About these ads

Ki Ageng Pengging (4)

6 Februari 2010

Spiritualism

Ki Ageng Pengging | Akhir Hidup Ki Ageng Pengging

Sunan Kudus bertanya.

“Ana Curiga kalawan Warangka. Yen mung katon Warangka, aneng ngendi Curiganira?”

(Ada Keris dan Warangka. Manakala hanya terlihat Warangka, dimanakah Kerisnya ?)

Ki Ageng Pengging menjawab,

“Amanjing Warangka. Manunggal anyawiji!”

(Masuk kedalam Warangka. Manunggal menjadi satu!)

Sunan Kudus tersenyum, lantas bertanya lagi.

“Yen mung katon Curiga, aneng ngendi Warangkaneki?”

(Manakala hanya terlihat Keris, dimanakah Warangkanya? )

Ki Ageng Pengging menjawab.

“Amanjing Curiga. Manunggal anyawiji!”

(Masuk ke dalam Keris. Manunggal menjadi satu ! )

Kemudian Sunan Kudus bertanya.

“Yen musna ilang lelorone, dumunung ing ngendi?”

(Manakala hilang musna keduanya, berada dimanakah?)

Ki Ageng Pengging menjawab.

“Dumunung aneng Urip!”

(Berada didalam Hidup!)

Sunan Kudus tertawa. Lantas dia bertanya lagi..

“Ana ing ngendi dununging Urip?”

(Dimanakah tempat kediaman Hidup?)

Ki Ageng pun menjawab.

“Ana Ing Galihing Kangkung,
Ana Ing Gigiring Punglu,
Ana Ing Susuhing Angin,
Ana Ing Wekasaning Langit.

(Berada di inti tumbuhan Kangkung,
Berada di sudut Pelor,
Berada di Kediaman Angin,
Berada di akhir Langit. )

(Tumbuhan Kangkung berlobang dibagian tengahnya, lantas dimanakah intinya tumbuhan kangkung? Pelor atau mimis jaman dulu, berbentuk bulat, lantas dimanakah sudutnya? Angin senantiasa bergerak, lantas dimanakah kediamannya ? Langit tanpa batasan, lantas dimanakah akhir langit? Inti Kangkung, Sudut Pelor, Kediaman Angin dan Akhir langit, disitulah tempat kedudukan Hidup berada. : Damar Shashangka )

Kembali Sunan Kudus tersenyum, dan Sunan Kudus belum puas. Kembali dia melempar pertanyaan.

“Yen ilang Alip, lebur marang Lam Awal lan Lam Akhir. Ilang Lam Awal lan Lam Akhir, lebur marang Ha’. Yen lebur Ha’ dumunung aneng ngendi?”

(Jika hilang huruf Alif, maka lebur kedalam Lam Awwal dan Lam Akhir. Jika hilang Lam Awwal dan Lam Akhir, lebur kedalam Ha’. Jika lebur Ha’, berada dimanakah ? )

Ki Ageng menjawab.

“URIP!”

(Hidup!)

Sunan Kudus menyela.

“ALIP Jisimingsun!”

(ALIP Jasad-Ku! )

Ki Ageng menyela juga.

“ANG Raganingsun!”

(ANG Raga-Ku! )

Sunan Kudus menyela lagi.

“LAM AWAL lan LAM AKHIR Napsuningsun!”

(LAM AWWAL dan LAM AKHIR Nafs-Ku! )

Ki Ageng menyela juga.

“UNG Suksmaningsun!”

(UNG Suksma-Ku ! )

Sunan Kudus menimpali lagi.

“HU Ruhingsun !”

(HU Roh-Ku ! )

Ki Ageng menimpali juga.

“MANG Atmaningsun!”

(MANG Atma-Ku ! )

Sunan Kudus.

“ALLAH Asmaningsun!”

(ALLAH Nama-Ku ! )

Ki Ageng Pengging.

“HONG Asmaningwang!”

(HONG Nama-Ku ! )

Sunan Kudus.

“ALIP, LAM AWAL, LAM AKHIR, HU…………ALLAH!”

Ki Ageng Pengging.

“ANG, UNG, MANG………….HONG!”

ANG,UNG,MANG, HONG (AM,UM,MAM,AUM)

Sunan Kudus diam. Lantas menantang secara halus.

“Yen tebu weruh legine, yen endhog weruh dadare!”

(Apabila Tebu nyata manisnya, apabila telur nyata isinya!”

(Ungkapan ini adalah ungkapan khas Jawa, yang maksudnya meminta bukti nyata dari semua yang telah diucapkan : Damar Shashangka )

Ki Ageng tersenyum dan berkata : “ Sumangga ing karsa..” ( Silakan..)

Ki Ageng Pengging lantas bersendekap dan meminta Sunan Kudus memperhatikan titik diantara kedua alis mata beliau. Lantas, Ki Ageng memejamkan mata.

