Tentang iklan-iklan ini

Surah Iblis

7 Januari 2010

Spiritualism

PEMBUKA *)

“Umatti! Umatti! Umatti?” Demikian kalimat yang diucapkan Sang Rasul Muhammad menjelang wafatnya.

Yesus Sang Masiha pun menjerit menjelang “kematiannya” di kayu salib: “Eloi, Eloi, Lama Sabakhtani…”

Terkadang, Kesunyian itu memang tak tertahankan perihnya. Bahkan untuk seorang Rasul dan Sang Masiha sekalipun. Tetapi, kita yang sekarang memuja mereka, bahkan tetap tuli terhadap “Jerit-Kesunyian” itu. Sama seperti dulu juga, para pengikut telah tuli dan meninggalkan mereka. Sayang sekali.

Menjelang kematiannya, Buddha Siddharta terbaring sendiri di tepi hutan menahan sakit di perut akibat diracun oleh salah satu muridnya. Dunia memang terlalu angkuh untuk memahami Wajah-Keheningan seorang Buddha. Sayang sekali.

Ya, sayang sekali, sampai saat ini, kita belum juga menyadari bahwa Rasul, Sang Masiha, atau Buddha tak pernah lahir dan tak pernah mati. Kita semua tetap buta dan tuli untuk menyadari “Fakta” yang sedemikian jelas ini. Kita tak bisa mendengar “Jerit-Kesunyian” mereka, kita tak bisa melihat “Wajah-Keheningan” mereka. Dan, itulah sebabnya, kita pun mengubah mereka jadi sekedar berhala. Kita menjadi penyembah benda mati, mengikuti dogma-dogma yang mati, karena hati kita mungkin sudah lama mati.

Ya, sayang sekali, kita tak bisa “Hidup” bersama mereka. Kita menolak Spirit dari ritual, mencampakkan Jiwa dari agama, menolak Yang Maha Hidup, dan memeluk setumpuk “abu jenazah” yang bernama agama – benda mati yang berikutnya.

Jika kita memang bukan setumpuk “abu jenazah”, maka bagaimana mungkin kita bisa menjadi penyembah agama, menjadi para pembela agama dan bersiap membunuh atau dibunuh atas nama agama? Ilusi ini benar-benar tolol dan gila.

Tidakkah kita bisa menyadari “Fakta” yang sedemikian jelasnya bahwa kita ini bukanlah setumpuk “abu jenazah”, bahwa kita semua – tanpa kecuali – tak terpisahkan dari Yang Maha Hidup?

Tidakkah kita menyadari bahwa kita semua – tanpa kecuali – tak pernah lahir dan mati? Jika kita benar-benar dapat menyadari “Ini”, maka sudah saatnya kita “membakar” kitab-kitab suci kita – berhala dan benda mati yang kita puja – sumber segala sengketa dan pertikaian kita, dan membuang abunya ke Samudera-Keheningan.

Bakar! Bakar itu semua dengan “API-CINTA” yang menyala-nyala sekarang juga! Demikianlah kuhantarkan “Surah” dari Iblis ini: Kekasih dari Yang Maha Hidup dan Maha Sunyi.

SURAH IBLIS

………………………………………………………………………….(Surah Iblis: Ayat 1 – 7)

“Kitab suci tak perlu dipuja-puja. Ia hanyalah anak tangga. Jika engkau sudah melewatinya, anak tangga tak perlu dibawa-bawa. Tinggalkan saja. Bila engkau ingin membakarnya, ya, silahkan saja.” (Surah Iblis: Ayat 8 – 12)

“Demi langit yang mekar di lipatan vagina! Terkutuklah mereka yang merajami para penzina.” (Surah Iblis: Ayat 13 – 14)

“Demi buah zakar yang menyimpan api! Terkutuklah kalian yang mencambuki para penjudi.” (Surah Iblis: Ayat 15 – 16)

