Tentang iklan-iklan ini

Syahadat Cinta Rabi’ah Adawiyah

11 Februari 2012

Books

Syahadat Cinta Rabi’ah Adawiyah

Gairah Cinta Tanpa Pamrih!

Syahadat Cinta | Rabi’ah Adawiyah

“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta: cinta yang penuh gairah dan cinta yang Kau berhak atasnya
Kusebut cinta yang penuh gairah
Karena aku tak bisa mengingat selain diri-Mu
Kusebut cinta yang Kau berhak atasnya
Karena Kau telah menyikap hijab hingga aku bisa melihat-Mu
Tak patut pujian untuk diriku karena hal ini dan itu
Segala pujian hanya untuk diri-Mu”

Rabi’ah Adawiyah

Rabi’ah Al Adawiyah hanyalah seorang gadis gelisah yang bergairah pada cinta Tuhannya. Rabi’ah memilih cinta sebagai fokus. Cinta itulah yang menjadi landasan Rabi’ah berelasi dengan sesama manusia dan Tuhan.

Lahir sekitar tahun 2 H atau ke-8 M di Bashrah Irak. Rabi’ah lahir sebagai seorang Bani ‘Adi yang dikenal ahli ibadah dan hidup sebagai pertapa. Lahir dari keluarga miskin, saat remaja ia bersama tiga bersaudara harus  menghidupi diri sendiri selepas kedua orang tuanya meninggal.

Dalam bencana kelaparan yang menerpa Iraq, ia pergi mencari penghidupan. Celaka! Ia diculik dan dijadikan budak. Namun dalam kekerasan yang ia terima selama menjadi budak, tidak membuat ia lupa akan tuhannya. Ia bekerja keras tanpa upah kecuali mendapat makan ala kadarnya.

Rabi’ah benar-benar hidup sendiri, tanpa teman untuk curhat, tanpa kekasih untuk berbagi cerita, tanpa keluarga untuk meminta bala bantuan. Ia lewati hari-hari sendiri. Satu-satunya tempat berkeluh kesah, yang selalu ia rindukan dengan segenap kasih sayang hanyalah Tuhan.

Tiap malam ia gunakan waktu untuk menyebut nama-Nya. Bahkan hal itu membuat majikannya suatu hari terpana ketika melihat tali bercahaya mengambang di atas kepala Rabi’ah Al-‘Adawiyah. Selalu mendekatkan diri pada sang khalik itu yang menjadi jalan ia dimerdekakan dan kemudian mengambil jalan sebagai penghibur peniup suling sekaligus biduan.

Rabi’ah juga dikenal melalui kemahirannya berpuisi dan berprosa serta parasnya yang rupawan. Kemasyurannya sampai ke negeri seberang. Pinangan datang dari berbagai kalangan, termasuk ahli kitab Hasan Al-Bashir yang merupakan tokoh ulama berpengaruh pada zamannya. Di tengah kemasyurannya ia memilih bertobat, tidak jelas karena alasan patah hati, jenuh dengan dunia itu atau disadarkan oleh lingkungan majelis pengajian. Setelah bertobat ia terus mengasah kemampuannya dalam bertutur dan menciptakan syair-syair cinta tulus serta mendalam, sebagaimana cinta kepada Sang Terkasih.

Daftar Isi Buku Syahadat Cinta Rabi’ah Adawiyah

BAB I
PENDAHULUAN: MENGAPA MENGHADIRKAN KEMBALI RÂBI’AH? —

BAB II

  • MELACAK RÂBI’AH DALAM LITERATUR KLASIK —
  • Dari al-Qaysiyah Ke al-‘Adawiyah —
  • Asal-Muasal “Puisi Cinta” —
  • Penyingkiran dari Peringkat Tokoh Sufi —
  • Pengembalian Martabat oleh Farîduddîn al-‘Aththâr —
  • Kontroversi: Tiga Nama Râbi’ah, Kabar Menikah, Tahun Lahir dan Wafat —
  • Prosa dan Puisi yang Dinisbatkan Padanya —

BAB III

  • Dari Zuhud Ke Tasawuf: Kehidupan Spiritual di Masa râbi’ah —
  • Zuhud sebagai Revolusi Spiritual —
  • Tipologi Tasawuf: “Tasawuf Sosial”, “Tasawuf Romantik” dan “Tasawuf Gnostik” —
  • Kehidupan Sosial dan Politik di Bashrah —
  • Pelopor Generasi Spiritual: ‘Âmir, Shilah dan Mu’âdzah al-‘Adawiyah —
  • Majelis al-Hasan al-Bashrî: Ibadah dengan Ketakutan dan Ratapan —
  • Pemula Perindu Ilahi: Abdul Wâhid bin Zayd, ‘Utbah al-Ghulâm, Riyâh al-Qaysî, Hayyûnah —

BAB IV

  • “TASAWUF ROMANTIK” DAN PERAN PEREMPUAN SUFI —
  • Tradisi Kerahiban —
  • Pengaruh Sastra “Ghazal”: Puisi Erotis dan Puisi Platonis —
  • Ketegangan Tubuh dan Ruh dalam Sastra Romantik —
  • Sejarah dan Peran Perempuan Sufi: Dari Terekspos Ke Tercadari —
  • Kenabian dan Kewalian Perempuan —
  • Râbi’ah Antara Cinta Erotis dan Platonis —

