Tentang iklan-iklan ini

Arya Penangsang (1)

1 April 2010

Spiritualism

Bagian 1

Catatan ini adalah kelanjutan catatan-catatan saya sebelumnya, yaitu Misi Peng-Islam-an Nusantara, Sekelumit Kisah Sunan Kajenar atau Syeh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging dan Jaka Tingkir


-Damar Shashangka-

Pemerintahan Demak Bintara semenjak dipegang oleh Sultan Trenggana mulai pada tahun 1521 Masehi, terus menerus harus melakukan aksi militer demi untuk mempertahankan eksistensi Kesultanan Islam Jawa sekaligus untuk kembali memasukkan wilayah-wilayah bekas Kerajaan Majapahit diseluruh Jawa.

Pada masa awal Sultan Trenggana diangkat sebagai Sultan ke III Demak Bintara, garis politik fleksibel model Islam Abangan menjadi pilihan Sultan Trenggana. Namun menjelang pertengahan tampuk pemerintahannya, terpicu melihat keberhasilan Kesultanan Cirebon mampu menghancurkan Pajajaran dengan bantuan militer Demak Bintara, pandangan politik Sultan Trengana berubah haluan.

Kemenangan Cirebon atas sokongan militer Demak membuat Sultan Trenggana menjadi yakin akan kekuatan angkatan bersenjatanya. Maka berturut-turut, Demak mengadakan agresi militer ke Jawa bagian timur dimana sisa-sisa bangsawan Majapahit masih punya daerah kekuasan dan mendominasi disana.

Satu demi satu, daerah-daerah di wilayah Jawa bagian timur, ditundukkan dengan kekuatan bersenjata. Kekuasaan Demak Bintara semakin melebar dan meluas kearah timur pulau Jawa.

Semenjak tahun 1527, peperangan demi peperangan terus terjadi. Hingga pada tahun 1546, ketika Sultan Trenggana memimpin sendiri peperangan di wilayah Panarukan ( sekarang masuk wilayah Situbondo, Jawa Timur ), Sultan Trenggana tewas! Kabar kematian Sultan Trenggana mengguncangkan ibu kota Demak. Agresi militer yg bertujuan untuk menguasai wilayah Panarukan dan selanjutnya Banyuwangi, gagal!

Konon menurut cerita tutur, kematian Sultan Trenggana tidak terjadi di medan laga. Namun terjadi dikala Sultan Trenggana tengah menerima delegasi para bangsawan dari daerah taklukan baru. Konon ketika pertemuan terjadi, Sultan Trenggana menyuruh salah seorang bangsawan mengambilkan bahan-bahan untuk mengunyah sirih yang terletak tak jauh dimeja perjamuan. Karuan, bangsawan Jawa timur yang disuruh merasa tersinggung. Walaupun daerah kekuasaannya telah mengakui kalah dan tunduk kepada Demak, namun tidak seharusnya Sultan memerintah dia mengambilkan bahan-bahan untuk mengunyah sirih. Bagaimanapun juga, dia tetap seorang bangsawan. Masih banyak abdi dalem atau pelayan Sultan yang bisa disuruh untuk itu.

Tapi dengan berpura-pura memenuhi permintaan Sultan, bangsawan ini mendekati tempat duduk Sultan. Begitu sudah dekat, dihunusnya keris dan ditusukkannya ke tubuh Sultan Trenggana!

Sultan Trenggana tewas seketika ditempat perjamuan. Dan bangsawan yang nekad membunuh Sultan Trenggana berikut delegasinya, mendapat hukuman setimpal, penggal kepala!

Kabar tewasnya Sultan Trenggana di Panarukan mengguncangkan Demak Bintara. Jenazah Sultan Trenggana setelah diberi rempah-rempah agar tidak cepat membusuk, dibawa pulang ke ibu kota Demak melalui jalur laut.