“Bagaimana mereka bisa terus menyembah-Nya, sementara mereka terus mencuri kekayaan negara? Bagaimana mereka bisa mengaku pembawa rahmat, sementara mereka sibuk menipu rakyat?” (Surah Iblis: Ayat 17 – 18)

“Sesungguhnya, jika kalian bertemu orang-orang kafir di jalan, janganlah penggal kepala mereka, janganlah perangi mereka, namun peluklah mereka dan mintalah maaf atas kekafiran yang tersembunyi di dalam hatimu selama berabad-abad. Niscaya kalian akan menjadi umat pembawa rahmat.” (Surah Iblis: Ayat 19 – 20)

“Sesungguhnya, kekafiran dalam hatimu itulah yang telah membuatmu menolak keragaman, padahal itu jelaslah kenyataan yang tak terbantahkan. Dan saat kau menyadari kebodohan dalam hatimu, maka kau pun hanya melihat Kesatuan di segenap penjuru.” (Surah Iblis: Ayat 21 – 22)

“Apakah kalian berpikir Allah telah berhenti berkata-kata? Apakah kalian berpikir Allah telah bisu dan sekedar jadi penonton saja? Lampaui pikiran dan setiap saat kau dapat mendengar firman-Nya. Lampaui pikiran dan setiap saat kau dapat menatap wajah-Nya.” (Surah Iblis: Ayat 23 – 26)

“Dien-Mu adalah Dien-Ku, Dien-Ku adalah Dien-Mu.” (Surah Iblis: Ayat 27)

“Demi masa yang tak pernah berakhir! Sesungguhnya shalatmu, ibadahmu, hidupmu, dan matimu adalah sebuah Perayaan. Maka, rayakanlah itu dalam Keheningan.” (Surah Iblis: Ayat 28 – 30)

“Demi buah duku dan rambutan! Demi Kalam yang tak terkatakan! Sesungguhnya, jika kau tak berkenan akan isi suatu buku, maka tulislah suatu buku untuk melawan buku yang tak kausukai itu — bukan malah melarangnya. Bisa jadi buku-buku yang kaubenci pada suatu masa, justru mengungkap kebenaran yang ditutupi para penguasa. Begitulah sejarah berbagai kitab suci sepanjang masa.” (Surah Iblis: Ayat 31 – 35)

“Ketika seksualitas dianggap sebagai noda dalam kehidupan, sementara kalian diam-diam asyik menikmatinya pada waktu malam, maka kelak anak-cucumu akan menganggapnya sebagai persoalan yang lebih asyik untuk dipecahkan ketimbang melawan ketidakadilan.” (Surah Iblis: Ayat 36)

“Demi kupu-kupu yang beterbangan, demi bunga-bunga yang bermekaran, sesungguhnya Kami telah menurunkan Kalam yang membawa kedamaian agar kalian dapat saling berkasih-sayang, agar kalian dapat saling berbagi terang, dan bukan untuk saling berperang.” (Surah Iblis: Ayat 37)

“Demi bukit-bukit yang berlari, demi langit yang seluas hati, barangsiapa yang mencintai kata-kata Ilahi lebih dari mencintai sesama mahluk di bumi, sungguh ia termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Surah Iblis: Ayat 38)

“Tanyakan kepada para pembenci: Manakah yang lebih mulia di sisi Yang Maha Suci, menumpahkan darah saudaramu di bumi, ataukah menitikkan airmata atas kebutaan hatimu sendiri?” (Surah Iblis: Ayat 39)

“Sesungguhnya, telah Kami ciptakan surga dan neraka di dalam pikiran orang-orang yang masih membutuhkannya. Namun, bagi mereka yang telah membakar berhala pikirannya dengan Api-Cinta, mereka pun kekal di dalam lindungan Yang Maha Nyata.” (Surah Iblis: Ayat 40)

