ke bar untuk memesan
cappuccino untuk Tuhan, dan hot chocolate plus cream
untukku sendiri.

‘ Mas, kamu membenciku ya, suka sekali kau menyindirku
dalam tulisanmu’

Lho, pertanyaannya langsung menohok begini.

‘Tiada guna aku membencimu Tuhan, toh kau tetap Tuhan.
Membebaskan pemikiran manusia, itu lebih penting.
Tapi, sebelum membebaskan pemikiran manusia, Tuhan
yang perlu dibebaskan dulu dari penjara manusia.’

‘ Menurut Mas, aku harus bagaimana..?’

‘ Menurutmu sendiri bagaimana…?’

‘Mas, aku imanen sekaligus transenden, kalau kau rasa
aku dekat, aku akan dekat, tapi kalau kau rasa jauh
aku akan jauh.’

‘ Tuhan, dengan segala hormatku, imanen ataupun
transenden, substansi dekat ataupun jauh, itu hanyalah
subjektif belaka. Semua hanya berdasar asumsi. Aku
tidak bisa menerima itu, paling jauh jika manusia
masih harus mempercayaimu dengan rasio, ya bahwa Tuhan
adalah Hukum Alam, seperti apa yg dipercaya Spinoza,
Bruno dan Einstein. Sederhana sekali Tuhanku yang
cantik, tidak ada bukti sama sekali ada campur
tanganmu dalam semua kejadian di alam ini.’

‘ Tapi ke-pantheis-an Spinoza dan kawan2 itu tidak
bisa untuk semua orang sayang, mayoritas manusia masih
membutuhkan kehadiranku secara personal. Aku tahu
bahwa Tuhan personal tidak bisa fit dalam kompleksitas
makro maupun mikrokosmos, tidak mampu menyentuh
relativitas ataupun kuantum mekanik, tapi kau harus
ingat saudara2mu yang masih tertinggal. Tanpa Tuhan
yang dekat, mereka akan dengan gampang lepas dari rel2
kebaikan. Tanpa harapan dan ancaman, mereka akan
dengan gampang masuk dalam perangkap kejahatan.’

Eh, tidak salah dengar aku tadi, dia memanggilku
sayang. Asyiikk, wah pucuk dicinta ulam tiba.

‘ Tapi begini Tuhan yang penuh keindahan, etika tidak
harus dari Tuhan, etika tidak niscaya butuh sandaran
vertikal. Etika harus membumi, dan itu bisa didapat
dari pendidikan, simpati, dan hubungan sosial.’

‘ Aku setuju denganmu, tapi kau harus realistis
sayang. Duniamu dihuni oleh 80% lebih orang yang
beragama, kalau kau menginginkan perubahan, jangan kau
tinggalkan mereka. Layaknya menyeberang sungai dengan
perahu, kau sudah sampai di seberang. Tapi perahu
jangan kau buang, mereka masih butuh perahu itu. Hanya
yang pasti, perbaikilah perahu itu, yang bocor2
ditambal, sehingga mereka sampai juga di seberang. Aku
juga tahu, dengan perahu konservatisme yang ada
sekarang, mereka tidak akan pernah mencapai seberang,
tapi sekali lagi jangan buang perahu, tapi
perbaikilah. Secara ekonomi, cost-nya terlalu tinggi
dibanding benefit yg diperoleh dengan membuang perahu
itu dan menggantinya dengan yang lain ’.

Sebenarnya, aku gak begitu konsentrasi ngomong sama
Tuhan, kecantikan dan kemanjaannya sungguh di luar
dugaanku. Ah, kenapa tidak kuajak nonton film saja.

‘Eh, aku ada film bagus. Sepanjang film yang bermain
hanya dua orang. Nonton film yuk.’

‘Boleh, dimana…?’

‘Di kamarku, deket koq dari café ini.’

Aku segera mengambil jaket kulitnya dan kubantu dia
untuk memakainya. Horeee, perangkapku manjur.

Sesampai di kamar, Tuhan kelihatan senang. Dia
senyum-senyum.

‘Kenapa kau senyum2..?’

‘Tumben, ada cowok kamarnya bersih’

Aku jadi ikut tersenyum2.

‘Kamarku bukannya bersih, tapi memang gak ada barang2
berharga. Seperti kau lihat, aku hanya punya laptop,
gitar, keyboard, dan sedikit pakaian. Hippies miskin,
biasalah hahhaa….’

Aku segera nyalakan laptopku, dan segera kuambil chips
dan kitapun nonton ‘Before Sunrise’, film yang penuh
dialog dewasa kalau aku bilang. Hampir akhir film ada
adegan2 romantis, aku coba belai2 rambut Tuhan, dia
diam saja. Kucoba cium pipinya, dia hanya senyum.
Selanjutnya yang diinginkan terjadi, terjadilah.

Tapi setelah sekian lama bercumbu, busyet dah, belum
juga orgasme Tuhan ini. Cunnilingus sudah, Fellatio
sudah. Foreplay cukup lama. Sudah kucoba semua gaya,
doggy style, 69, misionaris, crabwalk, butterflies,
sampai T-Square dan Gaya Kapak tetep aja belum
orgasme. Sementara aku udah capek banget, sudah ngilu
disana sini.

‘ Mas kuat deh, belajar tantra ya Mas. Ayo dong main
lagi, belum puas nih.’

‘Heh, enak kamu tinggal nerima beres. Aku belum makan
nih dari tadi pagi, paling cuman snack waktu di toko
tadi. Tantra sih tantra, tapi kalau kagak isi bensin,
koit juga aku.’

Kupikir untung juga aku belajar tantra, bisa on-off
saklar dengan presisi. Kalau tidak sudah tepar dari
tadi. Tapi gairah Tuhan ini gak ketulungan, ngos2an
aku dibuatnya. Sudah hampir tiga jam kita bergumul,
tapi masih belum ada tanda2 dia akan terpuaskan. Dan 4
jam adalah titik kulminasiku, titik 6 jam seperti di
tantra yang ideal masih belum pernah kualami. Biasanya
karena si cewek sudah koit duluan.

Kuberpikir keras untuk menemukan titik sensitifnya.
Setelah beberapa lama, aha, akhirnya kutemukan pula
G-Spot Tuhan. Menggelinjanglah dia kalau kusentuh itu
G-Spot, merem melek, goyang kanan, goyang kiri. Dan
akhirnya diapun terengah2 menemui puncaknya.

Waktu sudah menunjukkan 10.30 malam, kuantar dia
pulang. Kulihat dia tersenyum2 terus. Di halte kita
berciuman di tengah dinginnya malam.

Sejak malam itu aku pacaran sama Tuhan. Tapi
sebagaimana sudah aku duga sebelumnya, pacaran ama
Tuhan itu makan hati. Tuhan sangat pencemburu dan
posesif, mendua jelas2 gak boleh, bisa digampar abis
aku. Selain itu Tuhan juga diktator, ngatur sana,
ngatur sini, kalau kagak diturutin ngambek. Dalam hal
komunikasi juga begitu, dia bisa seenak jidat
menghubungiku kapanpun, tapi aku tidak bisa setiap
saat menghubunginya, apalagi kalau rush hour. Tapi aku
tetap sayang sama Tuhan. Aku mencintainya.

*Based on 50% true story

Iklan
, , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.