Demak Bintara berkabung! Tak kurang, seluruh putra laki-laki Raden Patah, mulai yang sulung Adipati Yunus atau Pangeran Sabrang Lor, lantas Pangeran Suryawiyata atau Pangeran Sekar Seda Lepen, dan kini Pangeran Trenggana atau Sultan Trenggana, semua meninggal karena terbunuh! Kasak-kusuk beredar ditengah masyarakat Jawa, bahwa trah Demak memang tengah mendapat kutukan dari para leluhur tanah Jawa!

Dengan wafatnya Sultan Trenggana, maka secepatnya diangkatlah penggantinya. Dan putra sulung Sultan Trenggana, yaitu Pangeran Prawata atau Sunan Prawata, terpilih. Dia dikukuhkan sebgai Sultan Syah Alam Akbar Jiem-Boen-ningrat IV.

Pangeran Prawata atau Sunan Prawata memiliki cacat mata, yaitu buta. Konon hal ini karena kutukan Pangeran Suryawiyata, pamannya sendiri, saat Pangeran Prawata disaat mudanya membunuh pamannya itu terkait pemberontakan yang dia lakukan. ( Lebih jelas baca catatan saya Jaka Tingkir bagian 1 : Damar Shashangka).

Sosok Pangeran Prawata atau Sunan Prawata, tidaklah begitu popular dimata para bangsawan Demak Bintara. Diam-diam, didalam tubuh birokrasi dan angkatan bersenjata Demak, sudah terpecah dalam dua kubu. Kubu pertama mendukung Sunan Kudus dengan Jipang Panolan-nya. Sedangkan kubu kedua mendukung Jaka Tingkir atau Adipati Adiwijaya dengan Pajang-nya.

Pendukung Sunan Kudus adalah mereka-mereka yang berhalauan keras. Sedangkan pendukung Jaka Tingkir adalah mereka-mereka yang dulu memberikan dukungan kepada Sultan Trenggana ditambah sisa-sisa lasykar Majapahit yang berkedudukan di Jawa bagian tengah. Para lasykar ini merapatkan barisan dibelakang Jaka Tingkir, putra Ki Ageng Pengging yang sangat mereka hormati. ( Ki Ageng Pengging dan putranya, Jaka Tingkir sesungguhnya beragama Shiwa Buddha, oleh karena itu, sampai sekarang tidak ada makam dari kedua tokoh ini. Jaka Tingkir tidak pernah berguru kepada Sunan Kudus maupun Sunan Kalijaga. Namun, kepada Sunan Kalijaga, Jaka Tingkir sangat-sangat menaruh hormat. Murid-murid Sunan Kalijaga, adalah dari trah Tarub yang kelak menurunkan Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram Islam. Sudah saatnya sejarah diluruskan. : Damar Shashangka).

Dipihak Sunan Kudus, Arya Penangsang, putra Pangeran Suryawiyata, telah ditampilkan sebagai pemimpin kubu Putihan. Arya Penangsang yang masih berusia 26 tahun saat itu, tumbuh menjadi sosok pemuda yang ahli bela diri dan olah kanuragan berkat bimbingan Sunan Kudus secara khusus! Nama Arya Penangsang sangat ditakuti. Disamping terkenal keras perangainya, kesaktian yang dimilikinya juga membuat lawan berfikir seratus kali untuk berhadapan dengan putra Pangeran Suryawiyata ini!

Begitu Sunan Prawata dikukuhkan sebagai Sultan Demak IV, tampuk pemerintahan Jipang Panolan yang telah vacuum untuk beberapa tahun semenjak pemberontakan Pangeran Suryawiyata yang menemui kegagalan, tanpa persetujuan Sultan Demak, Arya Penangsang langsung dikukuhkan sebagai Adipati Jipang Panolan. Dan Sunan Kudus, bermain dibalik peristiwa itu!

Peristiwa penobatan ini mengejutkan pihak yang berseberangan dengan Jipang Panolan dan antek-anteknya. Tak urung, Jaka Tingkir atau Adipati Adiwijaya didukung beberapa Adipati yang pro dengannya, menyarankan kepada Sultan Demak IV untuk segera mengambil tindakan tegas! Jipang Panolan adalah wilayah Demak Bintara, tidak sepatutnya terjadi pengangkatan seorang Adipati tanpa persetujuan Sultan Demak sendiri!