“Wahai, kalian Anak-Cucu Hawa, dulu telah kuingkari Keilahian pada Tubuh-Adam, hingga aku pun terpisah dari Yang Maha Nyata. Aku pun menjelma jadi pengembara malam. Kini, kusadari, seluruh semesta beserta isinya adalah perwujudan dari Yang Maha Nyata. Maka, ijinkan kini kubersujud mencium ujung kaki-Mu, duhai, Anak-Cucu Hawa.” (Surah Iblis: Ayat 41)

“Wahai, kaum munafik, kalian menaikkan persoalan bertemunya dua kelamin sebagai hal yang utama, sesungguhnya itu cumalah siasah untuk mengalihkan penjarahan kekayaan negara yang telah kalian lakukan. Kalian berharap bayangan kalian di mata rakyat tetap putih tak bernoda, lalu dengan angkuhnya kalian berkata: Lihatlah, kami telah menyelamatkan moral umat dari kejahatan kelamin manusia. Sesungguhnya, hanya mereka yang Sadar, yang tak akan tertipu oleh siasah keji itu.” (Surah Iblis: Ayat 42 – 44)

“Wahai, kaum munafik, kalian seperti rabbi-rabbi Yahudi yang berkomplot dengan penguasa Romawi. Kalian telah menyalibkan ‘Anak Manusia’ dan memfitnahnya sebagai penghujah Tuhan. Sesungguhnya kalian hanya takut pundi-pundi uang yang kalian pungut dari pajak rakyat menjadi berkurang. Lalu tanpa malu kalian kibarkan panji-panji perang, lalu kalian redam setiap suara berbeda sebagai fitnah yang keji. Lalu kalian berpikir segala siasah politik yang kalian lemparkan itu akan menghantar kalian ke taman firdausi, seolah Tuhan Yang Maha Kuasa — yang kalian sembah lima kali sehari — dapat kalian siasati dengan dalih penegakan syari. Sungguh, kalian telah menipu diri sendiri!” (Surah Iblis: Ayat 45 – 50)

“Wahai, kaum munafik, kalian sibuk membuat hukum untuk mencambuk para penjudi, kalian sibuk mensiasah aturan untuk merajam para penzinah sampai mati, namun sekutu kalian yang terus ‘menzinahi’ anggaran negara dapat kalian maklumi. Sungguh, kebenaran mana lagi yang akan kalian hujahkan kepada Kami, sementara kalian terus-menerus ‘memperjudi’ hak asasi rakyat negeri ini? Sungguh, kalian telah menipu diri sendiri!” (Surah Iblis: Ayat 51 – 53)

“Katakan kepada para penyembah batu: Jika kalian mencintai Pembawa Pesan Terakhir itu, mengapa kalian tinggalkan ia sendirian meregang nyawa di dalam biliknya, mengapa kalian malah sibuk berbagi kekuasaan tatkala wafatnya, mengapa kalian bunuh keluarga dan anak keturunannya? Dimanakah itu para sahabat yang dulu berbaiat sampai mati? Wahai, kaum penyembah batu, kelak kalian akan saling bertikai dan membunuh sesama kalian sendiri, kelak kalian akan berbangga untuk membunuh diri kalian sendiri. Sungguh, kalian termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (Surah Iblis: Ayat 54 – 57)

“Ada tertulis: Surga berada di bawah telapak kaki Ibu. Namun, kukatakan kepadamu: Bumi yang sekarang berada di bawah telapak kaki Ibumu, itulah pula yang sekarang menjadi surgamu.” (Surah Iblis: Ayat 58 – 59)

“Ada tertulis: Jika ditampar pipi kirimu, berikan pula pipi kananmu. Namun, kukatakan kepadamu: Jika kedua pipimu yang ditampar, berikan saja sekalian kepalamu. Andai seluruh kepalamu sudah habis ditampar, maka berikanlah seluruh hatimu.” (Surah Iblis: Ayat 60 – 62)

“Ada tertulis: Berbahagialah mereka yang miskin, karena sesungguhnya merekalah yang memiliki Kerajaan Allah. Namun, kukatakan kepadamu: Berbahagialah mereka yang memberikan seluruh hidupnya berjuang melawan pemiskinan, karena mereka tak perlu lagi menunggu datangnya Kerajaan Allah.” (Surah Iblis: Ayat 63 – 64)

