Beranda > Inspirational > Orang Dewasa Yang Kekanak-Kanakan

Orang Dewasa Yang Kekanak-Kanakan

Mengintip situs WIKIPEDIA, istilah kidult (dari kata KID dan ADULT) pertama kali muncul pada decade 80-an. Di perkenalkan oleh psikolog kondang Amrik Jim Ward Nichols dari Stevens Institute of Technology. Kidult adalah sebutan bagi orang – orang usia 20 tahun ke atas yang masih enjoy menikmati budaya kanak – kanak, atau remaja belasan, baik secara fisik/ penampilan, gaya hidup, maupun pemikiran, yang sesungguhnya tidak cocok lagi bagi usia mereka.

Ada banyak contoh yang bisa di kategorikan kidult. Misal, wanita umur 32 tahun yang masih senang pakai blus berenda – renda dengan pita warna pink atau pria umur 35 tahun yang masih gemar meluangkan waktunya main play station, sampai para pacar atau istri geregetan (:lol:), atau bagi mereka yang “takut” menikah hanya karena enggan memikul tanggung jawab besar, kalaupun sudah menikah, mereka tetap menggantungkan hidup pada orang tua.

Singkat kata, mereka adalah orang – orang yang “menolak” jadi dewasa karena tidak mau kehilangan zona aman sebagai anak – anak, yang biasanya tidak menuntut tanggung jawab besar. Surat kabar The New York Times edisi 31 Agustus 2003 pernah memuat tulisan investigative makin maraknya fenomena kidult di Amerika, soalnya di Amerika sendiri “tradisi” keluar rumah sesudah mereka bekerja bahkan masih kuliah adalah hal biasa, jika kemudian hari ada fenomena “tinggal bersama” orang tua, meskipun bisa di bilang sudah bekerja mapan, atau kuliah sambil bekerja, pastilah jadi hal yang luar biasa bagi masyarakat Amerika.

Sedangkan di Australia menurut ahli kependudukan Bernard Salt, fenomena kidult mulai menjakiti mereka yang berumur 25 tahun ke atas. Mereka menunda pernikahan, menunda punya anak, menunda membeli rumah, lebih memilih keliling dunia ketimbang hidup mapan, memperlakukan karier dan relationship sebagai ajang coba – coba, membelanjakan uang seolah dunia mau kiamat.

Fenomena kidult sebenarnya sudah ada di awal tahun 60 an, namun 10 tahun belakangan ini mengalami peningkatan luar biasa. Dalam situs Med Magazine, banyak nama – nama untuk orang kidult, antara lain middlescent, middle-youth, adultscent, peterpans (orang tua yg belum dewasa), dan grups ( singkatan dari grow – ups). Nah, pengaruh terbesar sampai terjadinya fenomena kidult di negara – negara maju tersebut, kebanyakan di akibatkan oleh kondisi perekonomian yang mapan (bagi generasi orang tua mereka), lapangan kerja yang makin kompetitif (bagi kaum muda), harga – harga yang makin mahal, hingga gaya hidup yang makin hedonistis. Alhasil, orang tua sering di jadikan “bank pribadi” bagi anak – anak mereka yang merasa “kurang beruntung” Peran Keluarga Besar Lha terus bagaimana di Indonesia sendiri? menurut sosiolog V. Sundari Handoko, fenomena kidult bisa saja terjadi di Indonesia meski belum ada penelitian khusus. Tapi, budaya di Indonesia sejak dulu hingga sekarang berlaku extended family (keluarga besar), dengan karakeristik komunal dan memiliki ikatan emosional tinggi satu sama lain. Dalam ikatan ini, ada kewajiban saling membantu, dan karena biasanya orang tua yang lebih mapan baik secara ekonomi maupun pengalaman, maka orang tualah yang paling sering membantu anak – anaknya (meski sudah dewasa, bahkan menikah dan memiliki penghasilan sendiri).

Ironisnya, disisi lain, sebagai keluarga besar (misalnya trah atau marga) mereka juga saling berkompetisi, alhasil kalau ada salah seorang anak yang terlibat kesulitan, sebisa mungkin orang tua membantu, kalau anak di biarkan gagal, hal itu bisa menjadi aib di mata keluarga besar. Jadi, kalaupun di Indonesia ada fenomena kidult, penyebab utama adalah karena ketidak mandirian dan kemanjaan si anak. Meski sekarang banyak orang tua yang “berani” melepas anak – anaknya untuk sekolah ke luar negri atau luar kota, hal ini tidak berarti membuat si anak mandiri. Tak jarang orang tua menyediakan rumah kontrakan lengkap dengan pembantu, uang mingguan, kalau perlu di telpon tiga kali sehari. Ini beda sama penduduk desa atau daerah. Mereka petarung sejati, tidak saja merantau ke luar daerah, bahkan ke luar negri menjadi TKI.