Situasi politik Demak Bintara mulai memanas. Manakala Sultan Demak IV sudah berencana melepas jabatan Arya Penangsang sebagai Adipati dan hendak menggantikannya dengan seorang pejabat lain, terdengar kabar yang sangat mengejutkan, bahwa Sultan Demak IV atau Sunan Prawata, tewas terbunuh berikut sang permaisuri!

Demak Bintara terguncang! Dan yang lebih mengejutkan lagi, selain jenazah Sultan dan permaisuri, ditempat kejadian juga terdapat jenazah seorang laki-laki misterius dengan sebilah keris menancap didadanya dan keris tersebut tak lain adalah Keris Kyai Brongot Setan Kober, pusaka milik Sunan Kudus!

Tidak ada saksi mata lain saat peristiwa berdarah itu terjadi kecuali sosok Arya Pangiri, putra Sultan yang masih kecil. Arya Pangiri selamat karena dia bersembunyi dibawah kolong ranjang sewaktu peristiwa itu terjadi!

Sultan Demak, sang permaisuri berikut putranya Arya Pangiri sebenarnya adalah target pembunuhan. Tapi, Arya Pangiri berhasil lolos dari maut!

Ratu Kalinyamat, bibi Arya Pangiri, adik Sultan Demak IV (Baca catatan saya Jaka Tingkir : Damar Shashangka) segera membaw Arya Pangiri secepatnya ke Jepara. Keselamatan Arya Pangiri tengah terancam dan Ratu Kalinyamat tahu betul siapa dalang dibalik pembunuhan keluarga Sultan Demak, kakaknya itu.

Ratu Kalinyamat diam-diam juga membawa Keris Kyai Brongot Setan Kober yang menancap ditubuh jenazah misterius yang dapat dipastikan adalah salah seorang pembunuh Sultan Demak berikut permaisuri. Ratu Kalinyamat bertindak cepat. Dia tahu, di istana Demak dan ditubuh angkatan bersenjata Demak, sudah berkeliaran antek-antek Jipang Panolan. Sebelum bukti otentik pembunuhan tersebut dihilangkan oleh mereka-mereka yang pro Jipang Panolan, Ratu Kalinyamat mengamankannya terlebih dahulu.

Tidak ada orang lain lagi yang memiliki Keris Kyai Brongot Setan Kober kecuali Sunan Kudus. Dan konon kabarnya, keris ini telah diwariskan kepada Arya Penangsang begitu dia dikukuhkan secara sepihak sebagai Adipati Jipang Panolan.

Menurut kesaksian Arya Pangiri, pada malam itu dia tengah tidur bersama Rama dan Ibu-nya. Tapi mendadak, dia dibangunkan oleh ibunya ditengah-tengah tidur pulasnya. Dia disuruh masuk kebawah kolong ranjang dan diperintahkan tidak boleh keluar dan tidak boleh bersuara sedikitpun!

Arya Pangiri yang masih kecil dan penasaran ditengah ketercekamannya mencoba mengintip apa yang tengah terjadi. Dia melihat dua orang masuk ke kamar Rama-nya melalui pintu kamar setelah mencongkelnya. Arya Pangiri tahu, ada beberapa orang lagi yang tengah berada diluar kamar dan tidak ikut masuk.

Terjadi percakapan antara Rama-nya dengan salah seorang penyusup. Percakapan yang sempat didengar oleh Arya Pangiri adalah jawaban dari Ramanya :

“Bunuhlah aku. Akulah yang bertanggung jawab atas kematian paman Suryawiyata. Tapi jangan kalian ikut sertakan istriku!”

Setelah itu Arya Pangiri mendengar suara gaduh dan jeritan dari Rama dan Ibu-nya hamper bersamaan. Lantas terdengar suara Ramanya berteriak :

“Mengapa kamu ikut sertakan istriku!”

