
Once, we were comfortable with our skin. In our God given glorious paradise island, we were one with our nature, part of it, the crown of it. Then came other people who told us that our nakedness were wicked and barbaric, a sin in God’s eyes. So they made us ashamed of our simplicity and told us to hide our beauty.
Centuries later, the same people returned in their bikinis, flaunting their nakedness under our caressing sun. Then they mocked us of our prudeness.
(Suatu ketika, kita pernah begitu nyaman dengan kulit kita. Di pulau Dewata yang bak nirwana ini, kita satu dengan alam, menjadi bagiannya, menjadi mahkotanya.
Lalu datanglah orang dari luar yang mencela dan mengatakan bahwa ketelanjangan kita itu adalah suatu kejahatan, bahwa kita tak berbudaya dan kita berdosa di mata Tuhan. Mereka membuat kita malu akan kesederhanaan kita dan menyuruh kita menyembunyikan keelokan kita.
Berabad-abad kemudian, orang asing yang sama kembali ke pulau kita hanya dengan bikininya. Memamerkan ketelanjangannya di bawah belaian matahari kita. Lalu mereka mengejek kekolotan kita)
notes inspiratif dari sis Aditya :D








9 Januari 2013 pada 14:11
ya kalo bicara pulau dewata ya …..
12 Juli 2012 pada 11:03
Itu orang gga tau malu kali bang!?!??
12 Juli 2012 pada 17:35
kok dari kemarin gak ada yg ngomentarin artikelnya ya? ini semuanya mengomentari gambarnya
bukti kalo kita hanya terpaku dan terpukau pada wadah bukan isi
11 Juli 2012 pada 22:11
sebagai penikmat seni, saya pribadi melihatnya artistik…
lanjutkan sobat….
(kucek-kucek) mantab!
11 Juli 2012 pada 18:54
itu fotonya asli ya ngambilnya di bali bang ?
12 Juli 2012 pada 17:34
itu foto diambil dari facebook orang hihihi