Dari mereka, bisa menghasilkan remittance hingga milyaran rupiah. Sebaliknya orang kota yang menganggap “lebih” di banding orang daerah, sering kali mempunyai anak – anak yang tumbuh menjadi kidult. Karena, atas nama cinta dan kehormatan keluarga, orang tua selalu siap membantu setiap kali anak – anaknya mendapat kesulitan hidup dalam menghadapi kerasnya hidup. Lantas Bagaimana Bisa Tumbuh Menjadi Kidult? Lusia Ratrining Sari mengupas dari sudut teori psikologi. Menurut dia, perjalanan hidup manusia di bagi dalam beberapa kelompok, dan setiap kelompok umur memiliki tugas perkembangan sendiri. Dari masa bayi, remaja, hingga dewasa.

Pada orang kidult, sifat kekanak–kanakan harusnya sudah selesai dan ternyata masih berlangsung. Baik dari penampilan, emosional, kepribadian, dan pola pikir. Mereka selalu membutuhkan orang lain (bahkan orang tua) dalam mengambil keputusan, kalau kemauannya di tolak langsung ngambek, ngomel, atau malah balik menyerang, enggan memikul tanggung jawab yang besar dan sebagainya. Lusi juga menambahkan, kalau kidult tidak ada hubungannya dengan inteligensi seseorang. Banyak juga kidult yang cerdas, mempunyai pekerjaan mapan, dan karier cemerlang. Tak jarang, justru mereka bisa membuat argumen – argumen pembenaran atau rasionalisasi bagi sifat kekanakannya. Perangai kidult juga di sebabkan berbagai faktor seperti pola asuh orang tua, pengaruh lingkungan, trauma masa lalu, struktur dasar kepribadian orang itu sendiri, bahkan semuanya. Namun tak dapat di sangkal, pola asuh orang tualah yang berperan besar.

Setiap orang tua (bahkan hewan) punya naluri untuk melindungi anak – anaknya dari marabahaya atau kesulitan. Apalagi, di Indonesia dimana ikatan kekeluargaan masih relative kuat, rasanya sering sekali kita dengar orang tua mengatakan “untuk apa lagi sih, kita mencari uang kalau bukan untuk anak” Di lain pihak, tak sedikit orang tua yang ingin tetap merasa berarti buat anak – anaknya meski mereka sudah dewasa dan berkeluarga dengan tetap mengulurkan bantuan buat anak – anaknya. Dengan kata lain, tanpa sadar mereka terus menciptakan ketergantuangan pada si anak.

Celakanya, tak sedikit juga orang tua yang semasa mudanya adalah “petarung hidup”, justru tidak mau mewariskan jiwa petarungnya kepada anak – anak mereka dengan alasan “biarlah kami saja yang mengalami kepahitan hidup. Anak – anak jangan sampai mengalaminya juga” yang akhirnya justru melahirkan anak – anak kidult. Padahal, yang tak kalah penting untuk di ingat, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Orang tua bisa sewaktu – waktu meninggal, dan harta bisa ludes dalam sekejap. Pada saat – saat itulah kemandirian seseorang baik secara fisik maupun emosional menjadi berperan.

So, which one are you? :D

  1. 7 Oktober 2010 pada 11:44 | #1

    haha.. artikel menarik.. saya berada dimana ya? di satu sisi saya masih suka nempel2in sticker di tembok kamar, nonton conan, maen ps, tapi di sisi lain saya juga udah berjuang nyari duit jajan sendiri.. gimana tuh?? ^^

  2. JoO
    19 September 2010 pada 09:53 | #3

    wah ko aku merasa ya :-P hahaha..
    yang penting bisa mengambil keputusan dan berani bertanggung jawab… xixix

  3. 19 September 2010 pada 04:41 | #4

    gw br dgr istilah kidult… :lol:

  4. 19 September 2010 pada 04:39 | #5

    gw baru dgr istilah kidult,,, :lol:

  5. 18 September 2010 pada 22:33 | #6

    posting kali ini benar-benar menohok sekali untuk saya :lol:
    mau komen apa nich :mrgreen: mati kutu …

    saya baru tahu istilah kidult ini … memang seiring waktu menurut saya umur dan kelakuan semakin mundur :D … maksud saya dulu umur 20 tahun tuh tuaaaaa banget … sekarang si ariel yang udah 29 tahun pun masih dianggap “remaja” oleh sang produsernya … katanya apa yang dia lakukan itu kenakalan remaja … bwakakak ….

    hey, mungkin mereka benar, kalau 35 is the new 25! :mrgreen: … para wanita yang diatas 25 sekarang masih banyak yang single dan belum menikah. padahal ibu saya jaman dulu menikah di umur 25 sudah dianggap perawan tua …. hehehe ….

    • Red
      19 September 2010 pada 01:18 | #7

      kalau menurut analisaku: jaman dulu kan pilihan untuk kesana kemari, bikin ini dan itu terbatas. sedangkan di jaman ini begitu banyak pilihan dan opsi untuk melakukan sesuatu. kata gue, jiwa kidult ada di semua orang.. yg penting jangan merepotkan orang lain. kita bisa aza masih maen PS atau nonton doraemon, tapi tanggung jawab penuh atas hidup kita tetap harus dipikul oleh kita sendiri :)

  6. sri widowati
    18 September 2010 pada 13:57 | #8

    artikel bagus, tapi……Q kurang sependapat untuk kategori ibu2 dg blus berenda!g semua,ex: me…

  7. 17 September 2010 pada 23:21 | #10

    “wanita umur 32 tahun yang masih senang pakai blus berenda – renda dengan pita warna pink” >> bukannya pita berenda emang buat ibu2 yaa..? :p

    ini saya deh kayaknya. masih demen baca komik n nonton kartun. adik saya yang cuma beda 18 bulan selalu, “please kak, grow up!” :D

    • Red
      18 September 2010 pada 00:29 | #11

      :lol: yang penting cool aza deh dan gak nyusahin ortu atau orang lain :P

  8. 17 September 2010 pada 13:48 | #12

    waa… kekasihku termasuk. :mrgreen: dia umur 37 masih suka main PS :lol:

    untuk tulisan yg terakhir itu termasuk pada diri saya. Saya tak ingin anak-anak saya nanti mengalami kepahitan hidup seperti saya :mrgreen:

  9. 17 September 2010 pada 08:43 | #13

    Sayangnya saya masih kidult ya, karena masih suka main PS bola… :D

  10. 17 September 2010 pada 07:16 | #14

    ampun deh jangan sampe seperti itu…

  11. 17 September 2010 pada 06:08 | #15

    hehe mending masih kecil tapi bersikap dewasa daripada badan gede tapi kekananak-kanakan ^^

  12. 16 September 2010 pada 15:11 | #16

    videonya gokiel… hehehe

  13. 16 September 2010 pada 12:51 | #17

    wah…kayaknya saya masih kidult nih, kuliah masih dapet IMF dari ortu.. baiklah, bulan depan aliran dana dari IMF harus saya potong!

  14. 16 September 2010 pada 12:27 | #18

    tradisi di negeri kita yg gak tegaan, ternyata ikut membantu terjadinya kidult ini ya Red.
    masih banyak memang anak2 yg walaupun sudah mandiri, tetap saja masih bergantung pd ortu.
    kebetulan salah satu adik bunda mengalami hal ini, sampai kita kakak2nya geregetan, sementara ortu kita santai2 saja, dgn alasan gak tega :(
    salam

  15. 16 September 2010 pada 10:22 | #19

    huaaaaaaaaaaaaa :cry: dan QK adalah termasuk salah satunya…. :cry:
    deuch,,,, pola asuh orang tua…. :cry: :cry:
    hehehe apalagi paragraf terakhirnya dah….hufff,,, nasib…. qkkqkqkq…

  16. 16 September 2010 pada 10:07 | #20

    semoga aku tidak temasuk :D

  17. 16 September 2010 pada 09:37 | #21

    jangan2 sy termasuk kidult???!!!!
    terima kasih artikelnya …. bermanfaat sekali biar kita banyak memperbaiki kesalahan2

  1. 26 November 2010 pada 08:02 | #1
  2. 3 Januari 2012 pada 11:09 | #2

Mari Berdiskusi !

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.246 pengikut lainnya.