Suara gaduh terdengar kembali, diiringi erangaan kesakitan. Lantas lengang…

Arya Pangiri yang ketakutan baru berani keluar setelah prajurid Demak mengeluarkanya dari bawah kolong ranjang. Dan begitu melihat apa yang sebenarnya terjadi, maka Arya Pangiri menangis sejadi-jadinya. Diatas ranjang, Ramanya tengah rebah kebelakang dalam posisi bersila, dan tepat dibelakang Ramanya, Ibu-nya tengah rebah. Keduanya bermandikan darah.

Dari posisi kematian Sultan dan permaisuri, jelas terlihat, Sultan ditusuk keris hingga tembus punggung. Dan keris itu menghunjam pula ke tubuh permaisuri yang tengah merapatkan tubuhnya ke punggung Sultan! Jelas, sang permaisuri menyengaja untuk ikut mati bersama-sama dengan suaminya!

Sedangkan jenazah laki-laki misterius yang terkapar tak jauh dari pintu kamar, diduga tewas akibat lemparan keris yang dilakukan oleh Sultan sebelum menghembuskan nafas yang terakhir. Betapa kuatnya Sultan, dia menarik keris yang menancap di dadanya lantas melemparkannya tepat kepada salah seorang penyusup. Ditambah lagi dengan kondisi cacat mata, jelas Sultan Demak IV, bukan orang sembarangan!

Mendengar penuturan Arya Pangiri dan melihat bukti-bukti yang ada, Ratu Kalinyamat menyimpulkan, Sunan Kudus dan Arya Penangsang adalah sosok yang harus bertanggung jawab atas peristiwa pembunuhan itu! Para penyusup yang telah berhasil membunuh Sultan beserta permaisuri, adalah anggota pasukan khusus Jipang Panolan yang dikenal dengan nama Pasukan Sureng! Pasukan yang dilatih khusus untuk menyusup dan melakukan operasi pembunuhan! Pasukan ini memang sudah didengar oleh beberapa kalangan pejabat di Demak Bintara! Dan kini, kehebatan pasukan ini telah terbukti! Jipang Panolan tidak bisa dianggap remeh sekarang!

Ratu Kalinyamat segera mengambil tindakan tegas. Dia langsung mengukuhkan suaminya, Pangeran Hadiri atau Sunan Kalinyamat sebagai Sultan Demak V. Tindakan ini diambil karena dalam hukum yang dipakai pemerintahan Demak Bintara, seorang wanita diharamkan memimpin suatu pemerintahan! (Mengenai siapa Sunan Kalinyamat atau Pangeran Hadiri, silakan baca catatan saya Jaka Tingkir : Damar Shashangka).

Situasi politik Demak semakin memanas. Di pihak Pajang, persiapan-pun dilakukan! Karena sudah jelas, pihak Jipang Panolan sudah berani memulai aksinya! Bahkan terdengar kabar, beberapa daerah telah diserang oleh Jipang Panolan. Dan daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan, dimasukkan ke wilayah Jipang Panolan.

Jipang Panolan rupanya sudah siap untuk mendirikan sebuah Kesultanan baru yang lepas dari Kesultanan Demak Bintara!

Pembunuhan Sunan Kalinyamat

Setelah mengadakan musyawarah yang sangat serius dengan para pembesar Kesultanan, Ratu Kalinyamat beserta suaminya, Sunan Kalinyamat memutuskan untuk datang bertandang ke Pesantren Kudus.

Sunan Kudus memang masih menjabat sebagai salah seorang Penasehat Agung Kesultanan Demak. Jabatan ini bermakna politis. Namun disamping itu, sudah diketahui umum bahwa Sunan Kudus-pun adalah seorang pemimpin Pesantren yang memiliki banyak santri. Dia dianggap sebagai seorang sesepuh dan dituakan.

Sebagai seorang Penasehat, kedudukan Sunan Kudus memang masih dibawah kedudukan Sultan Demak, tapi kedudukannya sebagai seorang pemimpin Pesantren yang berbasiskan moral, maka dia dianggap sebagai seorang Guru. Seseorang yang patut dipatuhi dan patut dijadikan suri tauladan.