Sunan Kudus awas, dia lekat memperhatikan titik diantara kedua alis mata Ki Ageng Pengging. Suasana mendadak berubah, ruangan dimana Sunan Kudus berada, terasa hampa, senyap dan seolah tanpa suara sama sekali. Beberapa detik kemudian, Sunan Kudus mendadak tersentak manakala dia melihat cahaya terang nan lembut memancar dari titik diantara kedua mata Ki Ageng Pengging!

Cahaya yang lembut itu menerobos kesadaran Sunan Kudus. Dan disana, ditengah hempasan cahaya tersebut, Sunan Kudus melihat dirinya berada disana. Sejenak kemudian berubah menjadi wujud Ki Ageng Pengging, lantas berubah lagi menjadi wujudnya!

Sunan Kudus menutup mata, namun penampakan itu menembus kelopak matanya yang terpejam. Sunan Kudus lantas berkata.

“Aku percaya nakmas Pengging…Sudah cukup!”

Ki Ageng Pengging tersenyum, dan cahaya lembut yang memancar dari titik ditengah kedua alis matanya tersebut, mendadak sirna tanpa bekas.

Sunan Kudus membuka matanya dan menatap Ki Ageng Pengging tajam, sembari berkata.

“Kabarnya, nakmas Pengging mampu MATI SAJERONING URIP. URIP SAJERONING PATI ?”

Ki Ageng Pengging menjawab.

“Kangjeng Sunan, saya tahu, Kangjeng Sultan Demak menganggap saya sebagai ‘klilip’ (Penghalang) beliau. Tidak usah berbasa-basi lagi. Saya siap mati sekarang. Saya bisa mengakhiri kehidupanku saat ini juga. Tapi, kalau saya melakukannya, sama saja dengan bunuh diri. Bunuh diri dalam keyakinan Shiwa maupun Islam, adalah hal yang tercela. Untuk itu, jadilah perantara kematianku!”

Sunan Kudus terdiam.

“Cabutlah keris Kangjeng,” lanjut Ki Ageng Pengging, “tusukkan siku kananku ini. Disaat ujung keris Kangjeng menancap disikuku ini, saat itulah, aku akan melepaskan suksma dan Atmaku dari jasadku. Silakan!”

Sunan Kudus segera mencabut kerisnya. Sedangkan Ki Ageng Pengging sejenak bersendekap memejamkan mata. Disusul, beliau angkat siku kanannya kedepan. Sunan Kudus menusukkan kerisnya kesiku Ki Ageng Pengging. Dan disaat itulah, Ki Ageng Penggin melepaskan suksma dan Atmanya!

Tubuh Ki Ageng Pengging rebah ke kanan. Sunan Kudus memeriksa detak jantung Ki Ageng Pengging, dan Sunan Kudus yang sudah berpengalaman yakin, bahwa Ki Ageng Pengging telah wafat. Sejenak beliau membenahi jasad Ki Ageng, lantas Sunan Kudus keluar dari bilik Dalam Agung.

(Silakan membaca cerita ini langsung dari Babad Tanah Jawa untuk perbandingan : Damar Shashangka )

Sesampainya diluar, Sunan Kudus segera memerintahkan prajurid Demak berkemas. Sunan Kudus dan para prajurid Demak, tanpa banyak berkata-kata, segera meninggalkan Dalem Ki Ageng Pengging.

Didalam bilik Dalem Agung, tepat pada saat itu, pelayan yang hendak menyediakan hidangan mohon masuk. Tapi tidak ada jawaban. Bergegas dia lari memanggil Nyi Ageng Pengging. Istri Ki Ageng Pengging berlari tergopoh-gopoh ke Dalem Agung, memancing perhatian beberapa prajurid Pengging. Karena tidak ada jawaban juga saat Nyi Ageng Pengging mohon masuk, maka segera saja beliau menerobos ke dalam. Dan terkejutlah Nyi Ageng Pengging melihat Ki Ageng Pengging telah terbujur kaku menjadi mayat!

Nyi Ageng Pengging jatuh pingsan. Beberapa prajurid Pengging tanpa dikomando segera berhamburan menaiki kuda masing-masing, menyusul rombongan Sunan Kudus.

Para Lurah Prajurid Pengging menyusul kemudian. Bendhe Beri ( Gong kecil yang dibunyikan untuk mengumpulkan para prajurid : Damar Shashangka ), suaranya riuh rendah bercampur dengan pukulan kentongan bertalu-talu. Masyarakat Pengging yang sudah siap sedia sejak semalam, baik yang sudah ada disekitar Dalem Ki Ageng Pengging maupun yang masih ada dirumah masing-masing, segera menaiki kuda masing-masing sembari membawa persenjataan perang lengkap!

Di pihak pasukan Demak, mendapati Bendhe Beri dan Kentongan berbunyi bertalu-talu, segera mempersiapkan diri. Walau belum tahu pasti apa yang terjadi, mereka telah siap sedia jika prajurid Pengging menyerang!

Rombongan Sunan Kudus tersusul. Rombongan kecil Senopati Demak itu segera di kepung prajurid Pengging! Prajurid Pengging telah siap tempur! Senjata telah terhunus nyalang! Dada para prajurid Pengging bergemuruh mendidih!