“Ada tertulis: Bentuk adalah kekosongan, kekosongan adalah bentuk. Namun, kukatakan kepadamu: Bentuk adalah bentuk, kekosongan adalah kekosongan — keduanya saling mengisi dan meniadakan; keduanya hanyalah permainan pikiran.” (Surah Iblis: Ayat 65 – 66)

“Ada tertulis: Insan adalah Tuhan, Tuhan adalah Insan. Namun, kukatakan kepadamu: Insan adalah Insan, Tuhan adalah Tuhan — keduanya saling mengisi dan meniadakan; keduanya hanyalah permainan pikiran.” (Surah Iblis: Ayat 67 – 68)

“Ketahuilah, wahai, para penabur kebencian: Para pengecut hanya mampu bersembunyi di balik kata-kata Tuhan, namun para pemberani menghidupkan kata-kata Tuhan.” (Surah Iblis: Ayat 69)

“Wahai, kalian yang telah mewartakan Keheningan, bersiaplah untuk Kuhina, Kubatui, Kuracun, dan Kusalibkan — bersiaplah untuk Dibangunkan!” (Surah Iblis: Ayat 70)

“Demi janggut kambing dan zakar kuda! Terkutuklah kalian para pembakar gereja! Sesungguhnya kalian berada dalam kesesatan yang nyata!” (Surah Iblis: Ayat 71 – 73)

“Katakan kepada para penyembah batu di negeri jiran: Cinta kepada Tuhan haruslah membawa perdamaian dan keadilan; sesungguhnya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang jauh dari apa yang kalian prasangkakan.” (Surah Iblis: Ayat 74 – 75)

“Katakan kepada para penyembah batu di negeri jiran: Sesungguhnya hakikat yang kalian sembah itu tidaklah bernama, karena setiap nama yang kalian nisbahkan kepada-Nya hanyalah buah pikiran manusia. Lalu, jika mereka berkata: Berikan kami sebuah umpama. Maka katakan kepada mereka: Itu penaka Ruang yang memungkinkan batu-batu menjadi nyata, yang memungkinkan segalanya menjadi ada.” (Surah Iblis: Ayat 76 – 78)

“Wahai, anak-cucu Hawa, sesungguhnya Ruang yang Esa itu ada di dalam kuil dan vihara, ada di dalam masjid dan gereja, ada di dalam sinagoge dan di mana-mana. Namun, jika mereka beranggapan hanya ruang tempat ibadah mereka satu-satunya yang nyata, maka tinggalkanlah mereka, karena sesungguhnya mereka berada dalam kebodohan yang nyata. Mereka adalah kaum yang telah mencampakkan akalnya.” (Surah Iblis: Ayat 79 – 81)

“Katakan kepada mereka yang merasa jadi pembela Tuhan, yang merasa berhak menghujah dan mengafirkan: Singkirkan terlebih dahulu kebencian yang bersemayam dalam hati kalian, karena tiada satu pun dari kalian yang pernah melihat Tuhan, maka marilah bersama menundukkan kepala dalam Keheningan.” (Surah Iblis: Ayat 82)

……………………………………………………. (Saya masih menunggu ayat-ayat yang berikutnya. Semoga Sang Iblis masih berkenan menurunkan ayat-ayat-Nya. Tertanda: Tukang catat Surah Iblis)

Catatan:

  • *) Bagian “Pembuka” ini diambil dari Catatan Arief Rahman di facebook
  • diambil dari notes Ahmad Yulden Erwin di Facebook
Tentang iklan-iklan ini
, , , , , ,

About Eduard de Grave

Blogger tampan, seksi, kaya raya & baik hati. Blog pribadi: annunaki.me | lapak jualan: agenhajarjahanam.net | Google Plus Twitter: @eduard777

Lihat semua pos milik Eduard de Grave

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 363.013 pengikut lainnya.