Oleh karena itulah, sengaja Sultan Demak V atau Sunan Kalinyamat beserta Ratu Kalinyamat, menyengaja datang sendiri ke Pesantren Kudus. Ini dimaksudkan, kedatangan mereka berdua lepas dari hierarki sebuah pemerintahan. Sultan Demak V beserta istri datang ke Pesantren Kudus sebagai seorang siswa yang tengah menghadap Gurunya, walaupun mereka bukan siswa langsung Pesantren Kudus.

Kedatangan rombongan Sultan Demak V mengejutkan seisi Pesantren Kudus. Mau tidak mau, walaupun kedatangan Sultan Demak V dan Ratu Kalinyamat bukanlah atas nama Kesultanan namun atas nama pribadi, tetap saja, kedatangan mereka memancing penyambutan yang meriah!

Para santri segera berjajar sembari menabuh rebana dan menyanyikan shalawat Nabi menyambut kedatangan rombongan Sultan!

Tepat pada waktu itu, banyak terlihat pasukan Jipang Panolan tengah berada disana! Baik Sultan Demak V maupun Ratu Kalinyamat, melihat itu. Para pasukan Jipang tidak satupun yang ikut melakukan penyambutan. Disudut halaman Pesantren, terlihat sebuah kuda berbulu hitam yang berhiaskan perhiasan-perhiasan indah. Ratu Kalinyamat tahu, itu adalah kuda kesayangan Arya Penangsang yang dikenal dengan nama Kyai Gagak Rimang. Berarti, saat ini, Arya Penangsang juga tengah bertandang ke Pesantren Kudus. Situasi yang agak tidak menyenangkan terjadi antara pasukan Demak dengan pasukan Jipang. Ratu Kalinyamat segera memerintahkan pemimpin pasukan agar memastikan, mengambil tempat terpisah dengan pasukan Jipang dan jangan mengambil tindakan apapun jika tidak ada perintah darinya!

Sunan Kudus beserta istri dan keluarga, menyambut kedatangan Sultan Demak V atau Sunan Kalinyamat beserta istri, Ratu Kalinyamat. Mereka berdua diterima di Pendhopo. Namun, tak tampak Arya Penangsang ikut menyambut kedatangan Sultan. Menyadari akan hal itu, Ratu Kalinyamat benar-benar merasa diremehkan dan ditantang!

Sultan Demak V beserta Ratu Kalinyamat memohon kepada Sunan Kudus agar bisa berbicara bertiga. Sunan Kudus mengabulkan. Dan mereka akhirnya menuju ruang dalam bertiga.

Setelah berbasa-basi berbagi keselamatan, maka Ratu Kalinyamat-pun segera menyampaikan maksud kedatangan mereka :

“Bapa Sunan, kedatangan kami kemari sesungguhnya ibarat kedatangan seorang murid kepada Guru-nya. Walaupun kami bukan murid resmi Pesantren Kudus, namun secara tidak langsung, kami menghargai Bapa Sunan sebagai Guru kami pula.”

Sejenak Ratu Kalinyamat diam, lantas :

“Dan, kami memandang Bapa Sunan adalah panutan kami, sosok yang memberikan suri tauladan bagi kami. Jadi, sekiranya kami meminta keadilan kepada Bapa Sunan, bukankah itu juga sudah sewajarnya?”

Sunan Kudus tersenyum, dan menjawab :

“Memberikan keadilan adalah kewajiban seorang Sultan. Aku bukan seorang Sultan, anakmas Sunan Kalinyamat-lah seorang Sultan. Dia yang seharusnya berhak memberikan keadilan.”

Ratu Kalinyamat tersenyum, dan berkata :

“Bukan keadilan dari seorang Sultan yang tengah kami harapkan, tapi keadilan dari seorang Guru kepada muridnya yang telah berbuat dosa!”

Sunan Kudus terdiam.

