Tentang iklan-iklan ini

Berteman dengan Kematian (Catatan Gadis Lupus)

17 Oktober 2011

Books

Berteman dengan Kematian

(Catatan Gadis Lupus) | Sinta Ridwan

Berteman dengan Kematian (Catatan Gadis Lupus) | Sinta Ridwan

Jodoh yang paling pasti adalah kematian.

“Kematian adalah anugerah tertinggi yang

bisa diberikan cinta kepadamu.”

 Tapi maukah kau menemaniku

menunggu mautku?

“Justru aku menanti dalam mautmu

saat itulah kau baru bisa menikah.”

 Inginku, hingga akhir waktuku,

menjadi kenangan dalam hidupmu.

“Adakah kenangan yang lebih abadi

dari kematian?”

 Aku sendiri yang harus mengatasnamakan

keakuanku di atas kuburanku, duniaku.

“Bila itu terjadi, kau baru tulus mencintai

tapi tak perlu sentimentil begitu, biarlah

menjadi rahasiamu sendiri.”

 Aku terasing di dunia lain, sendiri

di ruang kosong, gelap, sesak hampa.

“Ada yang harus dilakukan di situ, sayang

sebagai maskawin sebelum kau kembali.”

Kalo aku tiba-tiba mati bagaimana?

Kamu menangis?

“Ih, gemes aku padamu, kemarilah, sayang

kemarilah, biar kudekap tubuhmu

saat pernikahan sudah datang.”

 Hei, kau ini siapa?

“Aku adalah kematian dirimu.”

 Bandung dan Jakarta, April 2009

Catatan Salahudien Gz , Editor in Chief Penerbit Dolphin

Puisi di atas adalah kolaborasi antara saya dengan Sinta Ridwan, kalau tidak salah beberapa minggu setelah kami berteman di FB. Saat itu saya belum tahu kalau Sinta adalah seorang odapus (penderita lupus –sebuah penyakit yang belum ada obatnya). Beberapa status FB dia saat itu berbicara tentang kematian. Saya copaste beberapa status dia saat itu dan saya rangkai dengan kata-kata saya sendiri sehingga menjadi sebuah puisi. Mungkin judul puisi itu seperti sebuah premonisi, ya, Sinta? Sebuah pertanda bahwa suatu saat engkau bakal menuliskan “pertemananmu dengan tema kematian” menjadi sebuah buku. Dan, setahun kemudian, engkau ternyata menuliskan sebuah buku, yang berjudul Berteman dengan Kematian. Kita bertarung cukup lama tentang judul bukumu itu, Sinta. Kamu masih ingat? Kamu berkukuh dengan judul Hidup Harus Hidup, tapi saya dengan sedikit memaksa agar judulnya adalah Berteman dengan Kematian.  Akhirnya, kamu menerima judul buku yang saya usulkan tersebut dan Penerbit Ombak, penerbit bukumu itu, pun menyetujuinya dengan antusias.

Setahun berlalu. Bukumu mendapat sambutan yang besar dari pembaca di Indonesia. Sekarang sudah cetakan ketiga. Saya bahagia mengetahui hal itu, Sinta. Dan tadi pagi engkau berkirim SMS kepadaku: “Nonton Kick Andy Hope ya judul ‘Indahnya Berbagi’ di Metro TV tayang hari ini, Sabtu 15 Okt pkl 19.30 wib, diulang Sabtu  22 Okt pkl 14.05 wib. Terima kasih ^ ^“.  Saya pun menanti-nantikan acara itu. Dan, sungguh saya ikut menitikkan air mata, Sinta, ketika engkau menangis pada tayangan itu. Betapa apa yang kamu lakukan selama ini sungguh luar biasa dan menginspirasi banyak orang di Tanah Air tercinta, sehingga Kick Andy pun mengapresiasi buku dan apa yang telah kamu lakukan selama ini. Engkau bersahabat dengan kematian seraya tersenyum lebar dan menyambutnya dengan melakukan hal-hal yang “positif” bagi orang-orang di sekitarmu. Kamu membuka kelas “Menulis dan Membaca Aksara Kuno” di Bandung dengan gratis, cuma-cuma, sekadar untuk berbagi ilmu yang kamu kuasai, tanpa mengaharapkan balasan materi apa pun.

Kami mencintai dan mendukungmu, Sinta. Apa yang kamu lakukan sungguh sesuatu baget! Dan saya akan selalu menanti karya-karyamu berikutnya. Semoga dalam waktu dekat saya bisa main ke Bandung, ya? Jadi kangen ketemu denganmu dan Fuad, seperti setahun yang lalu saat kamu berkunjung ke Dolphin.

Bagi teman-teman yang belum sempat menonton tampilan Sinta Ridwan dalam acara “Kick Andy Hope” tadi malam, masih ada kesempatan untuk menontonnya lagi pada hari Sabtu, 22 Oktober pukul 14.05 WIB. Juga, jangan lupa untuk membeli buku Berteman dengan Kematian yang sangat menginspirasi itu. Awas pada gak beli! :mrgreen:

Daftar Isi
Prolog si hidup – 1 Bunga matahari di pantai utara – 7 Perjalanan awal bintang senja – 39 Kelahiran senja dari kematian embun – 56 Mempertahunkan kebahagiaan demi mimpi – 72 Hidup bak air sungai – 89 Ketika mega mulai menghitam – 105 Tarian samudra menantang hujan – 121 Ribuan kilat membelah langit kelam – 139

Detail Buku Berteman dengan Kematian

ISBN: 9786028335454
Author: DUNIA SINTA RIDWAN
Language: INDONESIA
Date Published: 2010
No. of Pages: 362
Dimensions (cm): 13 x 19

 

Tentang iklan-iklan ini
, , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 363.446 pengikut lainnya.