BAB V

  • MENAFSIR ULANG KISAH RÂBI’AH —
  • Kelahiran: Kemiskinan dan Perbudakan —
  • Sebagai Penghibur: Kisah yang Dramatis —
  • Pencerahan: “Kudeta Spiritual” —
  • Haji: Proses Keislaman —
  • Bersama al-Hasan al-Bashrî: Pertemuan Spiritual —
  • Sebagai Guru Spiritual —
  • Karamah-Karamah —
  • Wafat: Anekdot bersama Malaikat Munkar-Nakir —

BAB VI

  • RÂBI’AH DAN “SYAHADAT CINTA” —
  • Ikon “Tasawuf Cinta” —
  • Syahadat dalam Konflik Politik —
  • Dari “Syahadat Penghambaan” Ke “Syahadat Cinta” —
  • Tuhan sebagai Kekasih —
  • Membakar Imaji Surga dan Neraka —
  • “Dua Cinta” Râbi’ah —

Buku yang ditulis Mohamad Guntur Romli ini memiliki keistimewaan dalam menghidupkan Rabi’ah Al-‘Adawiyah. Guntur, begitu aktivis Islam ini biasa disapa, menggunakan puluhan literatur asli (non terjemahan) dari Timur Tengah yang dijadikan acuan dalam menulis buku ini.

Literatur asli bahasa arab yang sesuai dengan bahasa ibu Rabi’ah Al-‘Adawiyah bukan tak ada maksud.  Dengan menggunakan literatur asli maka budaya dan makna bahasa yang disampaikan penutur awal (sumber kajian) tersampaikan dengan tepat.

Selama ini sulit mendalami Rabi’ah Al-‘Adawiyah, karena sepanjang hidupnya ia tak pernah menelurkan karya tulis, sehingga kajian didapat melalui seorang penutur-yang pada masa itu menjanjikan. Juga melalui kisah yang dituliskan oleh orang lain dan para sahabat. Rabi’ah mungkin juga korban zaman yang mengucilkan dan menyepelekan pemahaman dari seorang pemikir perempuan.

Seorang pemikir perempuan, tidak mudah diterima oleh khalayak pemikir saat itu karena ia besar di era laki-laki. Pemikirannya juga tidak populer karena zaman itu orang sedang disibukkan dengan pemberantasan terhadap kedzaliman penguasa yang suka bermewah-mewah, sehingga syair yang lebih banyak beredar adalah ancaman serta iming-iming sebagai ajakan untuk bertuhan kepada Allah.

Sampul depan yang berwarna merah dan menampilkan wanita berkerudung dengan mata sendu serta bercahaya di sekitar kepala, sosok yang diidentikkan dengan Bunda Maria, pada awalnya dapat membawa calon pembaca pada persepsi tanda tanya. Apakah buku ini akan bercerita tentang penderitaan Bundan Maria atau mungkin mengangkat perjuangan perempuan.

Buku Syahadat Cinta Rabi’ah Adawiyah ini mampu menjawab siapa sesungguhnya Rabi’ah Al- ‘Adawiyah. Guntur sanggup menghadirkan sejarah dan kisah pendukung masa itu, sehingga pembaca paham konteks dan nafas budaya pada masa lahirnya karya Rabi’ah Al-‘Adawiyah. Guntur dengan sabar membandingkan ahli kitab, karya serta syair populer masa itu dan memilahkan pembaca mana karya asli dan saduran.

Dengan demikian Rabi’ah tak hanya dikenal oleh salah satu munajatnya yang paling terkenal: “Ya Ilahi, jika aku menyembah-Mu karena takut siksa neraka, maka bakarlah aku dengan apinya. Jika aku menyembah-Mu karena berarap surga, maka singkirkanlah aku darinya. Namun jika aku menyembah-Mu karena cinta–jangan kau halangi aku untuk memandang wajah-Mu.”

Mengkaji kembali pemikiran Rabi’ah Al-‘Adawiyah sama halnya mengingatkan kita kembali pada esensi untuk bertuhan. Saat rekan-rekan sufi seangkatannya menganjurkan untuk mengingat Tuhan melalui murka-Nya atau beberapa ahli kitab yang dengan mudahnya menghalalkan darah seseorang, Rabi’ah Al-‘Adawiyah mempertanyakan hakikat berseteru antara sesama muslim, padahal keduanya mengakui tuhan adalah Allah dan rasul-Nya bernama Muhammad SAW.

Rabi’ah Al Adawiyah dengan keluasan cintanya adalah jawaban dunia saat ini yang sedang berlumuran darah dan air mata. Andai pemimpin dunia saat ini menjadikan cinta sebagai landasan melayani masyarakat, tentu tak ada kisah pilu. Tak ada yang keliru dari kalimat ini: cinta menyelesaikan semua urusan !

Buku: Syahadat Cinta Rabi’ah al-’Adawiyah
Penulis: Mohamad Guntur Romli
Penyunting: Nong Darol Mahmada
Penerbit: Rehal Pustaka, Januari 2012
Jumlah Halaman: 236 + xviii
email: rehalpustaka[at]gmail[dot]com

Tentang iklan-iklan ini
,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 363.345 pengikut lainnya.