Ratu Kalinyamat mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus kain putih dari dalam peti kayu berukir yang dia bawa. Benda terbungkus kain putih tersebut dipegangnya dengan tangan kanan, lalu dibuka penutup kainnya…

Sunan Kudus memincingkan mata melihat isi didalam bungkusan kain putih tersebut…

Dan Ratu Kalinyamat kembali berkata :

“Kami tahu pemilik benda ini kini tengah bersembunyi bagai seorang pengecut diruang belakang Pesantren. Kami meminta keadilan Bapa Sunan kepada pemilik benda ini. Pastinya, Bapa Sunan mengerti apa maksud kami!”

Tegas suara Ratu Kalinyamat.

Sunan Kudus menarik nafas. Dilihatnya benda yang ditunjukkan oleh Ratu Kalinyamat tak lain adalah Keris Kyai Brongot Setan Kober. Keris pusaka miliknya yang kini telah diwariskan kepada Arya Penangsang.

“Saya bukan seorang Sultan…!” Sunan Kudus tiba-tiba berkata.

“Keadilan dari seorang Guru! Bukan dari seorang Sultan!”, potong Ratu Kalinyamat berani!

Kembali Sunan Kudus terdiam.

Dan pada akhirnya, Sunan Kudus menyanggupi untuk memberikan keadilan kepada Arya Penangsang. Namun memberikan sebuah keadilan tidak segampang membalikkan telapak tangan. Sunan Kudus menjanjikan, tujuh hari lagi, Sunan Kudus akan menyerahkan Arya Penangsang ke Demak untuk menerima hukuman Qisas atau hukum mati pancung kepala jika memang terbukti Arya Penangsang adalah dalang pembunuhan Sultan Demak IV atau Sunan Prawata!

Ratu Kalinyamat maupun Sunan Kalinyamat, walaupun meragukan kesungguhan Sunan Kudus, terpaksa menerima janji tersebut. Dan keduanya akhirnya mohon diri.

Begitu Ratu Kalinyamat dan Sunan Kalinyamat telah meninggalkan Pesantren Kudus, Arya Penangsang menghadap Sunan Kudus. Dia menanyakan kebenaran janji yang telah diucapkan Sunan Kudus barusan. Dan Sunan Kudus berkata :

“Menurut hukum syariat, jika terjadi pembunuhan, dan keluarga korban menuntut, maka tidak ada alasan untuk menolak pelaksanaan hukum Qisas atau pancung kepala. Kecuali keluarga korban mau menerima diyat atau harta pengganti dari sang pembunuh sebagai wujud perdamaian antara kedua belah pihak.”

Arya Penangsang menukas :

“Dan tidak mungkin Nimas Kalinyamat mau menerima diyat dari saya. Maka sekalian, untuk menyingkirkan lawan-lawan saya sekaligus menghindari jatuhnya hukuman mati kepada saya, maka akan saya bungkam mulut Nimas Kalinyamat untuk selamanya agar tidak bisa menuntut saya lagi!”

Sunan Kudus terdiam. Lantas berkata :

“Terserah kamu! Tapi lakukan diluar wilayah Kudus!”

Arya Penangsang menyembah lantas bergegas keluar menemui Patih Matahun, Patih sepuh Jipang Panolan. Arya Penangsang memerintahkan, melakukan penghadangan rombongan Sultan Demak V. Dan perintah utamanya adalah : BUNUH SUNAN KALINYAMAT BESERTA RATU KALINYAMAT!

Setelah menerima perintah, Patih Matahun segera menyiapkan seluruh pasukan Jipang Panolan. Tidak memakan waktu lama, pasukan Jipang Panolan segera berangkat! Kuda-kuda digebrak nyalang menimbulkan bunyi ringkikan riuh rendah bercampur teriakan-teriakan komando!

Pasukan Jipang, bergerak menyusul rombongan Sultan Demak V! Tujuannya jelas MENYINGKIRKAN RATU KALINYAMAT DAN SUNAN KALINYAMAT HARI ITU JUGA!

Sekali lagi, darah akan tertumpah dibumi Jawa!

Tentang iklan-iklan ini
, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 360.683 pengikut lainnya.