Sunan Kudus memerintahkan seorang prajurid Demak mengibarkan bendera merah! Tanda bagi seluruh pasukan Demak yang ada disudut-sudut Pengging untuk siap tempur! Suasana tegang!

Bendera merah berkelebat-kelebat, disusul dari kejauhan, empat orang prajurid Demak mendadak muncul sembari memacu kuda dengan mengibarkan bendera serupa. Keempatnya meneruskan perintah Sunan Kudus yang tengah terkepung kepada para pasukan yang siap sedia disudut-sudut Pengging!

Isyarat itu terlihat oleh para pemimpin pasukan Demak, baik yang ada diutara, timur, selatan dan barat! Serta merta, seluruh pasukan Demak keluar dari tempat persembunyiannya. Bergemuruh suaranya! Diiringi pekikan-pekikan nama Tuhan! Seperti kebiasaan mereka!

Para prajurid Pengging yang mengepung Sunan Kudus, hanya melihat sepasukan dari dua arah, namun mereka mendengar suara pekikan-pekikan pasukan lain yang tak terlihat berada diseberang wilayah mereka. Mereka menyadari, posisi mereka kini terkepung! Wilayah Pengging benar-benar terkepung!!

“Heh kalian rakyat Pengging!! Kaliah hanya rakyat biasa! Ini urusan orang besar! Kembalilah pulang ke rumah masing-masing!!” Teriak Sunan Kudus!

Seorang Lurah Prajurid Pengging maju beberapa langkah dengan kudanya.

“Bagi kami lebih baik mati bersama junjungan kami!”

Sunan Kudus menjawab.

“Ingat posisi kalian! Kalian sudah terkepung! Dan ingat pula akan anak istri kalian! Jika pasukan Demak menyerang, seluruh wilayah ini akan dibakar! Kalian boleh berani menumpahkan darah kalian! Tapi apakah kalian juga akan tega melihat anak istri kalian ikut menjadi korban !?”

Nyali prajurid Pengging menciut begitu mendengar gertakan Sunan Kudus! Seketika mereka teringat akan anak istrinya yang kini juga tengah terkepung dan terancam! Seluruh pasukan Pengging menjadi gamang! Sunan Kudus melihat itu semua, lantas Sunan Kudus berkata lagi.

“Sarungkan senjata kalian! Urusan kami hanya dengan Ki Ageng Pengging! Uruslah jenazah junjungan kalian! Kangjeng Sultan Demak, akan memberikan pengampunan bagi kalian semua!”

Kepanikan melanda prajurid Pengging. Bayangan anak dan istri mereka membuat keberanian mereka menciut! Dan, Lurah Prajurid Pengging yang paling senior segera memerintahkan seluruh prajurid Pengging menyarungkan senjata. Disusul, Lurah Prajurid Pengging memerintahkan memberikan jalan kepada rombongan Sunan Kudus yang terkepung.

Sunan Kudus segera memerintahkan pasukan bergerak kedepan! Bendera putih kini dikibarkan! Disusul beberapa prajurid dari kejauhan kembali meneruskan pesan itu sembari membawa bendera putih juga! Dan pemimpin pasukan Demak yang telah bersiap-siap diposisi masing-masing, begitu melihat bendera merah berganti bendera putih, segera memerintahkan pasukan masing-masing untuk menyarungkan senjata!

Pekik nama Tuhan berkumandang berkali-kali! Pasukan Demak merasa telah memenangkan pertempuran atas berkat Tuhan!

Dipihak lain, prajurid Pengging masih menyimpan bara amarah! Seandainya mereka berhadap-hadapan digaris depan seperti saat peperangan Majapahit dan Demak dulu, pasti mereka tak segan-segan menumpahkan darah!

Terdengar teriakan Lurah Prajurid Pengging memerintahkan seluruh prajurid kembali ke Pengging.

Duka menyelimuti Pengging. Jenasah Ki Ageng Pengging segera disucikan. Upacara Sraddha tergelar. Para Pandhita Shiwa Buddha berdatangan. Pengging berkabung! Para sisa bangsawan Majapahit, mendengar kabar wafatnya Ki Ageng Pengging, segera menuju Pengging. Upacara pembakaran mayat-pun dilaksanakan.

Sebulan setelah wafatnya Ki Ageng Pengging, Nyi Ageng Pengging yang jatuh sakit, menyusul. Beliau wafat! Kembali Pengging berduka. Mendung menyelimuti Pengging.

Mas Karebet, menjadi yatim piatu. Dan Nyi Ageng Tingkir, janda Ki Ageng Tingkir, membawa Mas Karebet kecil ke Tingkir. Mas Karebet diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir. Mas Karebet lantas dikenal dengan nama JAKA TINGKIR.

Kelak dikemudian hari, Mas Karebet atau Jaka Tingkir, berhasil mendirikan Kesultanan Pajang dan menjadi Raja Tanah Jawa. Dan beliau bergelar SULTAN ADIWIJAYA.

(Selesai)

(9 Januari 2010, by Damar Shashangka)

About these ads
, , , , , , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 349.829 pengikut lainnya.